Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
S2. Takut Kehilangan


*********


Dian terbangun saat ia merasakan suhu panas di sampingnya. Dia terlonjak kaget saat menyentuh tubuh Gerry yang terasa menyengat. Bahkan pria itu terlihat menggigil.


"Mas .. mas Gerry. Mas .. bangun mas!" Dian menggoyangkan tubuh Gerry namun sepertinya pria itu tidak merespon dirinya.


Dian segera bangun dan mengambil baskom air dan mengisinya dengan air hangat. Dia mengambil handuk kecil dan mulai mengompres tubuh suaminya. Dian membuka piyama Gerry yang basah oleh keringat. Ia mengambil handuk kering dan menyekanya.


"Bagaimana ini? Ya Tuhan .. sembuhkan suamiku." Gumam Dian. Setelah mengganti piyama Gerry dengan susah payah Dian turun dan mencoba membuat sesuatu untuk suaminya.


Kebetulan saat itu ibu Arimbi sedang menyiapkan kue untuk cucu-cucunya.


"Kenapa wajah kamu begitu sayang?" tanya Nyonya Arimbi.


"Mas Gerry sakit bu," Ujar Dian sedih.


"Sabar ya nak. Suamimu itu saat ini hanya butuh dukungan dari kamu. Pasti berat jadi dia yang harus memikul beban yang sebenarnya bukan salah dia sepenuhnya." Kata ibu Arimbi.


"Iya bu Dian tahu, aku juga berharap semuanya baik-baik saja. Apalagi meskipun mas Gerry masih bisa tersenyum tapi Dian menangkap kesedihan di mata mas Gerry.


Dian membuat minuman herbal untuk suaminya dari campuran jahe, serai, jeruk nipis madu dan cengkeh. Minuman hangat yang bisa membuat berkeringat. Ia juga membawa bubur buatan sang ibu.


Saat Dian masuk dia mendapati Gerry sudah duduk bersandar di headboard.


"Mas sudah bangun?" Dian mendekat dan menyimpan nampannya diatas nakas. Ia menyentuh dahi dan leher Gerry dengan telapan tangannya.


"Diminum dulu mas .. "


"Terimakasih sayang .. " Gerry menerima cangkir yang berisi minuman herbal itu dan meminumnya. Rasanya hangat dan menyegarkan.


"Mas pasti kecapekan, Dian mengambil kotak obat di laci bawah nakas. Dia mengeluarkan termometer dan mendekatkannya pada kening Gerry. Dian melihat angka digital yang keluar lalu menggeleng.


"Kita ke rumah sakit ya mas .. " Ujar Dian dengan wajah cemas.


"Aku ga apa-apa sayang .." Gerry menarik tubuh Dian dan mengungkung tubuh istrinya.


"Tapi mas ini panas mas Gerry sudah sampai 39.8 lho."


"Mungkin itu termometernya rusak." Kata Gerry enteng. Memang saat ini tubuhnya terasa lemas, dan kepalanya berdenyut tapi melihat wajah cemas Dian membuatnya urung mengeluh.


"Kalau begitu mas makan ya." Gerry mengangguk, Dian mengembalikan termometernya kembali ke kotak obat dan mulai menyuapi Gerry dengan bubur buatan ibunya.


Setelah selesai Dian memberikan obat penurunan panas pada Gerry namun pria itu menolaknya.


"Mas ayo diminum obatnya setelah itu mas bisa istirahat lagi. Aku mau ke tempat Judy. Gadis itu kembali berulah jika tidak bertemu Zayn sehari saja." Kata Dian, namun Gerry tetap menolaknya.


"Mas kenapa ga mau minum obatnya?" wajah Dian tampak kesal.


"Kau terlalu berlebihan sayang, aku hanya butuh istirahat. Nanti juga sepulang kamu dari rumah Didi aku pasti sudah jauh lebih baik."


Dian tersenyum tapi bukan senyum manis melainkan senyum miris.


Gawat sepertinya aku salah bicara. Batin Gerry


"Sayang .. " Gerry memanggil Dian tapi wanita itu sama sekali tidak menjawab atau menoleh.


Gerry berdiri dan memeluk tubuh Dian. "Sayang .. "


"Istirahatlah, bukannya tadi kau bilang mau istirahat." Kata Dian datar namun suaranya terdengar bergetar dan parau. Gerry membalik tubuh Dian, kini mereka saling berhadapan. Mata Dian memerah namun wanita itu enggan menatap Gerry. Gerry tersenyum lalu memasukkan Dian ke dalam pelukannya.


