
*******
Akhirnya jet pribadi yang membawa Selin, Kao dan Araya tiba di negara T. Mereka disambut para pengawal berpakaian serba hitam. Seorang pria paruh baya menyambut kedatangan mereka dengan tatapan yang sulit diartikan.
Selin mendekat dengan kepala tertunduk. Ia tak berani menatap sosok itu.
"Salam yang mulia raja." Sapa Selin, Kao dan Araya ikut menunduk dan menyapa raja Aaron.
"Salam yang mulia." Kao dan Araya menyapa. pria itu hanya mengangguk namun matanya tak lepas dari sosok putri bungsunya.
"Apa kau sudah puas bermain diluar." Tanya Raja Aaron, meskipun suaranya lembut namun nada ketegasan tampak jelas terdengar.
"Maaf ayah." Hanya kata itu yang terucap dari bibir Selin.
"Ayah. sebaiknya kita selesaikan masalah ini di istana disini ada banyak paparazi." Kata Kao mengingatkan ayahnya.
"Biarkan saja mereka menulis tentang kita. Toy adikmu ini tidak hanya sekali melempar kotoran ke wajah ayah." Ujar raja Aaron. Selin hanya menunduk dan menitikkan air matanya. Araya merangkul tubuh Selin. Memberikan dukungan untuk gadis itu.
Iring-iringan mobil istana meninggalkan bandara. Selama dalam perjalanan bibir Selin tertutup rapat, dia terus menunduk sama sekali tak berani menatap sang ayah.
Sesampainya di istana, Selin langsung turun dari mobil dan berlari masuk kedalam istana. Rasanya sangat tak sabar untuk melihat keadaan ibunya.
Selin sudah berada di depan kamar pribadi raja Aaron dan yang mulai ibu ratu. Ia membuka pintu kamar yang besar itu perlahan. kakinya seakan terpaku melihat sosok ibundanya terbaring lemah tak berdaya. Seorang pria muda menghampiri Selin dengan tatapan menghunus. Sesampainya di dekat Selin tangannya bergerak menampar pipi Selin dengan keras. Hingga wajah Selin menoleh ke samping. Sudut bibir Selin berdarah, namun ia tetap menunduk tak berani menatap sang kakak.
"Mark .." Teriak Kao dan raja Aaron berbarengan. Sedangkan Araya berlari mendekat ke arah Selin dan merangkulnya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Araya, Selin mengangguk.
"Mark kenapa kau tampar adikmu?" Desis raja Aaron.
"Tidak apa-apa ayah, aku memang pantas mendapatkan tamparan." Ujar Selin menggenggam tangan ayahnya yang terangkat.
Pandangan mata Selin kembali tertuju pada sosok ibunda ratu yang terbaring lemah di ranjang, kakinya perlahan mendekat dan ia jatuh bersimpuh di samping ranjang ibundanya.
"Ibu ratu .." panggil Selin lirih. Perlahan-lahan kelopak mata sayu itu terbuka mendengar suara gadis yang sangat ia rindukan.
"Selina .." Desis ibu ratu.
"Iya ibu, ini aku selina."
"Selina .. sayang." Setitik air mata lolos jatuh membasahi wajah tirus dan pucat wanita paruh baya itu.
"Ibu maafkan aku. Kutuk aku Bu, aku yang menyebabkan ibunda jatuh sakit." Ujar Selina.
Yang mulia ratu menggeleng lemah. Ia mengangkat tangannya mengusap wajah pucat sang putri.
"Apa kau tidak bahagia diluar sana nak?" tanya ratu pada Selin. Air mata Selin yang sedari tadi ditahan luruh juga akhirnya.
"Ibu .. maafkan aku. Aku sudah mengecewakan ibu dan ayah." Kata Selin. Semua mata kini terpaku menatap interaksi antara Selin dan ibunya.
"Kau tidak salah nak, kami yang salah. Kami memaksakan keinginan kami padamu." Ratu mengusap air mata Selena dan sudut bibir Selina yang berdarah.
Selin hanya tergugu menangis di samping ranjang ibunya.
Raja Aaron memerintahkan semuanya meninggalkan tempat itu. Raja Aaron ingin berbicara bertiga dengan istri dan putrinya.
Setelah pintu tertutup raja Aaron mendekati putrinya. Ia mengusap lembut kepala Selin, dari begitu banyak rasa kecewa yang ia rasakan terselip rindu pada putri kecilnya yang menjelma menjadi gadis yang cantik.
"Apakah sangat berat tinggal diluar sana?" tanya raja Aaron dengan lembut. Ia duduk di kursi samping ranjang.
"Tidak ayah. Aku hidup cukup baik diluar sana." Kata Selin sembari menunduk.
