Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
Bab 52


⛅ Selamat membaca ⛅


Kurir ASI Zafa datang sedikit lebih siang. Bahkan nyonya Arini meminta si kurir untuk bertukar nomor ponsel dengan si kurir itu untuk memastikan semuanya sesuai rencananya.


Semalam ia mendapati putranya pulang dalam keadaan mabuk berat. Bukan ini yang nyonya Arini inginkan. Tapi ia tetap harus memberi pelajaran pada Gerry. Karena menurutnya dengan Dian masih memikirkan Zafa itu berati tidak sulit untuk meminta Dian kembali bersatu dengan Gerry. Namun nyonya Arini ingin putranya benar benar menunjukkan kesungguhannya.


"Ini nyonya.." kurir itu mengantar box ASI baru.


"Terimakasih, ini tolong kembalikan box yang sebelumnya." Ujar nyonya Arini lembut.


"baik nyonya, kalau begitu saya permisi." Pamit kurir tersebut.


Nyonya Arini membawa masuk box ASI bertepatan dengan Gerry yang sedang menuruni tangga.


"Apa yang mama bawa?" tanya Gerry.


Nyonya Arini tersenyum remeh. Ia benar-benar geram dengan sikap putranya.


"Mama akan jawab pertanyaanmu, jika kau juga menjawab pertanyaan mama."


"Apa ..?" tanya Gerry masih acuh.


"Kenapa kau tidak mencari menantuku, tapi justru kau malah mabuk²an?"


Gerry diam ia tak mungkin menceritakan tentang isi surat Dian yang ditulis untuknya pada ibunya. Ia tak ingin menyakiti hati ibunya jika tahu menantu kesayangannya meminta cerai.


Bahkan Gerry benar benar frustasi memikirkan kondisi Dian yang sedang berbadan dua.


"Baik jika kau memilih diam, maka mama juga punya hak untuk tidak menjawab pertanyaanmu." Nyonya Arini berlalu dari hadapan Gerry, saat ini ia menghindari pembicaraan berat dengan putranya. Ia memilih segera menyerahkan box ASI Dian pada pengasuh Zafa.


"Ini dari non Dian lagi nyah?" tanya bi Yuni, kedua pengasuh itu merasa jika Dian begitu baik dan tulus pada Zafa.


"Ssstt .. pelan pelan ngomongnya. Gerry di rumah." ujar nyonya Arini memperingati pengasuh Zafa itu.


"Maaf nyah .." sesal bi Yuni. nyonya Arini mengangguk, ia lantas membuka box itu. Disana ada 8 pack ASI untuk Zafa seperti biasa.


.


..


...


"Iya sayang."


"Apa harus pergi sekarang?" tanya Dian berat hati. Padahal seminggu ini ia sangat bahagia berkumpul kembali dengan keluarganya.


"Ayah sudah terlalu lama meninggalkan perusahaan sayang." Ujar tuan Hanafi mengelus puncak kepala Dian.


"Tapi Dian masih kangen ayah."Rengek Dian, Nino berdecak melihat drama keluarga pamannya itu.


"Ayo paman, pesawatnya satu jam lagi take off." Ujar Nino tak sabaran.


"Jika kau bosan, ajaklah ibumu jalan²."


.


..


...


Tak terasa waktu bergulir begitu cepat, kandungan Dian menginjak usia 5 bulan, selama kepergiannya, Dian sudah berkali kali bertemu anak tirinya, ia meminta bantuan nyonya Clara untuk mempertemukan dirinya dengan nyonya Arini dan Zafa. Namun hari ini ada yang berbeda, sepulang dari kafe milik nyonya Clara, Dian merasa seperti ada yang mengikutinya dari tadi. Dian merasa ketakutan, ia mempercepat langkahnya, hingga tubuhnya terhuyung karena tersandung batu. Dian yang terkejut seketika ia terpejam dan memeluk perutnya yang sudah membulat itu dengan erat. Namun bukannya terhempas ke tanah Dian merasakan aroma maskulin yang sangat ia rindukan memeluk dirinya. Dian membuka matanya perlahan, dan benar saja pria itu sedang menatap Dian, dengan tatapan penuh kerinduan. Dian berusaha bangkit dari posisinya, namun lengan kokoh Gerry menahan pinggang Dian.


"Apa sudah cukup bagimu bersembunyi dariku?" ujar Gerry dengan suara parau. Tak di pungkiri selama ini dia merindukan istri keduanya itu. Bahkan ia tak segila ini saat dulu Selena meninggalkannya. Ia juga melupakan keberadaan putranya karena sibuk mencari keberadaan Dian.


Dian menatap Gerry dengan perasaan bersalah, Gerry tampak kurus, dagunya di tumbuhi bulu bulu halus, sangat berantakan tak seperti Gerry yang dulu yang selalu tampil elegan dan menawan.


"Aku merindukan kalian." ujar Gerry lirih, ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Dian, namun dari bahunya yang bergetar Dian tau pria ini sedang menangis, bahu Dian pun terasa basah. Hati Dian menjadi terenyuh, ia membalas pelukan Gerry dengan erat.


🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼


part ini dikit banget, buat ngurangi rasa penasaran kalian. nanti kalo bisa othor lanjut kalo ga besok siang othor Up lagi. Maafkan RL ku lagi benaran susah disambi, tadi mau nyicil nulis aja bontotku udah naek ke meja makan.


mau ijin libur lama takut kalian ninggalin aku 😭😭 jadi kalo kadang panjang kadang pendek aku cuma minta kalian maklumin ya. Dulu cuma punya anak 1 aku kasian dia ga punya temen, eh sekarang giliran udah nambah satu lagi, jadi malah tiap hari bikin rame yang Gedhe minta diperhatiin, nah yang bontot laki mana boleh emaknya dibagi.. 😂