Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
S2. Ara


*******


Dian dan Gerry keluar dari gedung perusahaan Gerry yang begitu megah. Keduanya tampak sangat bahagia. Semua karyawan Gerry menatap kagum kearah keduanya. Berbeda saat sang Direktur Utama itu berpacaran dengan Selena yang ada hanya tatapan angkuh dan sombong yang tampak dari keduanya. Namun kini saat bersama Dian, Gerry terlihat seperti manusia normal yang lainnya. Hanya kedudukannya yang tak terjangkau.


"Mas, nanti kita mampir dulu ketempat abah Usman ya?" Ujar Dian, Alis Gerry bertaut, seperti pernah dengar Dian menyebut nama abah Usman.


"Itu mas, abah Us yang jualan martabak dulu mas pernah anter aku pas aku ngidam. Tapi nanti aku kasih tahu alamatnya. Kita langsung kesana aja mumpung belum terlalu sore."


"Kemana ...?"


"Ihh .. kerumah abah Us mas!" Ujar Dian kesal.


"Iya kemana? kamunya ga ngasih tau alamatnya si abah." Kata Gerry mengacak rambut Dian.


"Hehehe ... iya ya aku lupa." Kata Dian lalu memperlihatkan alamat abah Usman pada Gerry. Karena masih belum jam pulang kantor jalanan yang biasanya padat merayap kini sedikit lengang. Dalam waktu 30 menit Gerry sudah tiba di sebuah rumah sederhana. Dian berulang kali mengetuk pintu namun tak kunjung terbuka.


"Mungkin abah Us lagi ke pasar atau jangan-jangan udah mangkal yank ...!" Ujar Gerry dari dalam mobil. Dian melihat sekeliling rumah abah Usman, tanpa memperdulikan ucapan Gerry. Entah mengapa perasaan Dian mengatakan lain. Ada sesuatu yang terjadi pada abah Usman.


Dian melihat sekumpulan ibu-ibu tak jauh dari tempat itu. Dian pun menghampiri ibu-ibu itu.


"Maaf ibu-ibu. Saya Dian, saya kesini mau cari abah Usman. Tapi dari tadi saya ketuk-ketuk pintunya tidak ada yang membuka."


Ibu-ibu itu mengalihkan pandangan mereka pada Dian. Mereka menyorot Dian dari atas hingga bawah seolah sedang menilai wanita itu. Dian sedikit risih tapi demi bertemu abah Usman Dian hanya menahan perasaannya.


"Siapanya abah Usman?" tanya salah seorang dengan pandangan meremehkan Dian.


"Saya saudaranya dari jauh."


"Abah Usman sudah tidak disini. Dia diusir dari kontrakan."


Dian tercenung sesaat. "Ya Allah aku terlambat."


"Maaf apa sudah lama?" tanya Dian lagi. Dan salah seorang ibu-ibu yang dari tadi memilih diam kini bersuara.


"Kalau mau cari abah Us ada di pondok belakang sana neng. Abah Usman tinggal di dekat kandang kambing pak Sahlan." Kata ibu itu.


"Bisa ibu tunjukan dimana letaknya?" Tanya Dian sopan. Ibu itu mengangguk.


"Asal neng tau, abah Usman itu hutangnya banyak. Dia hutang di warung saya hampir sejuta. Eh giliran di tagih tar sok tar sok." Kata seorang ibu-ibu.


"Abah hutang sama ibu? Ada bukti dan saksinya."


"Ya mereka ini saksinya. Abah Us hutang beras hutang macam² buat makan. Si Ara suruh sekolah terus tapi buat makan sama tinggal aja merepotkan orang lain." Ketus ibu yang mengaku di hutang oleh abah.


Dian membuka tasnya mengeluarkan 20 lembar uang berwarna merah.


"Ini saya bayar lunas hutang abah, dan ini ada lebih buat ibu menambah dagangan. Terimakasih sudah membantu abah Usman. Tapi saya minta jaga aibnya jangan menceritakan hal seperti ini lagi pada orang lain." Kata Dian. Dian langsung berjalan meninggalkan ibu-ibu yang sedang terbengong kaget dengan tindakan Dian.


"Terimakasih bu, mau mengantar saya." Kata Dian, ibu itu tersenyum sopan pada Dian.


"Iya bu, sudah lama saya tidak kesini karena sibuk ngurus anak-anak. Oh ya bu, abah sudah lama tinggal di pondok?"


