
*******
Sejak Didi bertemu Viona malam itu, Didi jadi rajin berlatih menembak, dan memperdalam ilmu beladirinya. Bagaimanapun ia akan melindungi istri dan anaknya dari niat jahat Archel dan Viona.
Dibantu oleh Diego, Apri dan Sigit, Didi mengasah segala kemampuannya. Tekatnya untuk melindungi anak dan istrinya begitu kuat hingga membuat Didi begitu cepat menguasai tehnik-tehnik yang mereka ajarkan kepadanya.
"Bagaimana ..?" tanya Didi setelah dia melakukan tembakan beruntun pada objek berjalan dan selalu mengenai tepat sasaran.
"Anda benar-benar hebat tuan." Kata Diego memuji Didi, Apri dan Sigit pun sama-sama mengacungkan ibu jarinya. Didi tersenyum puas.
"Tuan, menurut informasi dari orang-orang ku kemarin Viona bertemu dengan kedua temannya yang bekerja di klub." Lapor Apri pada Didi.
"Rencana apa lagi yang mereka susun? sepertinya aku harus waspada." --- Didi menatap Sigit sesaat "Sigit hubungi Alex untuk untuk menahan kedua wanita ular itu."
"Ok .. " Sigit segera merogoh ponselnya dan menghubungi Alex.
Tak berapa lama, Alex sudah meringkus kedua wanita itu. Mereka tampak ketakutan saat Alex menatap mereka tajam.
"Apa salah kami?" teriak Dena.
"Karena kalian masih berhubungan dengan Viona." Tegas Alex singkat.
Sementara itu Archel menatap dua foto wanita yang akan menjadi targetnya.
Seringai licik terbit di bibir Archel. Selin adalah targetnya, dan wanita yang ia ketahui bernama Dian adalah target Viona membalas dendamnya dulu. Namun ia tak memungkiri jika Dian terlalu cantik untuk dilewatkan.
Viona berpikir dia akan sekalian membalas penolakan Gerry dan perlakuan kasar pria itu pada wanita itu. Usaha Viona tak menghianati hasilnya, setelah berupaya mencari tahu informasi tentang Gerry akhirnya Viona mendapat informasi tentang alamat sekolah Anak² Gerry sekaligus sekolahan putri Selin.
"Kau tidak boleh gagal sayang." Ujar Archel seraya menggesekkan hidungnya ke tengkuk Viona.
"Tentu, kau tenanglah! Kali ini aku akan lebih berhati-hati." Desis Viona merasakan suhu tubuhnya meningkat karena tangan Archel bergerak meraba bagian sensitifnya.
Lenguhan Viona terdengar memenuhi ruangan saat Archel menyatukan tubuh mereka dari arah belakang. Viona menggigit bibir bawahnya saat merasakan hentakan Archel yang begitu kuat. Ia mengerang dan merintih ketika Archel mempercepat tempo gerakannya, hingga tubuh Viona bergetar. Kakinya terasa lemas menumpu tapi Archel masih belum ada niatan melepaskan tubuh Viona. Gerakan Archel semakin kasar dan menggila, tak lama kemudian ia mengerang.
"Aaarghh ..." Archel mere*mas area sensitif viona bagian atas.
.
.
.
Kehangatan begitu terasa di keluarga besar Kusuma. Pagi ini semua sedang berkumpul karena anak-anak mereka sudah memasuki tahun ajaran baru. Judy menjadi murid baru di sekolah Zayn dan Zayana.
Semua bersiap karena para anak-anak akan diantarkan oleh Dian dan Selin. Sekaligus mengawasi anak-anak mereka.
Setelah berpamitan dengan para tetua mereka akhirnya mobil yang membawa Dian, Selin dan anak-anaknya berangkat meninggalkan kediamannya. Dibelakang mereka ada satu mobil yang setia mengikuti mereka yang berisi Diego dan teamnya semua atas perintah Rian. Bagaimanapun Rian tidak bisa menutup mata jika keselamatan ibu dari putrinya terancam bahaya. Rian benar-benar akan membunuh siapapun yang membuat putrinya bersedih.
Setibanya di sekolah bertaraf internasional itu Dian dan Selin turun dari mobil seraya menggandeng anak² mereka. Selin menggandeng Judy dan Dino karena Sasa masih belum bisa mengantar putra mereka. Sedangkan Dian mengandeng Zayana karena Zafa dan Zayn tidak pernah mau menunjukkan kedekatan mereka pada ibunya di depan umum. Dan Dian dapat memakluminya.
Tanpa mereka sadari sejak tadi ada dua mobil yang mengawasi gerak gerik mereka.
⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅
Jangan lupa like, komen, vote juga boleh, hadiah juga ga nolak. Pokoknya othor tu orangnya pasrah nriman.