Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
Bab 75


⛅ Selamat membaca ⛅


Burhan mengepalkan tangannya, saat mendapat informasi dari orang suruhannya. Hidupnya yang begitu timpang dengan kehidupan para sahabatnya membuat ia selalu iri dengan keberhasilan mereka.


Setelah menceraikan isterinya di Bandung sejak kepergian Veni, Burhan memilih ke Jakarta untuk mengadu nasib. Ia memilih jalan menjadi pengedar obat obatan terlarang. Untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Pertemuannya dengan Veni di klub milik Aldo pun karena Burhan sedang bertransaksi di sana. Dan kebetulan pria kaya yang membeli Shabu adalah orang yang memboking Veni. Tak sampai disitu bisnis ilegalnya yang mulai berkembang membuat dia memiliki beberapa kaki tangan untuk mengedarkan barang barang haram tersebut. Tuan Soni bahkan sama sekali tak tau bisnis ilegal sahabatnya itu, hingga beberapa kali ia sempat memberi suntikan dana pada Burhan. Karena Burhan beralasan ingin merintis usaha baru. Tanpa menaruh curiga tuan Soni memberikan bantuan modal dalam jumlah yang tak sedikit.


"Apa kau yakin?" Tanya Burhan dengan wajah yang memerah menahan amarah.


"Saya yakin tuan. Lihatlah!" kata orang suruhan Burhan yang ia minta untuk mengawasi Soni.


Burhan mengambil ponsel orang itu, ia melihat sendiri bagaimana Soni tampak senang berada di dekat Hanafi. Ia juga melihat video putrinya sedang bersujud di kaki Hanafi. Darahnya seketika mendidih. Ia akan balas semua penghinaan yang telah keluarga Hanafi lakukan pada putrinya.


"Apa acaranya sudah selesai?"


"Sudah tuan, dan putri anda sepertinya menginap disana." jawab orang itu


"Sepertinya aku sudah tidak bisa berdiam diri lagi. Aku akan kacaukan acara mereka. Berani-beraninya mereka membuat putriku yang berharga bersujud di kaki mereka."


"Apa yang akan anda lakukan?"


"Aku akan buat pesta itu menjadi hari berkabung untuk mereka."


Tanpa Burhan sadari di sekeliling Hanafi terdapat orang-orang yang bahkan tak bisa tersentuh olehnya. Dia hanya menggali kuburannya sendiri karena rasa dendam dan iri yang menyatu.


.


..


...


"Dian, aku benar-benar malu padamu." Kata Veni saat mereka sedang duduk di ruang keluarga. Hanya ada mereka dan Gerry juga Aldo. Karena Veni memaksa ingin bicara dengan Dian.


"Ven, aku percaya semua yang aku lewati bagian dari takdir yang telah Tuhan tentukan untukku. Dan aku terima itu dengan lapang dada. Mungkin jika tidak ada andil darimu. Aku juga tidak akan berakhir disini." Ujar Dian dengan bijak.


"Aku berharap masih bisa menemuimu setelah aku menjalani pengobatanku disana."


"Tentu saja, kau harus sembuh. Apa kau tak ingin melihat keponakan-keponakanmu lahir?" jawab Dian, dan Veni mengangguk antusias.


"Ya aku ingin. Tapi aku juga tidak terlalu berharap banyak. Sampai saat ini Tuhan sudah begitu baik padaku. Mengirimkan orang sebaik paman, kamu, bibi dan juga Aldo. Aku tidak ingin terlalu serakah. Aku sadar dengan banyaknya kesalahanku dulu yang tak termaafkan" Entah mengapa ucapan Veni mampu membuat sudut hati Aldo terasa nyeri.


"Kau tau Tuhan itu pemaaf Ven. Sebanyak apapun dosa yang kita lakukan, tuhan pasti akan mengampuni kita." Dian tau Veni dalam kondisi sakit parah.


"Ya kau benar, tapi aku percaya Tuhan akan membawa kebaikan untuk hidup kita. Bukankan selalu ada pelangi setelah hujan. Anggap saja ujian yang kau alami adalah hujan dan nanti kebahagiaan yang menantimu adalah pelangi."


Veni mengangguk. Entah mengapa hatinya merasakan ada firasat buruk yang akan terjadi. Tapi ia memilih memendamnya sendiri.


