Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
S2. Kabar Buruk


*******


"Sen .. " Mama Clara menghampiri Arsen yang terlihat sangat berantakan. Bahkan mama Clara membawakan baju ganti dan makanan untuk putra sambungnya. Ia sangat terkejut mendapat kabar dari Arya mengenai Ara.


"Mama .. " Arsen langsung masuk kedalam pelukan ibu sambungnya. Mama Clara mengusap punggung Arsen lembut.


"Mama yakin istrimu pasti kuat." Ujar mama Clara.


"Aku gagal menjaga dia ma .. "


"Baik mama, kamu dan yang lain tidak pernah tahu bahwa semua ini akan terjadi. Jadi ini bukan sebuah kegagalan. Kamu hanya belum memiliki kesempatan untuk melindunginya." ----- Sekarang kamu mandi lalu makan. Jangan sampai saat istrimu bangun dia justru sedih melihatmu seperti ini."


Arsen melepas dekapannya pada tubuh sang mama. Dia berjalan dengan lunglai menuju kamar mandi membawa paperbag yang baru saja diberikan mama Clara.


"Eugh ... "


Mama Clara menoleh saat mendengar suara lenguhan Ara. Dia pun mendekat ke brankar menantunya itu. Mama Clara menekan tombol emergency agar dokter datang.


Tak lama dokter dan suster berdatangan. Arsen yang mendengar suara keramaian langsung keluar dari kamar mandi dengan tergesa-gesa.


"Ada apa ini mah?" Tanya Arsen cemas.


"Ara sudah siuman. Dokter sedang memeriksanya, tenanglah ..!"


Tak lama setelah memeriksa kondisi Ara Dokter keluar bersama beberapa perawat yang tadi mengganti perban di kepala Ara. Mama Clara pamit dengan alasan restonya. Kini hanya tinggal Arsen dan Ara berdua di ruangan itu.


Arsen mendekat dengan mata yang sudah berkabut.


"Aa .. " Lirih Ara, Arsen mendekat memaksakan senyumnya.


"Ra .. " Suara Arsen terdengar parau.


"Kenapa A' ..?" Ara menatap Arsen, ia tahu suaminya sedang berusaha menahan air matanya.


"Ga apa-apa. Kamu apa yang terasa sakit?" Suara Arsen semakin tercekat. Ara tersenyum lembut dan menggenggam jemari Arsen.


"Ara baik-baik saja A' .. " Ujar Ara, seketika jatuh sudah air mata Arsen yang sejak tadi ia tahan-tahan. Bukan karena dia pria lemah lalu menangis. Tapi Arsen benar-benar tidak bisa melihat gadis yang ia cintai terluka. Seakan jika bisa Arsen akan bersedia bertukar posisi menggantikan Ara dan menangung semua sakitnya.


"Semua salahku Ra, aku ga becus jagain kamu."


"Sshh .. jangan ngomong seperti itu aa!" Ara meringis saat merasakan nyeri di kepalanya.


"Kenapa Ra? sakit ya ..?" Ara menggeleng lemah. Bohong itulah yang saat ini dia lakukan. Ia tak ingin membuat suaminya semakin mencemaskan dirinya dan semakin membuatnya merasa bersalah,


"Kenapa cemberut Ra?" Tanya Arsen.


"Pasti sekarang aku kelihatan jelek ya Aa."


.


.


.


"Mama, papa mana sih?" tanya Zayana dia merasa bosan karena Zafrina sudah pulang ke kediaman Rian. Sejak mengetahui maminya hamil gadis itu sulit sekali dibujuk untuk berkunjung ke mansion Dian.


"Papa lagi ada pekerjaan di luar kota sayang." Ujar Dian mengusap kepala Zayana.


"Mama telepon papa dong!" Rengek gadis kecil itu lagi. Akhirnya Dian mau tak mau menghubungi Gerry, baru satu kali deringan wajah Gerry sudah terpampang di layar ponsel Dian.


"Halo sayang, apa kau merindukanku?" tanya Gerry menggoda Dian, wajah Dian seketika merah padam. Namun ia kemudian berdehem untuk menepis rasa malunya karena di goda oleh Gerry.


"Mas, Ana mau bicara."


"Papa, papa dimana? Ana bosan pa .."


"Ana mau dibawakan apa?" Tanya Gerry lembut.


"Ana mau liburan sama papa mama."


"Baiklah princess, asalkan princess Ana janji tidak boleh nakal dan jangan menyusahkan mama. Nanti kalo papa pulang kita liburan." ---- Gerry


"Iya sayang .. Ana tolong berikan ponselnya pada mama ya." Gerry berkata sambil mengulas senyumnya, Dian kembali menatap ponsel dimana wajah sang suami terlihat sangat lelah.


