Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
Extra bab 2


⛅ Selamat membaca ⛅


Dian sudah selesai berkemas. Mempersiapkan kebutuhan anak-anaknya. Nyonya Arini masuk ke kamar cucunya dimana Dian berada.


"Kalian mau liburan kemana lagi? setiap libur panjang kalian selalu saja pergi. Mama jadi kesepian."


"Maaf ya mah, Semua ini mas Gerry yang mau. Katanya biar anak-anak tidak bosan." Kata Dian. Dian sampai sekarang masih belum bisa menceritakan kemana mereka selama ini pergi. Dian tidak ingin merusak kebahagiaan mama mertuanya.


"Terus kalian liburan kemana?" tanya nyonya Arini lagi.


"Ke Villa teman mas Gerry mah." Ucap Dian berbohong. Dian menyibukkan dirinya agar nyonya Arini berhenti menanyainya.


"Oh iya mama dengan Veni sudah menikah dengan Aldo?" tanya nyonya Arini. Dian tersenyum dan mengangguk.


"Iya mah, beruntung penyakitnya bisa di sembuhkan. Cuma mereka belum bisa kembali karena kondisi papanya Aldo sedang sakit keras." Kata Dian.


"Ya sudah. Nanti hati-hati selama perjalanan. Obat Zafa jangan sampai lupa. Nanti kalau sewaktu-waktu sesak nafasnya kambuh."


"Iya mah, khusus punya Zafa sudah Dian masukkan ke tas Dian."


Setelah barang-barang semua dimasukkan. Gerry beserta keluarganya berpamitan pergi. Ada perasaan mengganjal di hati Gerry setiap berpamitan. Karena sampai saat ini Sekar tidak ingin baik ibu maupun ayah Gerry tau keberadaannya.


.


.


.


Sekar sedang berbelanja ke pasar. Tanpa sengaja dirinya bertemu dengan tetangga samping rumahnya.


"Mak Ijah, tumben belanja banyak. Apa nona pemilik rumah datang?" tanya Sekar. Mak Ijah tersenyum.


"Iya Sekar. Nona datang kemarin malam. Bahkan sampai mendatangkan pak lurah dan pak Bukhori juga." Ujar Mak Ijah.


"Lho Memang kenapa Mak?" tanya Sekar penasaran. Pasalnya rumah yang di tempati oleh majikan Mak Ijah itu dulunya adalah rumahnya. Namun karena disana banyak kenangan tentang Gerald dan Ayah Gerry akhirnya Sekar menjualnya dan pindah ke kampung sebelah.


"Biasa pergaulan orang kota mbak Sekar." Kini Dijah yang menjawab.


"Oh .. nona pemilik rumah bawa pacarnya?" Sekar sudah menangkap garis besarnya. Memang di kampungnya masyarakat disana sangat religius dan memiliki aturan yang ketat secara turun temurun.


"Iya dan malam itu juga mereka dinikahkan." Kata Mak Ijah. --- " Tapi suaminya ganteng, kaya bule." Ujar Mak Ijah lagi.


"Ah Mak Ijah tau aja kalo ada yang ganteng gitu." Goda Sekar.


"Lha ini kok, kamu juga belanja banyak banget. Apa cucu-cucumu akan datang?" tanya Mak Ijah.


"Iya Mak, ini saya sudah selesai. Saya duluan ya Mak, Dijah." Pamit Sekar. Ia melanjutkan pulang menaiki motor matic miliknya.


"Mbak Sekar itu aneh ya Mak. Gerald meninggal kok sekarang tiba-tiba punya cucu." Ujar Dijah.


"Hus ga usah ngurusin orang lain." Kata Mak Ijah mengingatkan putrinya.


.


.


.


Saat di perjalanan Dian melihat Gerry selalu melamun. Lalu Dian menyentuh pundak Gerry.


"Mas tolong berhenti sebentar." Gerry menepikan mobilnya di tempat yang sedikit sepi.


"Ada apa sayang?" tanya Gerry bingung melihat Dian terdiam.


"Mas sadar ga, mas bawa nyawa 6 orang disini. Kalo mas nyetir sambil melamun. Mendingan kita ga usah liburan aja. Bukannya senang malah susah nanti kalo ada apa²." Ujar Dian kesal.


Gerry mengusap wajahnya. Ia menyadari kesalahannya. "Maaf ya .." Ujarnya.


Zafrina, Zafa dan twins menatap kedua orang tua mereka.


"Apa papa sakit?" tanya Zafrina.


"Kata guru Ina kalo ngantuk ga boleh bawa mobil papa. Biar mama saja yang nyetir. Papa bobo sini sama Ina." Kata Zafrina. Dian menoleh ke arah anak-anaknya dan tersenyum.


