
********
Setelah menunggu beberapa waktu, mama Clara masuk ke dalam ruangan Arsen tanpa mengetuk pintu. Arsen menatap kehadiran mamanya dengan dahi mengernyit. Wajah mamanya terlihat menahan kesal. Wanda sekertaris Arsen terkejut saat pintu ruangan bosnya dibuka dari luar tanpa diketuk.
Namun dia melihat reaksi Arsen yang biasa saja membuat Wanda bertanya-tanya siapa wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu. Dan siapa gadis yang bersama Arsen saat ini.
Wanda adalah sekertaris Arsen, mereka adalah teman satu fakultaskulia sewaktu kuliah. Namun Arsen tidak pernah mengingatnya. Wanda sangat menyukai Arsen sejak kuliah makanya Wanda mencari tahu perusahaan Arsen dan dewi fortuna memihak dirinya karena saat itu sedang ada lowongan menjadi sekertaris. Meski kuliah di jurusan manajemen bisnis. Skill dan look Wanda tidak bisa dianggap remeh. Sehingga dia diterima bekerja di perusahaan itu.
.
.
.
"Ada apa sih ma?" tanya Arsen melihat ibunya terlihat kesal.
Arsen melirik Ara yang terus menunduk tidak berani menatap mama Clara membuat Arsen semakin yakin jika ada masalah.
"Mama tu sebel." Ujar mama Clara. Arsen bingung dengan sikap mama Clara tidak biasanya dia seperti ini. Dia selalu bersikap lembut pada siapapun.
"Sebel kenapa ma?" Tanya Arsen, Mama Clara melirik Ara sekilas. Namun gadis itu terus menunduk tak berani menatapnya.
"Mau mama yang cerita atau kamu sendiri yang ngomong Ra?" Suara mama Clara membuat Ara mengangkat kepalanya.
"Jangan ma, sudah dong. Kan tadi mama udah janji sama Ara ga seperti ini." Ujar Ara memelas.
"Ada apa sih mah? aku kok makin bingung sama mama dan Ara. Ada apa sebenarnya?"
"Tadi mama ketemu sama gerombolan wanita yang menyebalkan."
"Mama kenal mereka?" wajah Arsen mendadak serius. Sudah pasti mama Clara tau sifat keras Arsen yang seperti suaminya. Akan marah jika ada yang mengusik keluarganya.
"Mama ga kenal. Tapi calon istrimu itu tau siapa mereka." Kata mama Clara melirik Ara. Dia tidak habis pikir dengan calon menantunya ini hatinya terbuat dari apa? Setiap hari mendapat hinaan seperti itu dan tetap diam saja. Meskipun mama Clara tidak tahu kehidupan apa yang Ara jalani setidaknya kenapa tidak pernah mau melawan orang-orang itu.
"Iya Ra kamu kenal mereka?" Wajah Arsen semakin dingin. Wanda hanya duduk seraya mendengar pembicaraan keluarga itu. Hatinya seakan mencelos mendengar mamanya Arsen menyebut gadis di depannya adalah calon istri Arsen. Apa harapannya selama ini sia-sia?
"Mereka temen kampus aku Aa." Ara masih menunduk tak berani menatap Arsen. Arsen duduk di samping Ara. Ia mengangkat dagu gadis itu.
"Katakan apa yang mereka lakukan sampai mama begitu kesal?"
"Udah biar mama aja yang ngomong. Nunggu Ara ngomong bisa sampai besok. Dia tu udah disakiti masih aja diem. Mereka di mall menghina Ara, meskipun mereka membicarakan yang sebenarnya tentang kondisi Ara. Tidak seharusnya mereka seperti itu. Mama aja sakit hati denger omongan mereka menghina merendahkan Ara."
"Bener Ra?"
Ara mengangguk, tapi tak berani menatap wajah dingin Arsen.
"Maafin Ara mah, Ara bikin mama kesal." Ujar Ara.
"Bukan kamu yang bikin mama kesel tapi mereka. Mama tu ga habis pikir ternyata ada orang seperti itu."
