Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
S2. Siapa pendonornya?


*********


Tak ada lagi yang bersuara setelah apa yang Gerry ungkapkan. Baik Hanafi maupun Arimbi tidak ada yang bersuara, mereka hanya jadi pendengar karena mereka sama sekali tak tahu menahu tentang masalah yang menimpa keluarga besannya. Yang mereka tahu Gama berselingkuh sehingga mereka berpisah. Namun siapa yang menyangka masalahnya akan serumit ini.


Gerry menarik nafas panjang. Masih ada satu ganjalan lagi di hatinya haruskan dia menyampaikannya atau tetap menyimpan rapat-rapat rahasia itu.


"Lalu jika begitu berati kau tahu siapa yang mendonorkan jantungnya untuk papa Ger?" ---- Tanya mama Arini. Belum juga Gerry selesai berpikir tiba-tiba pertanyaan yang selama ini dia hindari akhirnya terlontar dari bibir ibunya.


Tuan Gama kembali melempar tatapannya pada Gerry. "Itu privasi pendonor, dan Gerry tidak bisa melanggar janji Gerry pada mereka." Pada akhirnya Gerry memilih bungkam. Gerry tidak ingin melanggar janjinya pada mama Sekar dan Gerald. Gerry tidak akan menambah daftar kepahitan dalam hidup papanya.


Nyonya Arini masih menatap curiga wajah Gerry yang membuang muka saat mengatakannya. Ia tahu putranya menyembunyikan sesuatu.


Apa jangan-jangan ..? pikiran nyonya Arini tertuju pada satu hal. Tapi mungkinkah?


"Apa kami kenal pendonornya Ger?" suara mama Gerry bergetar saat menanyakan hal itu.


"Ma .. " tuan Gama mencoba menahan sang istri agar tidak menekan Gerry. Namun dirinya juga penasaran.


"Jangan bilang jika .. " ucapan nyonya Arini terputus seakan bibirnya kelu.


"Mama terlalu jauh berpikir." Kata Gerry mengetahui apa yang akan ibunya katakan.


"Katakan jika begitu seharusnya rumah sakit memiliki berkasnya. Apa mama harus ke rumah sakit dan meminta Arya mencarinya?" Suara mama Arini semakin terdengar parau.


"Apa yang kamu pikirkan ma .. mungkin memang itu permintaan pihak mereka." Tuan Gama mencoba memperingatkan istrinya.


"Katakan Gerry jangan diam saja ..!"


"Gerry rasa hanya itu yang perlu kalian tau. Maaf aku tidak bisa mengatakan apa-apa lagi." Gerry bangkit dari duduknya dan meninggalkan ruang keluarga dengan tanda tanya besar dari semua pihak terlebih nyonya Arini.


.


.


.


Setelah pertemuan keluarga itu Gerry memilih menggunci dirinya di dalam ruang kerja. Dian dapat mengerti betapa berat penderitaan yang Gerry alami selama ini. Terlebih mungkin rasa kecewa dan marah terhadap dirinya sendiri.


Gerry menyandarkan tubuh dan kepalanya di sofa. Matanya terpejam mengingat pertemuan pertama dan terakhirnya dengan Gerald, Ada rasa sesak yang menghimpit dadanya. Mengingat tatapan teduh adiknya itu. Tanpa terasa bulir air matanya mulai turun membasahi sudut mata Gerry. Nyeri itu lah yang Gerry rasa saat ini menjaga hati kedua orang tuanya dan menjaga janji pada almarhum adiknya dan juga almarhumah mama Sekar.


Dian mengetuk pintu ruang kerja Gerry saat hampir saja mata Gerry terpejam. Saat ia melirik arloji nya Gerry terkejut ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam.


Gerry membuka pintunya lalu tersenyum lembut pada Dian.


"Maaf mas tadi ketiduran." Ujar Gerry seraya membelai wajah Dian. Wanita itu tersenyum lembut lalu mendekap tubuh suaminya.


"Aku hanya mencemaskanmu mas. Tadi malam kau makan hanya sedikit. Apa kau mau makan sesuatu?"


Gerry menggeleng seraya tersenyum.


"Tidak ada .. sebaiknya kita istirahat. Aku tidak mau kau kelelahan nantinya." Kata Gerry.


Gerry mendekap erat pinggang Dian dan membawanya naik ke kamar mereka.


