
*********
Zayn mulai menunjukkan kepemilikannya pada Judy atas permintaan gadis itu. Dan ia tak dapat menolaknya. Seperti saat ini Judy memilih bersandar di dada bidang Zayn dan memejamkan matanya. Tubuhnya masih sangat lemah namun ia juga merasa tak enak jika mengganggu belajar Zayn. Karena pria itu pasti akan kembali membolos demi dirinya.
"Sudah ku katakan sebaiknya kau ku antar pulang saja." Kata Zayn seraya membelai rambut Judy.
"Aku tidak mau jauh darimu Zayn."
"Dasar .. " Zayn mencium puncak kepala Judy.
"Huh dasar wanita tak tahu diri." Gumam seorang mahasiswi yang kebetulan lewat bersama gengnya.
"Zayn apa perlu kita pergi dari sini?" Judy menatap Zayn lembut, pria itu tersenyum seraya membelai wajah Judy.
"Apapun yang kau mau aku akan menurutimu baby." Bisik Zayn yang membuat wajah Judy langsung memerah.
Mereka berdua meninggalkan Shanaz dan gengnya yang menatap kesal ke arah Judy.
"Lihat saja nanti Judy aku akan buat perhitungan denganmu." desis Shanaz dan anggota geng yang lainnya hanya menatap datar saja kearah dua insan yang mulai menjauh.
.
.
.
Zafa memandangi foto Dian di ponselnya, setetes air mata mengalir membasahi pipinya. Rindu sudah pasti ia rasakan apalagi sejak dulu dirinya memang jarang berjauhan dari Dian.
"Mama, Zafa rindu sama mama." Desis Zafa, ia menutup matanya menggunakan lengan kanannya
Begitu banyak pikiran yang terlintas dalam benaknya, tentang apa yang menjadi alasan papa dan mamanya merahasiakan ini? lalu dimana ibu kandungnya sekarang berada? Apa hubungannya papi Zafrina dan ibunya? Semua pertanyaan itu selalu berputar di otaknya.
Bagaimanapun mengapa mereka tidak jujur dari awal siapa ibu kandungnya. Atau jangan-jangan dirinya juga bukan anak dari papa Gerry? membayangkan nya saja sudah membuat Zafa merasa semakin sesak nafas.
"Mama .. " Lirih Zafa sebelum ia akhirnya terlelap dan mulai menapaki alam mimpinya.
.
.
.
Kondisi Dian sudah jauh membaik, ia pun sudah bisa mulai menata hatinya ia menyibukkan diri di panti asuhan milik Ara.
"Onty .. onty sini!" teriak Arumi putri Ara dan Arsen, Zafia berlari duluan menghampiri Arumi mereka berdua saling berpelukan, begitupun Dian dan Ara mereka juga saling cium pipi kiri kanan.
"Apa kabar teh? kemarin kata Aa teteh sakit ya?"
"Maaf ya teh, aku ga bisa jenguk teteh." Kata Ara tampak menyesal. Dian tersenyum lembut pada Ara, wanita itu selalu saja mudah sekali merasa bersalah.
"Ga apa-apa Ra, yang terpenting kamu fokus sama kandungan kamu." Kata Dian mengusap perut Ara yang membuncit.
Saat Dian dan Ara masih sibuk ngobrol, Arsen datang membawa anak keduanya yang berjenis kelamin laki-laki.
"Iya Aa .. hati-hati di jalan ya." Ara mengecup punggung tangan Arsen.
"Suami kamu tu benar-benar ya pria most wanted banget. Kerja iya merawat anak iya apa aja di lakuin. Dasar bucin." Ujar Dian.
"Ih kaya suami teteh engga aja." Protes Ara malu.
Tak lama ponsel Dian bergetar panggilan video dari nomor luar negeri, tak menunggu lama Dian segera mengangkatnya. Tak lama wajah putrinya tersenyum cerah di hadapan Dian.
"Mama .." pekik Zafrina dia saat ini ada di dalam kamarnya.
"Sayang, apa kabar kamu? kakak kamu bagaimana kabarnya kenapa dia tidak menghubungi mama?" Wajah Dian terlihat sendu meski senyuman terus menghiasi bibirnya.
