
*********
Selin dan Didi sedang berjalan-jalan menyusuri perkebunan milik nenek Eliana. Perkebunan yang sebenarnya dulu milik keluarga Didi juga. Tapi sekarang sudah berpindah tangan menjadi milik Eliana nenek Selin.
Selin dan Didi berjalan menyusuri parit, sesekali Selin duduk dan bermain air. Tawanya begitu lepas. Sesaat dia melupakan masalah Archel. Dia hanya ingin menikmati kebahagiaan yang baru saja di rengkuhnya.
"Kau ini seperti anak kecil." Ujar Didi menatap Selin yang memainkan air ditangannya. Selin tersenyum mendengar ucapan Didi.
Setelah puas Selin kembali berjalan dan tak lupa menggandeng tangan Didi. Mereka tiba di kebun strawberry.
Selin memetik beberapa buah dan menyuapkan strawberry itu ke mulut Didi. Namun Didi menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Ayolah ini sangat manis, cobalah." Didi menggeleng, sejak kecil dirinya tidak menyukai buah berwarna merah itu.
"Ck .. kau masih sama seperti dulu. Tidak menyukai strawberry. Padahal aku sangat menyukainya." Dengus Selin kesal.
Namun bukannya menanggapi kekesalan Selin, Didi justru fokus dengan kata dulu yang Selin ucapkan.
"Sejak kapan kau mengetahui aku tidak menyukai strawberry?" tanya Didi penasaran.
"Apa kau benar-benar melupakan diriku? Uhm .. padahal sejak dulu aku selalu mengingatmu." Bibir Selin semakin mengerucut Didi yang gemas dengan wajah Selin, meraih dagu Selin dan melu*mat bibir tipis wanita yang telah menghadirkan seorang putri untuknya.
Didi melepas ciumannya lalu memandang Selin dengan intens. "Katakan sejak kapan kau tahu?" tanya Didi, namun Selin hanya menggeleng dan tersenyum.
"Aku ingin kau mengingatku tanpa harus aku ingatkan. Bukankah sedikit tidak adil? aku selalu mengingatmu sedangkan dirimu melupakan aku." Ujar Selin, ia berdiri dari posisi jongkoknya dan mengibaskan blouse nya.
Namun kemudian Selin berjongkok di depan Didi dan mengulurkan tangannya.
"Kakak aku lelah .." Desis Selin.
Deg ..!!
Didi seakan terhempas ke beberapa tahun yang lalu dimana seorang gadis kecil yang begitu mengesalkan mengulurkan tangannya. Sama seperti yang Selin lakukan saat ini.
Mata Didi menatap tak percaya. Ia mengerjap berulangkali memastikan yang ada dihadapannya adalah Selin. Namun yang ada dalam benak Didi adalah gadis kecil itu dengan senyum menawannya.
"K-kau .. benarkah?" Bahkan Didi sampai tergagap karena tak percaya.
Selin tersenyum miring, saat Didi mengingat dirinya. "Kenapa, ayo gendong aku. Aku lelah kak."
Didi menggendong Selin di punggungnya. Selin melingkarkan tangannya ke leher Didi. Kepala Selin bersandar di pundak Didi.
"Aku merindukan saat itu. Dimana kamu begitu perhatian padaku padahal kita baru bertemu." ---- Sejak saat itu aku selalu merengek pada ayah untuk mengantarku ke perkebunan. Tapi saat itu ingatanku begitu buruk. Selain mengingat wajahmu tidak ada yang lain yang ku ingat."
"Berati selama ini kau .." Didi tak dapat melanjutkan ucapannya. Ia begitu syok mendengar bahwa sejak dulu Selin mengingatnya. Sedangkan dirinya sendiri melupakan Selin.
"Ya aku menyukaimu sudah lebih dari separuh usiaku. Aku mencintaimu Ardian Hutapea. Mari kita mengenang masa lalu." Selin memejamkan matanya. Ia kembali memutar memorinya di pertemuan pertamanya bersama dengan Didi.
"Aku juga mencintaimu Selina. Maafkan aku yang melupakanmu." Ujar Didi, dia berjalan sembari sesekali menaikkan pantat Selin agar dia nyaman dalam gendongannya.
Mereka tiba di rumah, namun disana keributan terjadi. Judi menangis mencari keberadaan orangtuanya.
Selin turun dari gendongan Didi dan masuk ke dalam rumah. Semua orang mengalihkan pandangan mereka kearah dua sejoli itu.
