
********
"Didi ..!" Jerit Selin histeris.
Judy yang sedang pulas tertidur di pangkuan Didi menjadi terkejut mendengar mommy nya berteriak.
Didi menyerahkan Judy pada Araya, lalu dia mendekat kearah Selin, wajah Selin sembab karena menangis. Dia langsung memeluk tubuh Didi dan terisak dipelukan pria itu.
"Maaf, maafkan aku melupakanmu selama ini."
"Sshh .. tak perlu kau pikirkan. Yang terpenting sekarang kau mengingatku." Ujar Didi memeluk Selin erat. Judy menyusup diantara mommy dan daddynya. Suasana haru itu di saksikan sendiri oleh Kao. Ia menjadi yakin alasan adiknya menyembunyikan identitas Didi karena tak ingin keluarganya atau orang lain mencelakai Didi.
"Mommy, apa mommy sudah ingat Daddy?" tanya Judy penasaran. Selin tersenyum miring dan mengangguk.
"Iya sayang, maaf karena mommy melupakan Daddy Judy." Kata Selin mengecup puncak kepala Judy. Begitupun Didi ikut menghujani wajah Judy dengan ciuman berkali-kali.
Sejenak mereka melupakan si sumber masalah yang sedang mengatur rencana untuk melenyapkan Judy. Meski tahu jika Selin pernah hamil tak membuat Archel memadamkan obsesinya.
"Bagaimanapun segera temukan mereka." Titah Archel kepada anak buahnya.
"Baik bos, laksanakan." Ujar anak buah Archel serempak.
.
.
.
Selin terus memandangi Didi. Ia benar-benar takut jika pria itu akan menjadi seperti yang ada dalam mimpinya tadi. Mimpi yang mengingatkan dirinya akan sosok yang sangat dia cintai sekaligus dia rindukan. Seperti saat di pengasingan. Tak sedetikpun Selin melupakan Didi. Selin berharap dia diasingkan bersama dengan Didi.
"Kenapa memandangi ku seperti itu? Didi melempar senyum manisnya kepada Selin.
"Aku hanya ingin membayar 5 tahun yang hilang dengan memandangmu sepuasnya." Kata Selin meletakkan kepalanya di atas tangannya.
"Pandangi aku sepuasmu." Ujar Didi mengusap kepala Selin. Keduanya ada di kamar Selin. Sedangkan Judy sudah terlelap. Sedang yang lain keluar dari kamar itu. Untuk memberi waktu kedua insan itu saling melepas rindu.
"Selina, aku akan berusaha sebaik mungkin agar bisa pantas menjadi pendampingmu." Kata Didi.
"Kau sudah pantas untukku." Kata Selin. Didi tersenyum dan merengkuh tubuh Selin masuk ke dalam dekapannya.
"Aku mencintaimu Selin." Bisik Didi.
"Aku juga mencintaimu. Mencintaimu sampai mati Didi." Kata Selin menyusup kedalam dekapan Didi.
Selin langsung terlelap. Sedangkan Didi masih memikirkan cara untuk melindungi Selin dan putri mereka. Setelah melihat Selin benar-benar terlelap Didi beranjak dari tempat tidur dengan sangat hati-hati dan perlahan agar Selin tak terusik tidurnya.
Didi keluar dari kamar. Balkon di dekat ruang tamu terbuka Didi segera menghampiri seseorang yang sedang asik menyesap nikotinnya dan menenggak wine di tangannya.
"Apa kau bisa menjamin keselamatan adikku dan keponakanku?" tanya Kao.
"Aku tidak bisa menjanjikan sesuatu yang aku sendiri sanggup melakukannya atau tidak. Tapi aku berjanji padamu akan menjaga keduanya dengan nyawaku sebagai taruhannya." Ucap Didi dengan yakin. Kao menyodorkan segelas Wine pada Didi, dan pria itu langsung menyesapnya.
"Dia sudah begitu menderita selama ini. Hanya untuk melindungi keluargamu." Kata Kao matanya menerawang di kegelapan malam, setelah mendengar penjelasan Araya tentang Didi dan Selin 5 tahun yang lalu. Dan alasan Selin memilih pergi meninggalkan Didi.
"Aku tau, dan aku ingin menebus semuanya."
"Tidak semudah itu. Ayahku sudah begitu kecewa dengan Selin. Aku tidak tau apakah kau sanggup menghadapi kemarahannya atau tidak.