"Angkat wajahmu putri Selina." Kata Raja Aaron, Selina mengangkat wajahnya. Ia menatap sang raja yang sudah menjatuhkan air matanya.
"Ayah .." Selina memeluk raja Aaron dengan erat. Pelukan yang selalu ia rindukan, dekapan seorang ayah.
"Apa kau baik-baik saja sayang." Selina mengangguk tanpa berkata apa-apa. Lidahnya terasa kelu. Suaranya tercekat di kerongkongan.
"Ayah, ibu maafkan Selina. Selina berjanji akan memperbaiki semuanya." Ujar gadis itu.
"Ssshh .. sudahlah. Sebaiknya kau istirahat dulu. Kamu pasti lelah sayang." Kata Ratu Rakila.
"Baik ibunda terimakasih." Selin meninggalkan kamar kedua orang tuanya. Menuju kamarnya untuk mengistirahatkan dirinya.
.
.
.
Didi sudah jauh lebih baik, setelah berbicara dengan seorang psikolog. Ia menumpahkan segala beban yang mengganjal di hatinya. Namun masih ada satu hal yang akan membuatnya bangkit dari keterpurukan.
"Kak, terimakasih saranmu." Kata Didi pada Arya. Wajah Arya tak seperti biasanya, Didi dapat melihat itu semua. -- "Ada apa kak?" tanya Didi.
"Kapan kau bertemu Selin?" tanya Arya.
"Kemarin malam kak. Memang ada apa?" tanya Didi penasaran. Kenapa kakaknya menanyakan Selin, apakah kakaknya juga menyukai Selin? batin Didi gusar.
"Selin bilang apa padamu?" tanya Arya lagi, dan hal itu semakin menguatkan dugaan Didi.
"Apa kakak juga menyukai Selin, apa kakak juga menginginkannya?" tanya Didi sedikit emosi.
Arya tersenyum kecut mendengar tuduhan adiknya yang tak beralasan. Dirinya hanya mencemaskan Selin dan kandungannya tidak lebih."
"Apa kau benar ingin tahu kenapa aku mencemaskan dirinya?" Tanya Arya. Dan Didi masih menatap Arya dengan tajam, namun tak urung dia mengangguk.
"Karena dia membawa calon keponakanku, itulah mengapa aku begitu mengkhawatirkan dirinya."
DUAR ..!!
Bunyi petir menggelegar di luar, begitu juga dengan hati Didi yang tiba-tiba membeku mendengar ucapan Arya.
"Maksud kakak apa?" tanya Didi.
"Maksudku seperti yang kau tangkap barusan, kau masih bisa mendengar perkataanku dengan jelas bukan?"
"Apa maksudmu Selin hamil kak?" Tanya Didi bergetar.
"Iya .. dia hamil. Dan itu pemicu kenapa setiap hari kau merasakan mual dan selalu muntah."
"Bagaimana kakak bisa tahu?" tanya Didi masih yg tak percaya.
"Kau pikir selama ini aku akan membiarkan korban dari kebia*dapan adikku pergi begitu saja? aku bukan dirimu Ardian." Kata Arya memanggil nama lengkap adiknya.
Didi terdiam, jika dirinya tau Selin hamil anaknya pasti sejak semalam dirinya tak akan membiarkan Selin pergi begitu saja.
"Aku harus mencarinya kak. Dia membawa anakku." Ujar Didi.
"Kau akan mencarinya kemana? dia akan kembali jika sudah waktunya. Sekarang yang perlu kau lakukan ubahlah hidupmu. Agar kelak ketika Selin datang membawa anakmu kau pantas bertemu dengannya." Kata Arya meninggalkan Didi.
Seakan mendapatkan cambukan yang begitu menyakitkan. Namun mampu membuat Didi bangkit dan berubah menjadi pribadi lebih baik.
⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅
Wes angel-angel. Tadinya mau up sekitar jam 10 trus mendadak WA grup sekolah anakku bunyi terus tanpa henti. Mau buka nanggung mau cuek ga bisa. Ya wes akhirnya aku buka Wa donk ya. Eh tanpa sadar sebelumnya gambar tempat sampah di draf ketekan.
Setelah anakku belajar Wa ditutup otomatis masuk draf tulisan aku lagi. Lha si anak nanya mah ini setuju atau batal? maklum ya baru kelas 1 SD pasti males baca pertanyaannya. Ya aku sambil ngecek tugas dia bilang setuju.
Eh lha dalah begitu buka lho kok episode yang tadi nulis ga ada. Udah tak reset² ga bisa. Ya wes nulis ulang lagi. Sumpah sekolah kaya gini bikin keteteran.
***Btw ini part 5 tahun yang lalu udah ya. Kita nanti langsung menjelajah 5 tahun kemudian.
Jempol nya tolong di pencet saudara-saudara sekalian**.