"Tidur lah dulu ..! aku harus membersihkan diri." Gerry merebahkan tubuh Dian dan mengganjal sisi kiri dan kanan pinggang Dian dengan bantal agar nyaman.


Tak lama Dian langsung terpejam karena dia juga merasa lelah dan kantuk.


"Kau benar-benar seperti bintang yang bersinar terang Dian. Dan aku beruntung memiliki kamu." gumam Gerry. Dia mengambil piyama dan memakainya. Setelah itu ia ikut merebahkan dirinya dan memeluk tubuh Dian lalu terpejam. Dia butuh istirahat saat ini untuk menenangkan jiwanya yang sedang terluka.


.


.


.


Pagi ini Judy lagi-lagi membuat ulah. Dia mengunci pintu kamarnya dan tidak mau keluar. Hanya karena Didi melarang gadis kecil itu untuk ke mansion Gerry menemui pangerannya.


"Sayang, dengarkan Dady ..! jika Judy terus seperti ini dady akan bilang pada uncle Gerry untuk mencarikan pacar untuk Zayn dan yang jelas bukan Judy. Karena Judy ga nurut sama dady dan bikin momy khawatir


"Noo .. Dady jahat. Dady ga sayang Judy." Dari arah belakang Didi, Selin memukul pundak pria itu.


"Dia sedang merajuk dan kau justru membuatnya semakin susah di beritahu." Ketus Selin, Didi hanya nyengir lalu minggir dari pintu membiarkan istrinya yang bertindak.


"Sayang Judy, dengerin mommy ya! Judy ingat apa kata onty Dian? Zayn suka dengan gadis yang menurut kata orang tua. Jadi kalo Judy ga menurut dengan mommy atau daddy pasti nanti Zayn juga ga mau dekat dengan Judy." Kini suara lembut Selin mencoba memberi pengertian. Dan benar saja tak lama terdengar bunyi kunci pintu yang sedang di putar.


Selin tersenyum ia berlutut menyamakan tingginya dengan putrinya. "Judy mau jadi anak baik atau anak nakal?"


"Anak baik mommy .. "


"Jika begitu apa yang harus Judy lakukan?" Selin mencoba memberi pengarahan pada putrinya.


"Judy harus nurut .. "


"Nah itu tahu .. mommy kan bilangnya bukan ga boleh kesana. Tapi nanti kalau nenek ratu dan kakek pulang. Sekarang Judy minta maaf dulu sama daddy." bujuk Selin, Judy melirik Didi sekilas lalu mengulurkan tangannya tanpa menatap sang ayah. Didi sebenarnya gemas melihat tingkah puterinya, ia menarik tangan Judy hingga tubuh kecilnya tertarik dan masuk kedalam pelukan Didi. Ia menggelitik gemas anak itu hingga menjerit kegelian.


.


.


.


"Ra bangun .. " Bisik Arsen, Ara hanya menggerakkan tubuhnya sebentar lalu kembali tidur.


"Bentar bah .. Ara masih mau tidur sebentar." Ujar gadis itu seraya menaikan selimut. Arsen tertegun saat Ara tanpa sadar menyebut Abahnya.


"Kamu pasti sangat merindukan Abah Ra .. Aku tau kamu hanya pura-pura bahagia. Aku tahu kau masih belum bisa melepas kepergian Abah hingga sekarang." Lirih Arsen seraya membelai wajah Ara.


Beruntung ini hari minggu. Arsen meninggalkan Ara dan membiarkan gadis itu menikmati harinya. Arsen mengambil kunci mobil. Dia akan membeli sarapan karena waktu sudah menunjukkan pukul 8 lebih.


Ara membuka matanya dan melihat sekeliling.


"Kenapa sepi sekali Aa kemana?" Ara bangun dari ranjang menuju kamar mandi. Setelah membersihkan diri Ara turun, di dapur Arsen sedang membuat minum.


"Maaf ya Aa .. Ara bangun kesiangan."


"Ga apa-apa Ra, sekarang kita sarapan yuk! Tadi aku beli bubur ayam." Kata Arsen menarik tangan sang istri menuju meja makan. Ara malu bukan main, harusnya dia yang melayani suaminya tapi kenapa ini justru terbalik.


๐Ÿ’ซ๐Ÿ’ซ๐Ÿ’ซ๐Ÿ’ซ๐Ÿ’ซ๐Ÿ’ซ๐Ÿ’ซ๐Ÿ’ซ๐Ÿ’ซ


Senin guys time to Vote me


jangan lupa birukan jempol kalian