"Aku akan menghadapi semuanya demi Selin." Ujar Didi penuh keyakinan.
Kao tersenyum, ia dapat melihat dengan jelas kesungguhan Didi. Ada kelegaan di hati Kao melihat sosok ayah Judy bukanlah pria lemah. Ia yakin ayahnya akan merestui Selin dan Didi meskipun akan melewati beberapa ujian terlebih dahulu.
.
.
.
"Daddy wake up!" teriak Judy. Selin hanya tertawa melihat tingkah putrinya. Didi membuka matanya sedikit lalu menarik Judy kedalam pelukannya dan menggelitiknya.
Gadis kecil itu tertawa dan berteriak.
"Dady geli .. no dady stop." Didi menghentikan gelitikannya dan menciumi Judy dengan gemas.
"Dady jangan cium aku. Dady bau .." kata Judy menutup hidungnya. Didi tertawa dan mengusap kepala putrinya.
"Baiklah Dady akan mandi dulu." Kata Didi bangun dari tidurnya. Dia mendekat kearah Selin dan mengecup puncak kepalanya.
"Benar kata putrimu, kau sangat bau." bisik Selin.
"Biar saja bau. Yang penting kau mencintaiku." Kata Didi. Selin tersenyum mengusap dagu Didi yang ditumbuhi bulu-bulu halus.
"Aku meminjam baju kakak yang baru untukmu." Kata Selin, Didi tersenyum dan berlalu masuk ke kamar mandi. Sesampainya disana ada rasa haru yang menyeruak di hati Didi. Satu setel pakaian santai tersedia di atas kasur. Handuk dan perlengkapan mandinya sudah Selin sediakan.
"Ah, seandainya kau istriku. Pasti akan sangat menyenangkan sekali." Desis Didi.
"Ia hanya berharap bisa segera meminang Selin untuk menjadi istrinya. Dan semoga orang tua Selin tidak mempersulit dirinya.
Tapi semua itu hanya akan menjadi harapan Didi. Karena raja Aaron akan membuat perhitungan pada laki-laki yang sudah membuat putrinya menderita.
.
.
.
Selepas mandi Didi duduk di ruang makan, Selin menyediakan kopi dan roti panggang. Judy sedang menikmati serealnya tanpa suara. Karena itu aturan yang harus dia lakukan untuk menjaga tata Krama.
"Bisa kita bicara?" tanya Didi pada Selin.
"Dady, jangan bicara saat makan itu tidak sopan." Tegur Judy. Didi tersenyum dan mengacak rambut gadis kecilnya.
"Baiklah, maafkan Dady sayang." Ujar Didi.
Selin hanya tersenyum. Ia kembali melanjutkan menyantap salad sayuran yang tadi dia buat.
Setelah selesai makan Selin mengajak Didi masuk ke kamar sedangkan Judy, Selin titipkan pada Araya.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Selin.
"Ini tentang seseorang bernama Archel. Aku tak sengaja mendengar seseorang menyebut namanya. Dan ingin menghabisi putri kita." Kata Didi, mata Selin membulat, tubuhnya bergetar hebat.
Didi segera menarik Selin kedalam pelukannya. "Aku berjanji akan melindungi kalian meskipun harus mempertaruhkan nyawaku." Bisik Didi, air mata Selin mengalir deras. Ia semakin takut mimpinya akan menjadi kenyataan.
Selin menggelengkan kepalanya kuat. "Tidak, kau tidak boleh melakukan apa-apa." Kata Selin berurai air mata.
"Bagaimana bisa kau memintaku untuk tetap diam sedangkan nyawa putri kita dipertaruhkan." Kata Didi menangkup kedua pipi Selin. Jemarinya mengusap air mata Selin yang membasahi pipinya.
"Kumohon Didi .. aku tidak akan sanggup kehilanganmu." Selin menggenggam pergelangan tangan Didi.
"Apa kau kira setelah 5 tahun kita berpisah aku akan diam saja mengetahui nyawamu dan Judy terancam. Jika sesuatu terjadi pada kalian berdua aku pun tidak akan sanggup. Biarkan aku melakukan sesuatu untukmu. Untuk putri kita. Kau sudah berjuang 5 tahun ini. Sekarang giliranku." Ujar Didi.
⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅
Senin Senin saatnya vote.. sumbangin ke Selin dan Didi ya love you sekebon 😘 😘