
⛅ Selamat membaca ⛅
Part berisi adegan 21+ mohon yang belum cukup usia menepi dulu.
Lima tahun kemudian
Dian sedang duduk di taman memperhatikan keempat anak-anaknya yang sedang bermain. Gerry berjanji padanya akan pulang siang ini.
"Zafa jangan lari nak, nanti jatuh." Ujar Dian dan tak lama anak itu benar-benar terjatuh. Dian berlari menyongsong putra pertamanya yang justru malah tertawa. Zafa memang sedikit berbeda dari anak-anaknya yang lain. Tapi anak itu yang paling istimewa dan selalu bisa mengerti Dian.
"Maaf mama." Ujar Zafa merasa bersalah tak mendengar ucapan ibunya.
"Apa ada yang terluka sayang?" tanya Dian sambil berjongkok menyamakan tingginya dengan putra pertamanya, Zafa menggeleng lalu memeluk Dian.
"Itu mamaku .." Teriak Zayana. Gadis itu selalu tidak suka jika ada yang memeluk Dian. Entah itu Gerry maupun anak-anaknya yang lain.
Dian merentangkan tangan yang satunya lalu ketiga anak-anaknya berhamburan memeluk tubuh Dian.
Disaat seperti itu Gerry datang dari arah samping, ia tersenyum bahagia melihat istri dan anak-anaknya.
"Kenapa hanya mama yang dipeluk papa ga dipeluk juga?" ujar Gerry pura-pura merajuk. Zafrina melepas pelukannya pada Dian dan berlari menyambut kedatangan papanya.
"Kenapa papa lama sekali." Tanya Zafrina.
"Papa tadi ada tamu sebentar makanya sedikit lama di kantor." Kata Gerry ia mencium puncak kepala Zafrina.
"Apa papi tadi mencariku lagi?" tanya Zafrina, Gerry tersenyum putrinya begitu kritis dalam bertanya.
"Iya, dan lagi-lagi dia tidak mau mencari mami untuk Zafrina. Papa benar-benar kesal." Ujar Gerry.
.
.
.
Zafrina meminta turun dari gendongan Gerry dan menghampiri ibunya.
"Mama, Ina mau telepon papi." Kata gadis kecil itu. Dian menatap Gerry, pria itu mengangguk.
Dian mengambil ponselnya dan melakukan video call. Saat sambungan terhubung Zafrina langsung meraih ponsel sang mama. Dian geleng-geleng melihat tingkah putrinya.
"Papi .." Rengek Zafrina saat video call tersambung. Wajah Rian nampak sedikit berantakan.
"Ada apa sayang?" jawab Rian.
"Papi lupa ya sama janji papi?" Ujar Zafrina kesal.
"No, papi tidak lupa. Tapi papa Gerry tidak memberi ijin sama papi, untuk membawa Zafrina liburan sayang."
"Kata papa Gerry boleh, asal papi bawa mami buat Ina." Rengek gadis itu. Rian mendengus kesal sedang Gerry yang duduk di samping Zafrina terkekeh melihat wajah Rian yang begitu frustasi.
"Sayang, papi harus cari mami yang benar-benar bisa sayang sama kamu. Papi ga bisa sembarangan memilih orang." Ujar Rian dengan wajah jengah mendengar rengekan putrinya yang selalu menginginkannya memiliki istri.
Wajah gadis kecilnya mulai berkaca-kaca.
"Papi ga sayang sama Ina, papi ga pengen deket-deket Ina. Papi jahat .. " Ujar Zafrina mulai menangis. Gerry langsung memeluk Zafrina. Memang sedikit keterlaluan tapi itu semua juga atas permintaan ibu Rian. Karena ia ingin melihat putranya menikah.
"Apa kita jadi ke rumah Tante Sekar mas?" tanya Dian, sudah hampir setiap tahun mereka liburan ke kampung halaman Sekar. Bukan hanya untuk bersilaturahmi tapi Gerry juga ingin mengunjungi makam sang adik.
"Iya jadi dong sayang." Jawab Gerry mengusap pipi istrinya yang terlihat sedikit chubby.
"Mas, mama masih sering nanya ke aku apa aku tahu siapa pendonor jantung papa." Kata Dian. Gerry tersenyum getir. Hatinya sering berdenyut nyeri setiap ada orang yang menanyakan hal itu.
