
⛅ Selamat membaca ⛅
Hari ini kediaman tuan Kusuma sedikit disibukkan dengan persiapan acara pertunangan Nino dan Sasa yang akan di gelar di ballroom hotel milik Gerry.
Semua tampak sibuk mempersiapkan diri terkecuali Dian, Gerry melarangnya untuk ikut membantu. Gerry sebenarnya sudah menyuruh pembantunya untuk ikut membantu di mansion tuan Kusuma, tapi pria tua itu menolak niatan baik Gerry dengan alasan agar para pembantu tersebut fokus menjaga Dian, dan memenuhi apa yang Dian inginkan.
"Mas, boleh ya!" Dian merajuk untuk yang kesekian kalinya.
"Sayang, mas ga ingin kamu nanti kecapekan."
"Mas .." mata Dian sudah berkaca-kaca Gerry menjadi serba salah menghadapi istrinya yang begitu moody.
"Sayang, dengerin aku ya! kalo sampai nanti kamu kelelahan, kamu juga yang rugi. Kakek pasti tidak akan mengijinkan kamu ikut ke acara pertunangan Nino." bujuk Gerry dengan sabar, kehilangan Dian waktu itu membuat Gerry lebih bisa bersabar menghadapi dian.
"Aku hanya ingin melihat mas, aku janji ga akan turun dari kursi roda." Ujar Dian memelas. Dengan menarik nafas dalam-dalam, Gerry berjongkok di depan kursi roda Dian.
"Baiklah, tapi janji hanya melihat ok? Hari ini mas akan sibuk sekali jadi mas ga bisa menghubungimu setiap saat. Mas ada meeting penting hari ini karena beberapa hari ini sudah mas tunda." Ujar Gerry, memang jadwal hari ini begitu padat mengingat beberapa hari sebelumnya Gerry sibuk mempersiapkan hunian baru mereka, ditambah lagi ia harus mengawasi kondisi Dian pasca pulang dari rumah sakit.
"Terimakasih mas!" ujar Dian, ia langsung meraih tengkuk Gerry dan mengecup kening dan bibir Gerry. Gerry mengangkat sudut bibirnya tinggi.
"Apa kau sedang menggodaku? adikku sudah terlalu lama berpuasa." Ujar Gerry dengan seringai tipis di bibirnya. Wajah Dian seketika merona merah.
"Mas, kenapa sekarang jadi mesum seperti ini." Dian mengerucutkan bibirnya, dengan gemas Gerry mengigit lembut bibir Dian.
"Apa itu kode untuk minta dicium?" Gerry mengacak rambut Dian.
"Maaaas ..!" Dian benar benar malu mendengar ucapan Gerry.
"Baiklah, ayo sekarang mas antar kamu ke rumah kakek." Kata Gerry bangkit berdiri mendorong kursi roda Dian. Dian mengangguk lalu tersenyum. Kehidupan yang dulu pernah dijalani Dian kini kembali.
.
..
...
Di sudut kamar yang luas Veni meringkuk merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Setelah kedatangan ayahnya, Aldo benar benar menyiksanya dengan kejam. Ia memaksa melakukan hubungan badan dengan Veni, bahkan kini wajah gadis itu terdapat memar di sudut bibir dan pipinya.
"Jika sekali lagi kau berani berbuat masalah, akan ku pastikan menyerahkanmu pada Rian Al Fares. Kau tau pria itu adalah seorang psikopat yang bisa saja membunuhmu dengan caranya sendiri." Ujar Aldo dingin, ia hanya menatap Veni tanpa rasa belas kasihan.
"Kau manusia kejam. Apa salahku padamu?" tanya Veni menatap penuh kebencian pada Aldo.
"Salahmu adalah kau berurusan denganku." Seringai tipis menghiasi wajah Aldo.
"Kau yang membawaku kesini." Teriak Veni.
"Ya memang benar aku yang membawamu kemari, tapi kau bisa saja langsung pergi begitu sembuh. Tapi kau memilih menempel padaku karena kau berpikir aku akan jatuh cinta padamu. Bukan begitu?"
"Dasar laki laki ba*****n." Teriak Veni histeris.
Aldo meninggalkan ruangan itu dengan tawa yang benar-benar mengerikan. Selama ini Veni mengira jika Aldo adalah pria yang lembut. Tapi ia salah sudah menempel pada pria itu.
.
..
...
"Kau disini sayang?" tanya Nyonya Arimbi sibuk memilih perhiasan yang akan dibawa untuk seserahan.
"Iya Bu, aku bosan di kamar. Lagipula kalian menculik Zafa dan Zafrina." Gerutu Dian, nyonya Arimbi dan nyonya Arini hanya terkekeh.
"Ibu, mama aku titip Dian ya." Ujar Gerry meraih tangan ibu mertuanya lalu menciumnya dengan santun. Begitupun pada nyonya Arini, setelah itu Gerry berpamitan pada Dian dan mengecup kening Dian. Lalu Gerry mulai berjongkok di depan kursi roda Dian menempelkan telinganya di perut Dian sesaat.