"Bagaimana kondisi mama Sekar sayang?" tanya Dian, Gerry menggeleng lemah.


"Kondisi mama buruk, mereka telat membawa mama. Sampai sekarang mama belum sadar trombositnya terlalu rendah." Tak lama dokter berlarian masuk ke ruang perawatan mama Sekar. Gerry tidak langsung mematikan sambungan teleponnya hingga dengan jelas Dian dapat mendengar bunyi alat pendeteksi jantung yang berbunyi nyaring.


"Maaf tuan, nyonya Sekar tidak dapat kami selamatkan." Ponsel yang Dian pegang meluncur jatuh. Tubuhnya bergetar, air matanya luruh tanpa bisa di tahan. Zayana yang masih duduk di samping Dian pun menjadi terkejut.


"Mama kenapa ma .. " Tanya Zayana namun tangisan Dian semakin kencang. Zayana yang ketakutan langsung berlari keluar mencari bantuan


"Bibi Esih, tolongin Ana mama nangis." Ujar Zayana panik. Zafa dan Zayn yang sedang asik membaca seketika membuang bukunya dan berlari menghampiri ibu mereka.


"Mama ... mama kenapa?" Zayn dan Zafa menatap cemas mamanya yang masih sesenggukan menangis.


"Sayang .. " Dian memeluk Zafa dan Zayn lalu menangis di bahu kedua pria kecilnya.


.


.


.


Sementara itu keributan telah terjadi di rumah besar Gama. Setelah sekian lama kembali bersatu ini kali pertama mereka bertengkar.


"Kenapa mas harus bohong .. " tanya mama Arini pada suaminya.


"Aku tidak berbohong Rini. Memang itu kenyataannya." Desis Tuan Gama.


"Tapi kenapa Gerry berkata lain. Kenapa Gerry berkata kau meninggalkan Sekar."


"Ya aku memang meninggalkannya tapi saat aku berniat kembali padanya dia pergi bersama pria lain." Ujar tuan Gama.


"Jelas saja. Jika aku jadi Sekar aku juga pasti akan meninggalkanmu. Kau pikir bisa seenaknya datang dan pergi sesukamu?" mama Arini memegang keningnya yang terasa berdenyut.


"Kita tunggu Gerry pulang. Untuk sementara aku akan tinggal di rumah Gerry. Aku perlu waktu untuk bisa menerima semua ini."


.


.


.


Aldo dan Veni kini sedang kembali merajut hubungan yang pernah terburai. Keduanya sedang menonton di ruang keluarga menggunakan home teather.


"Tadi aku telepon ibu Arimbi. Tapi sepertinya ada sesuatu yang aneh." Kata Veni sambil bersandar di dada bidang Aldo.


"Aneh gimana?"


"Seperti habis menangis."


"Mungkin ada sesuatu yang belum bisa beliau ceritakan padamu."


"Aku tau, tapi semoga saja bukan masalah serius." Ujar Veni.


"Kau yakin ingin menetap di sini?" Aldo kini sedikit membungkuk agar dapat melihat wajah istrinya


"Ya aku yakin, sangat yakin malah." Jawab Veni. ---- "Aku ingin memulai semuanya disini." Aldo tersenyum dan membelai rambut Veni. ia meraup dagu Veni dan melu_mat bibir istrinya yang begitu memabukkannya.


"Uhmm .. " Veni melenguh saat tangan Aldo bergerak nakal memilin ujung gunung kembarnya. Saat ciuman itu semakin lama semakin menuntut. Hasrat keduanya sudah mulai terpercik dan siap meledak. Aldo sudah melepas atasan yang Veni kenakan, bibirnya menyusuri leher jenjang Veni dan menghi_sapnya perlahan hingga Veni menjerit lirih.


"Aargh .. "


Veni benar-benar terbuai dengan permainan Aldo. Bahkan saat Aldo menurunkan roknya Veni hanya pasrah saja.


"Bolehkah ..?" Bisik Aldo seraya menji_lat cuping telinga Veni.


"Hhmm .. " Veni mengangguk. Tanpa menunggu lama dengan gerakan lembut Aldo menindih tubuh Veni dan melakukan penyatuannya.


๐ŸŒณ๐ŸŒณ๐ŸŒณ๐ŸŒณ๐ŸŒณ๐ŸŒณ๐ŸŒณ๐ŸŒณ๐ŸŒณ๐ŸŒณ