.


..


...


Saat ia akan duduk disebelah Selena, ponsel Rian bergetar. Melihat nama pemanggilnya Rian langsung keluar dari ruang ICU. Tapi karena ia melangkah sambil memperhatikan ponselnya ia tak sengaja menabrak seseorang.


Bruk ..!!


"Maafkan saya nak, saya terburu-buru." Kata wanita paruh baya itu. Rian langsung mengangkat kepala saat mengenali suara wanita itu.


"Tante ..!"


Wanita itu tampak terkejut melihat Rian disana. Wajahnya langsung pias. Ia langsung menggenggam jemari Rian.


"Jangan katakan pada Gerry dan Dian, jika tante ada disini Tante mohon." Ucap nyonya Arini mengiba, Rian menjadi tak tega melihat wajah wanita paruh baya itu.


"Sebenarnya kenapa tante disini?" tanya Rian. Mau tak mau, nyonya Arini menceritakan pada Rian. Ia ingin pria itu dapat menyimpan rahasianya.


"Mantan suami tante sedang dirawat di ruang ICU di ujung lorong itu. Kata dokter umurnya tak akan lama lagi. Dia sampai sekarang masih bernafas karena alat-alat yang menunjangnya."


"Kenapa Gerry dan Dian tidak boleh tau tante?"


"Gerry membenci ayahnya. Tante tidak mau Gerry sampai tau jika ayahnya sedang terbaring lemah."


"Tante, sebenci apapun seorang anak pada orang tuanya pasti tak akan mengalahkan rasa cinta yang dimiliki untuk mereka. Aku yakin Gerry tidak akan marah, ataupun tetap membenci ayahnya jika tau saat ini ayahnya sedang bertaruh nyawa." Kata Rian, tak lama ponselnya kembali bergetar dan ia harus segera mengangkatnya.


"Angkatlah, siapa tau itu penting. Aku juga harus segera kembali kesana. Ujar nyonya Arini melihat raut sungkan yang Rian tunjukkan. Ia pun harus segera melihat kondisi mantan suaminya.


Jujur saja rasa cinta nyonya Arini pada mantan suaminya begitu besar. Namun penghianatan yang suaminya lakukan sangat melukai hati Gerry yang saat itu beranjak remaja. Apalagi sampai hadir seorang anak. Gerry begitu terluka. Karena tak ingin putranya mengalami gangguan psikis, nyonya Arini menuruti kemauan Gerry untuk berpisah dengan suaminya. Hingga pertemuan mereka setahun yang lalu kembali membuka kotak cinta di hati nyonya Arini. Apalagi melihat kondisi sang mantan suami yang begitu ringkih dan rapuh. Ditambah wanita yang menjadi istri simpanannya suaminya memilih kabur dengan laki-laki lain. Sepertinya karma langsung dibayar tunai. Tuan Gama Sudrajat merasakan sakitnya dihianati, hingga ia menderita sakit jantung.


Cinta memang bisa menutup mata setiap insan yang sedang dilanda asmara. Begitupun nyonya Arini, ia masih tetap menyimpan rasa cintanya untuk sang suami meskipun penghianatan yang suaminya lakukan, tanpa diketahui oleh Gerry. Padahal dulu Gerry selalu mendorongnya untuk kembali memiliki pasangan. Namun ia memilih sendiri dan menyimpan cintanya untuk mantan suaminya.


Rian langsung mengangkat panggilan dari ibunya.


Rian : " Halo mah."


Nyonya Santika : "Apa kamu tidak akan pulang lagi sayang?"


Rian : "Sepertinya begitu mah, Rian masih ada urusan." Jawab Rian bohong.


Nyonya Santika : "Kamu tidak sedang menyembunyikan sesuatu dari mama kan Rian?"


Rian : "...."


Nyonya Santika : "Rian Al Fares, jawab mama!"


Rian : "Tidak mah, Rian harus segera pergi. Rian tutup dulu ya mah." Rian langsung mematikan sambungan teleponnya dengan sang mama.


⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅


akhirnya bisa Up lagi. Dari kemarin dibuat galau sama sistem eror NT..


Ayo ayo jangan lupa like komen. dan hadiah kalian. biar othor semangat nulisnya.