"Kalian harus jadi anak baik. Jangan menyusahkan mommy kalian ok!" kata Gerry di depan perut Dian sambil mengusapnya perlahan.
"Hati hati ya mas. Kalo mas ada waktu jangan lupa kabari Dian." Ujar Dian, ia sebenarnya enggan jauh² dari suaminya. Tapi ia juga tak ingin egois menahan prianya untuk tetap berada terus di dekatnya.
"Iya istriku sayang." Ujar Gerry lembut lalu berlalu dari kediaman tuan Kusuma.
.
..
...
"Ma, Rian mohon jangan ganggu Dian dan putrinya."
"Itu urusan mama, Rian. Lagipula mama hanya ingin bertemu cucu mama." Ujar nyonya Santika acuh.
"Jika mama ingin bertemu putrinya mamah bilang sama Rian, biar Rian yang membujuk mereka."
Nyonya Santika tersenyum sinis. "Kau akan merendahkan dirimu di hadapan mereka?"
"Jika memang diperlukan. Rian sudah membuat hidupnya menderita selama ini. Jadi Rian mohon sama mama, jangan buat Rian semakin menyesal." Kata Rian, tampak dari matanya tersirat penyesalan yang begitu dalam.
"Jika begitu, ceritakan semua pada mama. Apa yang terjadi sebenarnya. Baru mama akan pikirkan permintaanmu." Kata nyonya Santika, nada suaranya berubah menjadi lembut. Melihat sorot mata putra semata wayangnya, membuat naluri seorang ibu merasa tak tega.
"Rian awalnya merasa risih dengan permintaan kalian yang menginginkan cucu. Lalu Rian mendapat ide untuk memakai rahim sewaan. Tapi setelah Rian pikir, Rian tidak bisa sembarangan memakai wanita sebagai wadah bayi Rian. Rian ingin wanita itu haruslah yang masih utuh belum terjamah. Lalu Burhan paman Dian datang, ia meminjam uang pada Rian dan menjanjikan Dian sebagai jaminan. Waktu itu yang ada di pikiran Rian hanya bagaimana cara membuat kalian bahagia."
"Berapa?" potong nyonya Santika.
"300 juta, dan dia berjanji mengembalikannya dalam tempo sebulan."
"Dan dia tidak mengembalikan uangnya tapi malah membawa gadis itu untuk menjadi tumbalnya?" potong nyonya Santika. Dan Rian mengangguk.
"Ya Tuhan, Rian! pria itu berati memang sudah merencanakan menjual gadis itu padamu." Lanjut nyonya Santika dengan geram. Awalnya ia berpikir Dian sama seperti wanita wanita lainnya yang rela melempar dirinya ke ranjang Rian, demi uang. Maka dari itu nyonya Santika langsung memandang Dian dengan tatapan mata tidak senang.
"Rian tidak tau mah, yang Rian pikir saat itu Rian ingin memberikan kalian keturunan dengan cara itu. Rian sama sekali tidak ada niatan menikah. Karena saat itu Rian sudah mencintai wanita lain." Kata Rian membela diri.
"Wanita gila yang beberapa tempo lalu berteriak di depan gedung kantormu?" Sarkas nyonya Santika, dan Rian lagi² mengangguk lemah.
"Iya, dia orangnya."
"Lalu kenapa tidak kau nikahi dia? kenapa malah merusak gadis lain Rian? Mama sampai tidak habis pikir denganmu." Kata nyonya Santika dengan menahan emosinya. Ia harus mendengar semuanya hari ini juga.
"Karena waktu itu, dia adalah istri orang mah." Sahut Rian dengan wajah menunduk.
"Hah .. istri orang?" nyonya Santika terkejut. "Apa putraku sebegitu miskin? apakah dia tidak laku hingga menginginkan istri orang? Ya ampun Rian, apa yang ada di pikiranmu? Menginginkan istri orang tapi menyakiti gadis lain." sarkas nyonya Santika semakin tak dapat menahan diri.
"Itulah mengapa sekarang Rian menyesal mah, apa mama pikir selama ini Rian baik baik saja? setelah pertemuan Rian pertama kali dengan putriku, gadis itu tertawa menatapku, bahkan wajahnya dan matanya semua mirip Rian." Ujar Rian frustasi.
"Jika memang begitu kenapa kau membuat perjanjian bodoh itu. Harusnya apapun jenis kelaminnya kau harus menerimanya." Suara nyonya Santika kembali melunak. Wajah putranya benar benar baru kali ini dia begitu putus asa.
"Itulah yang sampai sekarang Rian sesali. Maka dari itu untuk menebus rasa bersalah Rian pada Dian, Rian berjanji akan menjaganya dari apapun sebagai ganti dia dengan rela menjaga putriku dengan baik."
"Jika begitu, mama ingin kamu berjanji satu hal."
"Apa itu ma?"
⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅
Hay guys maafkan aku telat. Hp otor lagi trouble keinjek bocil tadi.
maaf ye. Jangan lupa like dan komen. Kalo perlu share novel ini ke temen-temen kalian. Biar makin banyak yang mampir. See you 😘
Besok Minggu, othor libur. Tapi kalo sempet dan ga ketahuan modus nti otor bakalan up