Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
Bab 61


⛅ Selamat membaca ⛅


"Jika begitu, mama ingin kamu berjanji satu hal."


"Apa itu ma?" tanya Rian curiga.


"Mama mau kamu bujuk Dian agar bisa mempertemukan mama dan cucu mama. Mama ingin sekali menemui putrimu itu." Ujar nyonya Santika.


"Baiklah jika cuma itu yang mama inginkan, Rian akan segera mewujudkannya." Jawab Rian, setidaknya ia sedikit lega ibunya tak akan lagi mengganggu Dian.


"Benarkah kau akan mewujudkan permintaan mama?" Tanya nyonya Santika antusias.


"Ya tentu saja .." Rian tersenyum hangat kepada ibunya.


.


..


...


Pesta gelaran acara pertunangan Nino kini sedang berlangsung, Banyak tamu undangan yang sudah memenuhi ruangan. Saat ini Dian dan Gerry sedang bersiap disalah satu kamar presiden suit. Malam ini Dian tampil dengan gaun berwarna biru dengan riasan minimalis. Gerry sebenarnya kurang setuju dengan gaun yang Dian pilih tapi mengingat ucapan ibunya jika ibu hamil mudah merasa kepanasan akhirnya Gerry membiarkan Dian memakainya. Pasalnya gaun yang Dian pilih terbuka dibagian bahunya menampilkan keseluruhan leher jenjang Dian yang di hiasi kalung berlian pemberian Gerry. Perut Dian yang membuncit sempurna menambah kesan seksi dimata Gerry.



(anggap saja itu perut Dian buncit y)


"Mas, jangan lihatin aku terus!" gerutu Dian, merasa risih Gerry terus memandanginya.


"Kenapa, aku kan punya hak sepenuhnya untuk memandangmu dan menyentuhmu." Ujar Gerry acuh. Matanya tak henti hentinya menatap sang istri yang terlihat semakin cantik.


Dian pun menatap penampilan sang suami dari atas ke bawah, di mata Dian gerry tampak begitu sempurna. Tak seperti saat pertama mereka bertemu setelah Dian pergi. Gerry begitu berantakan dan tak terurus. Kini Gerry tampil dengan warna jas yang senada dengan gaun Dian. Bahkan senyum Gerry malam ini tampak berkali kali lipat lebih tampan.



"Kenapa malam ini mas pakai pakaian seperti ini?" tanya Dian menatap Gerry dengan tajam.


"Memang ada apa sayang? bukankah ini senada dengan gaunmu?" tanya Gerry bingung mendapat tatapan seperti itu dari Dian.


"Aku hanya ingin terlihat serasi dengan istriku, apakah salah?" jawab Gerry menatap manik mata Dian dengan intens. Lalu perlahan Gerry mendekatkan wajahnya dan me*lu*mat bibir Dian dengan rakus. Dian membalas ciuman Gerry dengan agresif hingga ciuman terlepas nafas Gerry semakin memberat.


"Apa kita sebaiknya tidak perlu turun ke bawah? ujar Gerry menempelkan keningnya dan kening Dian. Keduanya sedang berlomba meraup oksigen setelah ciuman tadi.


"Lakukanlah, jika kau ingin pulang nanti kakek mencoretmu dari daftar cucu menantunya." Ujar Dian melempar senyum menggoda pada Gerry sembari mengedipkan matanya.


Gerry benar benar tak berkutik melihat tingkah istrinya yang semakin menggemaskan.


"Baiklah, mari kita turun." Gerry meraih jemari Dian dan membawanya keluar kamar.


Sesampainya di ballroom banyak pasang mata yang memperhatikan kehadiran dua sosok itu. Penampilan mereka yang begitu serasi menarik perhatian para tamu undangan.


"Apa aku bilang, kau pasti sengaja kan mas memakai pakaian itu agar dilihat pada wanita itu?" Dian benar benar tak menyukai tatapan para gadis-gadis itu menatap suaminya.


Gerry menarik hidung Dian dengan gemas. "Apa istriku ini sedang cemburu?"


Dian membuang muka lalu melepas tangannya dari lengan Gerry dan berjalan mendahului Gerry. Gerry tersenyum senang mendapati istrinya yang cemburu kepadanya.


"Ada apa sayang?" tanya nyonya Arini melihat Dian yang sedang kesal.


"Itu mah, mas Gerry."


"Ada apa sih Ger?" tanya nyonya Arini penasaran.


"Menantu mama sedang cemburu." Jawab Gerry sambil terus tersenyum.


"Sayang, mama berani jamin suamimu tidak akan pernah berpaling darimu. Karena mama tau betapa rapuhnya Gerry saat kau pergi dulu." Ujar nyonya Arini mengusap kepala Dian.


⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅


Dikit dulu ya guys daripada nti hp otor di sita paksu.


See you 😘😘 jangan lupa like dan komen ya