"Jangan seperti ini ..! maafkan aku, aku tidak bisa melihatmu bersedih." Ujar Gerry mengusap rambut Dian. Dian mendekap tubuh Gerry dan terisak. Sensitif, satu kata yang menggambarkan Dian saat ini. Dalam keadaan tidak hamil saja dia mudah bersedih apalagi sekarang dirinya tengah hamil.


"Kenapa kau mudah sekali menumpahkan air mata .. hmm?"


"Apa mas tau seberapa khawatirnya aku saat tau mas sakit? sejak kita menikah hingga sekarang aku hampir tidak pernah melihat mas sakit. Jika mas sampai kenapa-kenapa lalu bagaimana denganku mas, aku ga bisa hidup tanpa kamu mas. Aku ga akan sanggup. Trus anak-anak nanti gimana?"


"Sayang, aku hanya sedang lelah dan pikiranku sedang terlalu banyak makanya aku sakit. Tapi percayalah aku baik-baik saja." Ujar Gerry mengecup berkali-kali pelipis Dian.


"Baiklah mana obatnya aku akan minum supaya kamu tenang ya .." Akhirnya Gerry memilih mengalah, Dian menyerahkan obat itu pada Gerry lalu Gerry segera meminumnya.


Dian kembali memeluk suaminya. "Jangan sakit lagi mas, aku benar-benar ga bisa kehilangan kamu."


"Aahh .. istriku manis sekali." Ujar Gerry membalas pelukan Dian.


.


.


.


Singapura


Aldo dan Veni sedang bersiap untuk pergi jalan-jalan menikmati sore berdua seperti orang yang berkencan.


Mereka berdua semakin lengket dari hari ke hari. Tiada hari tanpa bermesraan bagi keduanya seperti saat ini mereka sedang asyik jalan-jalan di Merlion Park yang dimana disana terdapat patung mermaid berkepala singa yang terletak di depan Fullerton hotel disamping bangunan "One Fullerton".


Meskipun mereka pernah tinggal disana hampir 5 tahun namun Veni tak pernah berkesempatan menikmati semua itu. Dia sibuk bolak-balik rumah sakit untuk chek up kondisinya. Bahkan setelah menikah pun Aldo tetap fokus pada kondisi Veni saat itu. Karena dokter mengatakan jika kanker yang di derita Veni bisa sewaktu-waktu kembali. Namun selama ini Aldo benar-benar menjaga kesehatan Veni, dari makanan dan minuman yang Veni konsumsi harus atas persetujuan Aldo. Berlebihan memang, tapi bagi Aldo sudah cukup ia melihat betapa Veni sudah berjuang untuk hidup di saat kematian mengincarnya. Namun karena kecerobohan Aldo lagi dan lagi hampir saja wanita yang ia cintai meregang nyawa.


Aldo asik mengabadikan gambar sang istri yang terlihat begitu bahagia, tawa Veni tak pernah tanggal dari bibir seksinya dan senyum itu menular pada Aldo. Bahkan beberapa momen tampak seperti photoshoot maternity karena saat itu veni mengenakan dress hitam berbahan rayon kualitas super premium yang menyerupai kain Sutra sehingga lekuk tubuh dan perut buncit Veni jelas terlihat. Tapi di mata Aldo kondisi tubuh Veni saat ini lah yang sangat ia sukai. Bahkan Aldo tergila-gila dengan lekuk tubuh Veni dengan perut yang membuncit. Dia berharap Veni masih bisa memberinya beberapa anak lagi hingga dia bisa lebih sering melihat perut Veni membuncit.


"Baby aku mau foto disana." Tunjuk Veni ingin mendekat ke arah ikon negara Singapura itu.


Aldo hanya tersenyum dan mengangguk menuruti kemauan Veni. Veni dengan tak sabarnya menarik tangan Aldo hingga pria itu terkekeh.


"Hati-hati baby .. " Ujar Aldo saat langkah Veni semakin lebar dan benar saja Veni tersandung kakinya hingga tubuhnya terhuyung tanpa sempat dapat Aldo tahan.


"Baby ... " Pekik Aldo


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


jangan bilang ini ngegantung lagi ya.. Othor udah potong pohon yang ada di depan rumah biar ga bisa buat ngegantung ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