
*******
Suasana semakin tidak kondusif setelah bunyi tembakan terdengar. Satpam yang bertugas langsung menghubungi kantor polisi.
Gerry yang baru tiba di lokasi langsung keluar dari mobil, tubuhnya sempat terpaku melihat Istrinya jatuh memeluk Judy. Semua orang tertegun, karena tiba-tiba saja tubuh Archel limbung dan bersimbah darah. Diego mengedarkan pandangannya ia melihat tuannya ada di atas gedung sekolah. Namun tak banyak yang menyadarinya. Setelah menembak kepala Archel, Rian langsung turun tanpa ada yang mencurigai dirinya. Karena semua dalam kondisi panik.
Gerry menyingkirkan tubuh Archel yang bersimbah darah dari kaki Dian. Dian dan Judy tak sadarkan diri, dibawah himpitan tubuh Archel yang mendadak ambruk. Gerry hanya berharap semoga saja istrinya baik² saja.
Zafa, Zayn, Zafrina dan Zayana langsung berlari menghampiri mama mereka. Bahkan Zafrina menangis dengan kencang begitu juga dengan Zayana.
"Mama .." Teriak keempat anak itu. Mereka mendekat. Zayn melihat ibunya sudah ada yang mengurus, dirinya memutuskan mendekati Judy. Namun Zayn terkejut saat melihat tetesan darah di kepala Judy.
"Papa, kepala Judy berdarah." Ujar Zayn panik. Dia mengeluarkan sapu tangan yang selalu dibawakan oleh Dian dan mencoba menutupi darah yang menetes dari kening Judy yang terbentur trotoar.
Ambulans sudah datang, begitu juga polisi. Di lokasi diberi garis polisi. Judy dan Dian sudah diangkat di mobil ambulans. Dan di bawa ke rumah sakit milik keluarga Gerry.
Selin datang terlambat. Namun setelah diberitahu Diego hatinya semakin cemas. Bagaimana kondisi putrinya, dan di mana Didi?
Pikiran Selin berkecamuk. Dia semakin tak bisa mengendalikan air matanya yang mengalir.
Velia memeluk Zafrina dan Zayana. Keduanya masih menangis. Sedang Zafa masih terlihat begitu syok. Mereka semua diamankan oleh Diego dan dibawa ke mansion milik Gerry.
Dino hanya diam. Ia masih berpikir siapa yang membunuh pria penculik tadi.
"Uncle .. aku ingin ke rumah sakit. Aku ingin melihat keadaan Mama." Ujar Zayana sembari terisak.
"Sayang, kalian harus pulang dulu untuk berganti pakaian." Ujar Velia.
"Tapi Ana takut, kalo mama kenapa-kenapa." Ujar Gadis cilik itu, Sedangkan Zayn benar-benar muram, selain ibunya Judy turut menjadi korban. Keduanya sama-sama memiliki tempat teristimewa di hatinya.
Dia segera berlari menemuimu Arimbi. Saat itu Arimbi sedang menyuapi ayah mertuanya yang semakin renta. Nino mengacungkan ponselnya pada Arimbi. Wanita yang terbiasa dengan cara komunikasi Nino pun segera meraih ponselnya. Namun saat membaca pesan itu, ponsel Arimbi meluncur jatuh kebawah. Matanya langsung menitikkan air mata.
Ya Allah, ada apa lagi dengan Dian? --- Arimbi.
.
.
.
Suasana diruang tunggu IGD tampak suram. Selin menunggu putrinya, dan di sebelah Selin ada Gerry yang tak kalah resah menunggu istrinya. Ia sempat hampir jatuh, kakinya terasa lemas. Mendengar kata dokter yang mengatakan jika detak jantung Janin yang ada dalam kandungan Dian lemah.
Gerry merutuki kecerobohan dirinya. Seharusnya sejak kemarin dia sudah bertindak. Tapi hanya karena ia si taat hukum, maka sekarang ia sedang menerima buah dari kecerobohannya.
"Dimana suamimu?" tanya Gerry menatap Selin, ia iba dengan wanita itu. Selama 5 tahun berurusan dengan pria yang bernama Archel itu.
Selin menggeleng lemah. Kini kepalanya kembali berdenyut nyeri. Bahkan pandangan matanya mulai buram dan makin lama makin gelap. Suara Gerry terasa menjauh sedikit demi sedikit dan lama kelamaan menghilang seiring kesadarannya yang terenggut. Gerry terkejut reflek menahan tubuh Selin agar tidak terjatuh.
"Pablo, tolong!"
Pablo segera mendekat dan mengangkat tubuh Selin. Dan membawa masuk ke ruang IGD. Gerry mengambil ponselnya dan menghubungi Sigit untuk melacak keberadaan Didi.
"Tuan Gerry, bisa saya bicara sebentar." Panggil dokter yang menangani Dian. Gerry mengangguk. Perasaannya kembali dijalari rasa tak nyaman.
⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