Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
Bab 69


⛅ Selamat membaca ⛅


Nyonya Arimbi keluar menuju ruang tamu untuk melihat menantu dan mantan menantunya.


"Apa yang kalian ributkan?" --- "Gerry kau tahu jika istrimu tidak boleh terlalu banyak pikiran."


Dalam batin Rian tersenyum senang, melihat rivalnya mendapat teguran. Bahkan senyum sangat tipis sempat menghiasi bibir tebal Rian.


"Maaf Bu, Gerry hanya ingin melindungi Zafrina."


"Dari ayah kandungnya?" tanya nyonya Arimbi namun mampu mengoyak sekeping hati milik Gerry. Seolah kata kata dari ibu mertuanya menganggap Gerry berlebihan memperlakukan Rian.


"Baiklah, semua terserah kalian saja." Gerry berlalu dari rumah kakek Kusuma. Ia tak berencana menyusul istrinya. Ia butuh waktu untuk menghilangkan rasa sesak di dadanya. Bahkan Gerry melupakan tujuan dirinya mencari Dian.


Nyonya Arimbi merasa bersalah sudah berkata demikian pada menantunya. Namun ia juga tidak ingin membatasi hubungan Zafrina dengan Rian. Karena bagaimanapun pria itu juga memiliki hak yang sama meski dulu pernah melakukan kesalahan.


Tapi keluarga Dian memang orang yang begitu mudah memaafkan. Mereka sama sekali tak pernah menyimpan dendam.


"Maafkan saya nyonya. Membuat situasi menjadi buruk." Ujar Rian penuh penyesalan. Disaat yang bersamaan ponsel Rian berdering. Panggilan masuk dari tangan kanannya.


"Ada apa Dev?"


"Tuan nyonya Selena masuk rumah sakit. Dia juga melakukan percobaan bunuh diri. Sekarang kondisinya kritis."


"Baiklah, aku akan kesana setelah urusanku disini selesai."


Nyonya Arimbi menatap Rian penuh tanda tanya besar. Apa memang sifat pria itu begitu kaku dengan orang lain. Nyonya Arimbi seperti melihat dua kepribadian dalam diri Rian.


"Maafkan saya nyonya, ada sedikit masalah. Apakah boleh saya mengajak Zafrina bermalam di kediaman saya?"


"Baiklah, tapi semalam saja. Jangan dua malam. Karena besok acara pernikahan Nino digelar, Apa kau keberatan?" tanya nyonya Arimbi. Rian tersenyum sembari menggeleng.


"Tentu tidak, terimakasih nyonya." Ujar Rian.


"Semoga ibumu lekas sembuh." Doa nyonya Arimbi. Dia menyuruh bi Esih untuk mempersiapkan kebutuhan Zafrina. Dan meminta bi Esih untuk ikut dengan Rian.


Rian pun tak keberatan asalkan Zafrina bisa Rian bawa untuk menemui ibunya yang sedang terbaring sakit.


.


..


Dian yang baru selesai mandi merasa heran kenapa Gerry tidak menyusulnya. Apakah suaminya itu marah pada dirinya? Namun entah mengapa kali ini Dian seolah tak peduli. Mungkin itu bawaan bayinya. Namun sejak tadi hati dan pikirannya terus bergolak antara meminta maaf pada suaminya atau mendiamkannya.


Dian memilih turun menemui ibunya.


"Ibu dimana Zafrina?" tanya Dian.


"Zafrina ikut Rian ke kediamannya. Sedang suamimu sepertinya dia marah mendengar ucapan ibu." Dian membuang nafas kasar.


Ia pun keluar dari mansion menuju ke mansion Gerry. Semua pelayan tampan menunduk hormat pada Dian.


Dian masuk ke mansionnya lewat pintu samping. Namun ia terkejut mendapati Gerry Duduk di minibar meminum alkohol. Kepala pria itu terkulai diatas meja bar.


Entah mengapa hati Dian begitu marah, ia dengan segera menghampiri Gerry dan merebut gelas kristal dari tangan Gerry dan membantingnya dilantai. Hingga menimbulkan dentingan yang begitu nyaring. Semua pekerja nampak berlarian menuju sumber suara, namun langkah mereka terhenti saat Dian memberi isyarat tangan pada semuanya agar meninggalkan tempat itu.


"Kamu benar-benar sudah membuat aku kecewa mas." Kata Dian. Gerry tersenyum sinis.


"Apa yang membuatmu kecewa? Apa karena kau terlalu cepat menerimaku hingga kau menyesal telah melepaskan Rian Al Fares?"


Plak ..!!


Sebuah tamparan berhasil mendarat di pipi kanan Gerry.


"Kau benar, aku kecewa karena memilih lelaki seperti dirimu. Kau orang yang tidak mau belajar dari kesalahanmu terdahulu. Kau begitu egois. Aku menyesal memberimu kesempatan." Ujar Dian. Air matanya kini berderai membasahi wajah cantiknya Gerry sesaat tertegun melihat air mata Dian. Kesadaran Gerry kembali seutuhnya. Dia berniat menggenggam jemari Dian namun langsung seketika Dian menepisnya.


"Maaf, maafkan aku sayang."


"Aku lelah memaafkan dirimu mas. Tapi kamu lagi dan lagi kembali menyakitiku." Dian berbalik hendak meninggalkan Gerry. Tapi pria itu justru berlutut memegangi kaki Dian.


⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅


Nah loh Gerry bikin Dian marah. Enaknya diapain ya. Ini belum soal biaya rumah sakit Selena aja udah bikin snewen.


jangan lupa like, vote dan give me your flower