"Ya engga lah Sen, mama maki mereka. Tapi dasarnya si Ara nih malah diam aja. Semakin dibiarin kan mereka bakalan nglunjak. Mama rasa mereka juga udah lama kaya gitu ke Ara." Kata Mama Clara.
"Wanda tolong kamu ke pantri minta OB antarkan minuman dingin kemari. Dan tolong kamu hubungi kafetaria makanan saya diantar kemari saja ditambah 2 box yang sama." Ujar Arsen.
Wanda mengangguk lemah lalu keluar ruangan. Mama Clara menatap tak suka pada Wanda. Mam Clara juga seorang perempuan dia tahu Wanda menyimpan perasaan pada putranya.
"Harus ya ruang sekertaris jadi satu sama ruangan kamu?"
"Kenapa memang mah? ini lebih efisien buat aku.
"Tapi nanti kalo kamu sudah punya istri kamu ga bisa punya tempat privasi disini." Sahut mama Clara.
Arsen tampak berpikir, ucapan mamanya ada benarnya juga.
"Kamu lain kali kalo ada yang usil dan buli kamu lawan dong Ra. Jangan diem aja!" mama Clara masih terus menggerutu.
"Iya ma .. " Jawab Ara pasrah.
Arsen menatap iba pada Ara belum apa-apa dia sudah dibuat mati kutu oleh mama Clara.
"Kamu capek ya Ra?" Tanya Arsen. Disaat bersamaan Wanda masuk bersama seorang OB. Mata Wanda membelalak melihat Arsen membelai wajah Ara. Padahal setahu dia selama ini Arsen anti berdekatan dengan Wanita.
Tapi melihat perlakuan Arsen pada Ara membuat Wanda merasa iri. Ingin dia rasanya menggantikan posisi Ara saat ini. Wanda membuang nafas kasar lalu berjalan mendekat kearah ketiga orang yang sedang duduk di sofa.
"Sen, nanti mama tinggal Ara sama kamu ya. Mam mau ngecek restoran dulu. Sudah lama mama ga sidak." Ujar Mama Clara. Sebenarnya ini hanya akal-akalan mama Clara agar Arsen tidak hanya berduaan bersama dengan sekertarisnya yang memakai pakaian kurang bahan.
.
.
.
Setelah selesai makan siang, mama Clara benar-benar meninggalkan Ara dikantor Arsen. Arsen mengambil Jasnya yang tersampir di kursi kerjanya. Ia mengambil selendang Ara dan memakaikan jasnya ditubuh Ara.
"Aku tahu kamu dari tadi tidak nyaman dengan baju pilihan mama." Kata Arsen, Ara tersenyum samar dan mengangguk. Arsen mengungkung tubuh Ara kedua tangan Arsen bertumpu pada sandaran sofa yang Ara duduki. Arsen tidak memandang Wanda yang terkejut dengan tingkah dirinya itu.
"Kamu harus berani bilang sesuatu yang kamu tidak suka dan kamu suka. Jangan diam saja! Karena mereka tidak akan mengerti apa yang kamu inginkan. Mereka akan cenderung memaksakan kemauan mereka sama kamu. Ngerti?" Arsen membelai wajah Ara lalu menyematkan ciuman hangat di kening gadis itu. Wajah Ara langsung merah padam. Arsen tersenyum melihat wajah Ara yang memerah. Rasanya begitu menyenangkan.
"Kamu boleh baca buku di rak itu. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku." Bisik Arsen, Ara mengangguk patuh. Arsen mengusap kepala Ara sebentar lalu segera kembali ke mejanya.
Wanda benar-benar terbakar api cemburu. Matanya tampak menyala menatap Ara tajam. Ara hanya menunduk merasakan aura tak mengenakkan dari Wanda. Selama ini Wanda selalu berharap suatu saat Arsen mau melihatnya dan memandangnya dengan penuh cinta. Tapi apa ini? Arsen justru memandang wanita lain yang bahkan tidak sebanding dengan dirinya. Wanda benar-benar kesal dibuat nya.
๐๐๐๐๐๐๐๐
Yuk ah epribadeh ... Jangan lupa tetap semangat kasih gift buat othor. Mau mawar sekebon atau kopi secangkir. Othor mah orangnya nerima apa aja. Jangan lupa tekan jempolnya.