"Kakak baik-baik saja mah, Ina juga sehat. Kata kakak, kakak ga mau lihat wajah mama yang sedih seperti ini. Kelihatan senyum tapi mata mama ga bisa bohong. Makanya kakak lebih memilih tidak menghubungi mama. Tapi Ina janji akan sering-sering mengabarkan keadaan kakak pada mama." Tutur Zafrina.
"Bagaimana kuliahmu sayang?" Dian seolah tak menanggapi tentang ucapan Zafrina tentang putranya itu. Dalam hati Dian hanya meyakini saat ini Zafa sedang menghindarinya namun entah karena apa. Dan Dian bertekad akan mencaritahu sendiri.
"Tidak ada yang istimewa ma, semuanya membosankan. Rasanya aku ingin pulang saja menemani mama di sana." Ujar Zafrina dengan wajah dibuat begitu menggemaskan.
"Tidak perlu memikirkan mama disini sayang, ada papa dan adik-adikmu yang menemani mama. Mungkin ini cara Allah mengajarkan kepada mama untuk tetap kuat suatu saat nanti jika kamu dibawa oleh suamimu kelak." Ujar Dian tatapan matanya begitu meneduhkan Zafrina. Tapi gadis itu justru terisak menatap wajah Dian yang tak seperti dulu saat mereka masih berkumpul bersama. Wajah Dian pucat bahkan saat ini terlihat sangat kurus.
"Kenapa menangis? apa mama salah bicara?" tanya Dian turut sedih melihat air mata putrinya. Tapi dia berusaha menahan kesedihannya.
"Apa mama sudah tidak mengharapkan kehadiranku lagi?" tanya Zafrina. Dian tersenyum tipis.
"Tentu jika ada kamu dan kak Zafa hidup mama akan lebih bahagia lagi. Tapi jalan hidup kalian masih panjang. Banyak hal menanti kalian kedepannya." Ujar Dian bijak. Zafrina menghapus air matanya dan mengangguk.
"Maafin Ina mama .. "
"Sudah jangan menangis lagi. Sekarang Ina istirahat ya. Disana bukankah ini sudah terlalu larut?" Kata Dian. Zafrina pun menurut setelah memberikan ciuman jauh untuk sang mama dia mematikan sambungan teleponnya. Tanpa Dian tahu Zafrina sempat men screen shot wajah mamanya dan mengirimkannya pada Zafa.
Zafa terbangun saat getar ponselnya terdengar, ia meraihnya dan tanpa pikir panjang ia membuka pesan dari adiknya Zafrina. Zafa berpikir pasti kemarin Zafrina mencoba menghubungi nomor barunya.
Deg
Wajah Zafa mata Zafa seketika memerah, air matanya menetes dengan deras. Wajah Dian tampak pucat dan tak bercahaya, pipinya tirus benar-benar bukan seperti wajah mamanya dulu yang terlihat selalu bercahaya dan bahagia Sekarang yang tampak ada di hadapan Zafa seperti orang yang kehilangan gairah hidupnya. Zafa mengusap wajah Dian dari layar ponselnya seraya mengucapkan kata maaf berulang kali.
Sementara itu setelah ponsel Dian mati, dia menangis. Rasa rindu pada anak-anaknya benar-benar menyiksa dirinya. Ara mengusap pundak Dian, ia tahu kesedihan yang di rasakan oleh Dian saat ini.
"Sabar teh, teteh harus ingat ketiga anak teteh yang lain. Mereka juga memerlukan perhatian teteh." Ujar Ara.
"Aku tahu Ra, tapi rasanya disini sakit sekali. Zafa benar-benar menghindari ku. Aku yakin ada sesuatu yang membuat dia memutuskan pergi dariku." Isak Dian.
"Su'udzon mbak, mungkin Zafa juga ingin lebih mandiri."
"Aku tahu anak-anak ku dengan baik Ra, terlebih Zafa karena dia besar dan tumbuh lewat tanganku langsung karena anak itu memang terlahir prematur dan sakit sakitan. Aku tahu dia luar dalam. Dia sedang menghindariku. Dia seperti kecewa padaku." Ara akhirnya memilih diam dan membiarkan ibu 5 anak itu mencurahkan segala kegundahan hatinya.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
Maaf ya guys othor kelamaan libur, anak othor yang bontot diare disaat othor lagi masuk angin. Jadi sama bapaknya anak-anak ponsel langsung di simpan. Suruh fokus dulu pemulihan diri dan kesembuhan bocil.