Dian lalu menyodorkan sebotol kecil air mineral untuk Gerry. Pria itu meminumnya hingga tandas.


"Kita cari penginapan di sekitar sini dulu saja. Mas hubungi Tante Sekar. Katakan kalo kita sedikit terlambat." Kata Dian memberi ide. Namun Gerry menggeleng.


"Mas sudah ga apa-apa." Gerry menengok ke belakang di kursi dimana anak-anaknya duduk --- "Maafin papa ya." Keempatnya mengangguk bersamaan.


Gerry kembali menjalankan mobilnya. Sebentar lagi mereka sampai. Ia tak ingin membuat Sekar menunggu.


Dian masih terus mengamati suaminya. Sesekali menengok kebelakang memastikan keadaan anak-anaknya.


Zayn putra mereka lebih pendiam dibandingkan saudaranya yang lain. Anak itu sedang memandang keluar jendela, Dian tersenyum melihatnya, padahal saudaranya yang lain sedang terlelap.


"Zayn, apa kau haus?" tanya Dian.


"No mama." Jawab pria kecilnya.


"Apa kau ingin pindah ke depan duduk bersama mama?" tanya Dian lagi. Ia melihat wajah pria kecilnya berbinar.


"Apakah boleh?" tanyanya lagi.


"Tentu sayang." Ujar Dian. Gerry lagi-lagi menepikan mobilnya agar Zayn bisa berpindah duduk di pangkuan Dian. Anak itu cenderung sering mengalah kepada saudaranya yang lain. Ia tak pernah mau membuat ibunya kerepotan mengurus dirinya. Karena ia tau meskipun ibunya jarang mengeluh tapi Zayn dapat melihat wajah lelah ibunya.


Dian membelai kepala putranya dengan lembut. Zayn duduk bersandar di dada Dian. Gerry hanya meliriknya dan tersenyum.


"Apa Zayn lelah?" tanya Dian. Zayn langsung menggeleng.


"Zayn cuma ingin cepat sampai. Zayn bosan ma." Kata anak itu.


Setelah beberapa waktu mereka sampai. Sekar menyambut cucu-cucunya dengan senyum yang merekah.


Dian turun menggendong Zayn. Pria kecil itu wajahnya mirip sekali dengan putra Sekar, Gerald.


"Cucu oma .." Sambut Sekar.


"Oma .." Teriak Zafrina dan Zayana. Mereka berlari memeluk Sekar. Senyum wanita itu merekah. Bahagia sudah pasti. Meskipun ia kehilangan putranya tapi Gerry memberinya empat cucu yang sangat menggemaskan.


Gerry sedang membenarkan jaket Zafa. Disana cuacanya sangat dingin putra pertama mereka rentan kambuh asmanya berada di cuaca seperti ini.


Setelah itu ia membawa Zafa dalam gendongannya dan mendekati Sekar.


Gerry memeluk Sekar sambil menggendong Zafa. "Apa kabar ma?" Tanya Gerry.


"Mama sangat baik dan sehat. Bagaimana kabar kalian?"


"Kami juga sehat ma. Papa juga sudah pulih." Jawab Gerry, ia tau kabar papanya lah yang paling ditunggu wanita itu. Sekar tersenyum, Gerry tau apa yang ingin dia dengar.


"Ayo masuk. Kalian pasti lelah." Kata Sekar. menggiring cucu-cucunya. Dian dan Gerry menurunkan bawaan mereka. Karena mereka akan ada disana selama satu Minggu.


"Apa mama senang di rumah ini?" tanya Gerry karena dia yang mencarikan rumah itu untuk Sekar dan membelinya."


"Ya, disini jauh lebih baik. Jika dirumah sana yang ada hanya kenangan. Mama tidak ingin berkutat dengan kubangan masa lalu." Kata Sekar. Dian dan Gerry sedang duduk di ruang tamu bersama Sekar. Sedangkan keempat anak-anak mereka bermain di halaman.


"Bagaimana kabar kamu sayang? kamu terlihat sedikit berisi." Nyonya Sekar melihat perubahan tubuh Dian."


"Iya ma, Dian akhir-akhir ini suka makan." Kata istri Gerry itu.


"Itu bagus. Yang terpenting tetap jaga kesehatan kalian." Ujar nyonya Sekar.


Tak lama Zayana masuk sambil berlari wajahnya kelihatan cemas.


"Mama, papa, kakak Zafa sakit." Ujar Zayana. Dian langsung berdiri dan berlari keluar membawa tasnya. Jantungnya seakan berpacu dengan cepat. Mendengar putra pertamanya sakit.


⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅


maaf ya kemarin othor ga up. Soalnya sibuk dengan RL othor.


Jangan lupa Vote, like dan komen juga hadiah kalian. Sedih banget rangking Novel ini turun. Rasanya jadi ga semangat lagi 😭😭