Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
Bab 41


🌼Selamat membaca🌼


pagi ini Dian dan Gerry dan baby Zafa baru saja mendarat di bandara Soetta, Sigit sudah standby dengan mobil jemputannya.


Wajah Dian tampak masih pucat. Sigit dapat melihat itu, namun ia canggung menanyakan kondisi istri tuannya itu.


"Kau yakin tidak perlu ke rumah sakit?" tanya Gerry masih mencemaskan Dian. Dian menggeleng lemah ia terus mendekap Zafa.


Mobil mereka melaju membelah jalanan ibu kota yang terlihat padat itu. Hingga tibalah mereka di kediaman Gerry.


"Mas, beneran mau langsung kerja?" Dian sepertinya enggan melepaskan pelukan hangat suaminya itu.


"Mas, akan secepatnya pulang." Ucap Gerry, Dian langsung meraih tangan Gerry dan mencium punggung tangan suaminya.


Gerry pun membalas mencium kening Dian. Dian memejamkan mata merasakan kehangatan yang mengalir di setiap tetes darahnya.


Setelah mobil berlalu Dian masuk ke dalam kediaman Gerry, tanpa dirinya sadari ada seseorang yang menatapnya dari kejauhan.


Nyonya Arini menyambut menantunya dengan pelukan hangat, Ada rasa khawatir dalam hati nyonya Arini, jika sampai menantunya ini tahu tentang mantan istri Gerry yang meminta untuk bertemu Zafa.


"Kenapa wajahmu pucat sayang?" tanya nyonya Arini cemas, dia tak menyadari sejak awal jika menantunya memang tak seperti biasanya.


"Dian hanya kelelahan mah."


"Pasti Gerry tak pernah membiarkanmu lepas darinya?" Goda nyonya Arini pada Dian, menantunya itu tersenyum malu.


"Mamah .." Dian merajuk.


"Ya sudah, cepat istirahat." Ujar nyonya Arini. Dia mengambil Zafa dari gendongan Dian.


"Zafrina dimana mah?"


Tak lama terdengar celoteh bayi cantik itu datang dari arah taman belakang.


"Anak ibu..!" Dian langsung mengambil Zafrina dari gendongan bi Esih.


Andai saja Zafa lahir sebagai anak yang normal pasti rumah ini akan menjadi ramai. batin nyonya Arini.


Ia sekilas menatap wajah Zafa yang terlihat hanya diam, hati nyonya Arini benar benar terenyuh.


Setelah melepas rindu dengan Zafrina, Dian masuk ke dalam kamar untuk beristirahat, kepalanya rasanya berdenyut sakit.


.


..


...


Gerry terkejut saat tiba di kantor dia mendapati Selena sudah ada di lobi menunggunya. Ia meminta Sigit mengurus mantan istrinya itu.


"Tunggu Ger, aku mau ngomong." Selena mencekal tangan Gerry. Pria itu menatapnya garang. Namun Selena hanya menampilkan wajah lemahnya.


"Ijinkan aku bertemu putraku. Aku berjanji hanya sekali. Aku ingin memeluk dan meminta maaf padanya." Ujar Selena memohon. Hanya putranya harapan satu-satunya untuk bisa kembali meraih simpati Gerry. Ia yakin masih ada cinta yang tersisa untuknya.


"Jangan memaksakan diri. Kau tidak layak disebut seorang ibu." Sarkas Gerry, ucapannya benar benar melukai harga diri Selena.


"Aku mohon, hanya sekali saja." Selena tetap tak menyerah.


"Aku akan tanyakan pada istriku terlebih dulu. Apakan dia mengijinkanmu atau tidak." Sontak ucapan Gerry mematik amarah Selena.


"Aku yang mengandungnya, aku yang melahirkannya. Bagaimana bisa harus dengan persetujuan istri barumu itu?" Selena benar benar di ambang batas kesabarannya.


"Ya semua itu memang benar. Tapi tanpa istriku, aku tidak yakin putraku bisa selamat atau tidak. Karena istriku lah bayi itu bisa bertahan hingga sekarang. Kuasa Tuhan sudah membuktikan mana yang layak di sebut ibu dan mana yang tidak." Gerry menghempas tangan Selena dengan sekali hentakan lalu dirinya meninggalkan Wanita itu. Wanita yang dulu setengah mati ia perjuangkan. Wanita yang telah mengisi hari²nya selama beberapa tahun terakhir.


❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️


Maafkan aku telat. Dan hanya bisa up Sedikit. Soalnya bocilku lagi demam seharian ga bisa di sambi ngetik. biasanya dari pagi aku da nyicil 200 sampe 400 kata biar ntar agak sorean enteng. Tapi mau gimana lagi. Kesibukanku sebagai mak dua anak benar benar ga bisa ku abaikan.


Maaf ya.