"Itu rahasia rumah sakit sayang. Mas ga bisa kasih tahu. Demi menjaga privasi keluarga pendonor." Kata Gerry. Dian mendesah pasrah. Sepertinya memang sulit mengorek informasi dari suaminya itu.
.
.
.
Malam ini mereka beristirahat lebih awal. Karena besok mereka akan liburan ke kampung halaman Sekar.
"Sayang .." Gerry tersenyum melihat Dian memakai lingerie berwarna merah. Yang begitu kontras dengan warna kulitnya yang sebening porselen.
"Iya mas ada apa?" tanya Dian.
Gerry meletakkan buku yang ia baca dan melepas kacamatanya. Gerry menepuk sisi tempat tidurnya agar Dian mendekat padanya.
"Gerry langsung merengkuh tubuh Dian dan mulai mencium bibir istrinya yang terasa selalu manis. Ia me*lu*matanya dengan lembut dan penuh perasaan.
"Mas .." Desah Dian, saat ciuman Gerry turun menyusuri leher jenjangnya.
"Bolehkah malam ini kamu yang ambil alih permainan?" tanya Gerry dengan suara serak menahan hasrat yang mulai berkumpul di inti tubuhnya yang sudah menegang sempurna.
Dian mengangguk malu. Perlahan ia melepas atasan piyama Gerry. Gerry juga membantu Dian untuk melepas celana panjang yang Gerry gunakan.
Dian tersipu melihat senjata Gerry yang sudah tegak berdiri. Dian menggenggam pusaka itu dan mulai menji*lati dari ujung hingga ke pangkal. Ia lalu memasukkan senjata itu kedalam mulutnya. Gerry memejamkan matanya merasakan kenikmatan yang tak terbendung, tangan Gerry aktif bergerak mer*emas pantat Dian yang sintal.
Dian berdiri diatas Gerry ia menurunkan lingerie yang dia gunakan. Gerry menelan kasar salivanya melihat bodi istrinya yang sama sekali tak berubah. Dian mulai bersiap ia bertumpu pada pundak Gerry, dan menduduki senjata Gerry hingga tenggelam sepenuhnya di inti tubuh dian.
Keduanya sama-sama memejamkan mata, saat geleyar nikmat menguasai mereka. Dian mulai bergerak teratur. Nafasnya memburu. Gerry yang posisinya duduk meraih kedua gundukan yang menantang di hadapannya. Ia menghisap dengan rakus ujung buah ranum di dada Dian. Desahan dan erangan keduanya bersahutan memenuhi ruang kamar mereka yang begitu luas. Gerakan Dian mulai tak teratur. Gerry juga mulai membalas gerakan Dian dengan hentakan hentakan keras.
"Aah .. mas!" tubuh Dian menegang kakinya menjepit pinggang Gerry. Merasakan denyutan di inti tubuh Dian membuat Gerry ikut melenguh panjang dan menguarkan cairan sisa percintaan mereka.
Dengan mata yang masih terpejam Gerry menghisap ujung dada Dian semakin kencang hingga Dian mendesah lagi.
"Mas, sudah ya. Satu kali saja Dian capek." Kata Dian memelas. Gerry terseyum memeluk tubuh istrinya.
"Baiklah hanya sekali saja. Tapi sekarang kita bersihkan diri dulu setelah itu tidur." Ujar Gerry mengangkat tubuh Dian.
Gerry mendudukkan Dian diatas closed. Ia menyalakan air untuk mengisi bathtub dengan air hangat. Setelah menuang cairan aroma terapi, Gerry mengangkat lagi tubuh Dian dan menurunkannya perlahan kedalam bathtub untuk berendam. Gerry ikut bergabung. Dian bersandar di dada Gerry. Matanya terpejam merasakan kantuk yang begitu mendera.
"Sayang .. hei" Gerry menggoyangkan badan Dian namun istrinya tetap terlelap. Gerry membersihkan tubuh Dian. Istrinya itu mudah sekali tertidur sejak kejadian di rumah sakit sehabis melahirkan baby twins.
Setelah selesai Gerry memakaikan daster ditubuh Dian. Dia mengecup kening istrinya begitu dalam.
"I love you sayang." Bisik Gerry.
⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅
Tu kan ga tamat. 😂😂😂😂