"Sudah neng, hampir satu tahun." Dian hanya mendesah berat. Andai saja abah Usman mau diajak pindah dulu. Dan tawaran Dian soal sekolah Ara diterima setidaknya abah tidak perlu bersusah payah mencari uang untuk Ara.


Dian merasa miris berada di depan pondok yang disebut oleh ibu itu. Ini lebih cenderung ke kandang kambing yang diperbesar. Air mata Dian menetes. Segera mungkin Dian akan melaksanakan amanat dari mendiang kakeknya.


"Assalamu'alaikum bah .. "


"Waalaikumsalam .. " Jawab seorang gadis muda. Matanya berbinar saat melihat kedatangan Dian.


"Teteh ... " Ara langsung memeluk Dian dan menangis. Dian perlahan mengusap punggung Ara hingga tangisan gadis itu reda.


"Abah teh, abah sakit. Tapi Ara bingung teh, Ara ga punya biaya buat berobat abah teh."


"Ya sudah, sekarang Ara siapin keperluan abah. nanti kita bawa abah ke rumah sakit ya." Ara mengangguk ia langsung masuk ke dalam pondok dan membangunkan abah, tubuh pria tua itu terlihat sangat renta dan rapuh. Dian menatap iba pada Abah. Dian merogoh tasnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang lalu menyerahkannya pada ibu yang tadi mengantarnya.


"Ibu mohon diterima. Terimakasih sudah mau mengantar saya sampai disini." Setelah menerima uang itu dan mengucapkan Terima kasih, ibu itu pergi dari hadapan Dian. Dian menghubungi Gerry untuk merapat di dekat kebun yang letaknya tidak jauh dari rumah lama abah.


Gerry turun dari mobil membantu Ara memapah abah Usman. Banyak pertanyaan dibenak Gerry namun hanya ia tahan. Saat ini yang terpenting abah Usman cepat mendapatkan penanganan. Gerry membawa abah ke rumah sakit miliknya. Ada untungnya juga dulu dia tidak jadi menjual saham rumah sakit itu.


Abah Usman langsung masuk ke ruang IGD sentara Dian dan Gerry ikut menunggu.


"Teh makasih banyak ya .. " Kata Ara dengan air mata yang tak pernah surut.


"Sudah .. sudah sekarang yang paling penting abah sembuh dulu. Kuliah kamu gimana?" tanya Dian.


"Aku sebenarnya mau nyerah aja teh, ga tega lihat abah pontang panting cari uang buat bayar kuliah yang mahal. Aku udah ngajuin beasiswa juga. Tapi kan cuma biaya semesteran yang ga bayar. Sedangkan untuk tugas-tugas masih keluar uang yang ga sedikit. Aku bilang sama abah biar aku kerja aja. Tapi abah malah marah teh, tiga hari ga mau ngomong sama Ara." Adu gadis itu, Memang sebentar lagi dirinya skripsi tapi semua butuh biaya. Bahkan diam-diam Ara sering ambil cuti untuk bekerja serabutan maka dari itu kuliahnya terbilang lama selesai.


Gerry menghubungi Arya agar mengurus segalanya yang berkaitan dengan abah Usman. Karena waktu mereka tidak banyak. Sebentar lagi acara tahlilan kakek Kusuma.


"Ara, nanti ada orang yang kesini namanya pak Arya. Dia yang akan mengurus segala keperluanmu dan abah. Sekarang kami harus pergi. Besok aku akan kesini lagi." Kata Dian. Ara sebenarnya takut sendirian tapi mau bagaimana lagi dia tak ingin dikira tak tau diri.


"Iya teh. Makasih ya teh." Ujar Ara. Dian kembali membuka tasnya dan menyerahkan sisa uang merah yang ada di dompetnya.


.


"Ini untuk pegangan kamu."


"Ya ampun teh, jangan banyak-banyak. Ara takut bawanya." Kata Ara, Dian melirik Gerry dan pria itu memberi isyarat pada Dian. Akhirnya Dian menguranginya dan hanya menyerahkan 10 lembar uang merah tadi.


"Ya sudah, ini untuk pegangan kamu. Bisa buat makan hari ini. Teteh pulang dulu ya." Ujar Dian lalu berpamitan pada Ara, begitupun Gerry.


🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴


Jodoh Arsen otewe ya..