"Akhirnya kalian pulang, bisa-bisanya kalian meninggalkan Judy." hardik nenek Soraya, wajah Selin memerah sedangkan Didi hanya mengusap tengkuknya.
"Maaf sayang, tadi momy jalan-jalan sebentar sama Daddy, karena momy pikir Judy masih lelah."
"Judy takut mom, jangan tinggalin Judy lagi." Ujar Judy menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Selin. Didi mendekat dan mengusap kepala Judy.
"Apa yang kau takutkan sayang?" tanya Didi.
"Aku takut ada orang jahat yang ingin mencelakai momy, dad." Kata Judy.
"Dady berjanji akan melindungi kamu dan mommy." Kata Didi, kini dirinya memeluk kedua perempuan yang paling berarti di hidupnya.
.
.
.
Soraya memanggil Didi untuk datang ke kamarnya. Ada hal penting yang ingin dia sampaikan pada cucunya.
Didi mengetuk pintu kamar sang nenek. Setelah mendapat ijin masuk, Didi berjalan mendekat kearah sang nenek.
"Ada apa nek?" tanya Didi.
"Apa kau tidak ingin menghubungi ayahmu? Perbaiki hubungan kalian. Sebelum kau menikah." Ujar nenek Soraya.
"Dia yang menghindari ku bukan aku yang menjauhinya. Dia lebih menyayangi anak dari istri pertamanya dari pada kami. Nenek lihat selama ini mama berjuang sendirian untuk kami bertiga. Bahkan saat Gita meninggal dia tidak datang." Ujar Didi.
"Sayang ketahui lah, sebenarnya apa yang tidak nampak didepan mata kita belum tentu tidak terjadi. Kau hanya kurang peka, kau menutup dirimu. Belajarlah menerima semua ini. Hubungi dia. Karena dia sangat merindukan dirimu. Bahkan saat kamu lulus kuliah, dia ada diantara para tamu undangan. Dia datang untuk menyaksikan kelulusanmu." Kata nenek Soraya.
"Tapi nek .."
"Nenek hanya punya satu permintaan itu kepadamu Didi. Kau boleh menjual perkebunan nenek jika memang kau tak ingin mengurusnya. Nenek akan tinggal dimana pun kau tinggal." Ujar nenek Soraya. Didi semakin tak kuasa menahan laju air matanya. Egoiskah dirinya selama ini? batin Didi terasa teriris.
Selin meraba tempat tidur di sisinya yang terasa dingin. Ia membuka matanya, apakah Didi berpindah ke kamar lain. Selin merapatkan piyamanya dan bergegas keluar kamar. Ia melihat pintu samping yang terbuka, Selin mengarahkan kakinya melangkah keluar. Ia melihat Didi sedang termenung dengan tatapan mata kosong.
Selin duduk memiringkan tubuhnya diatas pangkuan Didi. Ia mengusap kepala pria itu.
"Ada apa denganmu? kenapa melamun sendirian tengah malam seperti ini?" tanya Selin membelai wajah Didi.
Didi tersenyum dan menggeleng. Ia justru memeluk perut Selin dan menyurukkan kepalanya di leher jenjang Selin. Hembusan nafas Didi di leher Selin membuat nafas Selin memburu.
Ia benar-benar² tidak tahan dengan rasa geli yang menggelitik di area lehernya. Tubuh Velia menegang karena Didi pun merasakan hal yang sama. Hasrat yang ingin diledakkan. Didi semakin mengeratkan pelukannya di perut Selin. Sesekali tangannya bergerak mengusap punggung wanita itu.
"Ayo kita masuk saja." Ujar Selin dengan suara bergetar.
"Sebentar saja. Ku mohon hanya sebentar. Aku ingin memelukmu seperti ini." Kata Didi dengan suara parau. Ia benar-benar sedang menahan hasratnya saat ini. Ia tak ingin merusak kepercayaan Selin pada dirinya. Didi berusaha menguasai hasratnya yang mulai terpantik karena gerakan Selin yang tak nyaman.
"Selin ayo kita menikah."
⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅
Note dari othor : **Buat reader setia othor. Othor ucapin terimakasih buat kalian yang selalu dukung othor baik itu vote like dan komen.
Dan FYI othor setiap up bab ini 1000 kata. dan buat nulis itu butuh banyak waktu karena othor juga sambil ngurus anak. Jadi maaf ya kalo up nya sedikit-sedikit. Karena ada sesuatu yang harus othor prioritas kan diatas novel ini**.