
********
Zayn membawa Judy ke tendanya sementara beberapa orang masih mencari keberadaan Shanaz dan Febi.
Dino masih mengikuti sepupunya itu, ia sangat mencemaskan kondisi Judy. Karena tadi saat menemukan Judy, Dino sempat melihat Judy menangis.
"Kenapa kau mengikutiku?" tanya Zayn ketus.
"Aku hanya ingin mengetahui kondisi Judy."
"Dia akan baik-baik saja selama ada aku." Kata Zayn. Akhirnya Dino mengalah, jika saja tak mengingat peringatan papa dan mamanya mungkin dia akan menikung Zayn dan berusaha untuk memperebutkan Judy secara terang-terangan.
"Terimakasih Dino .. " Ucap Judy.
"Kau sudah berterimakasih tadi." Protes Zayn, bibir Judy langsung mengerucut kesal dengan sikap posesif kekasihnya itu.
Setelah mendapat penanganan medis, dan ijin untuk meninggalkan kegiatan, Zayn dan Zayana membawa pulang Judy ke mansion mereka. Seorang pelayan membukakan pintu mansion untuk mereka.
Saat tiba di mansion hari sudah sangat larut bahkan bisa di bilang menjelang pagi. Dengan hati-hati Zayn membawa tubuh Judy yang terlelap ke dalam kamarnya, sedangkan Zayana langsung masuk ke dalam kamarnya sendiri. Zayn membaringkan tubuh Judy dan menyelimuti gadis itu, setelah itu Zayn masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Pagi menjelang Dian terkejut mendapati anak kembarnya sudah ada di mansion. Ia pun semakin bersemangat untuk segera mengatakan niatannya menemui putra pertamanya.
"Kalian kapan pulang?" tanya Dian saat melihat Zayana ada di dapur untuk mengambil minum.
"Tadi jam 2 sampai mansion mam, Judy terluka. Dan putra posesifmu itu memaksa untuk membawa Judy pulang." terang Zayana seraya duduk di kursi meja makan
"Lalu dimana mereka sayang?"
"Masih tidur mungkin ma, Zayn membawa Judy ke kamarnya." Jawab Zayana santai. Namun Dian langsung membelalakkan matanya.
"Apa .. ?" Dian bangkit dari duduknya dan segera naik ke kamar Zayn.
"Sayang mau kemana?" Gerry meraih tangan Dian, namun wanita itu tetap berjalan dengan tergesa-gesa menuju kamar putranya. Gerry akhirnya mengikuti langkah kaki Dian karena penasaran.
Dian membuka pintu kamar Zayn dengan hati-hati tanpa bersuara. Gerry hanya menatap aneh dengan tingkah istrinya. Namun sedetik kemudian begitu pintu terbuka suara Gerry menggelegar membuat Dian, Judy dan Zayn terjengkit kaget.
"Zayn .. beraninya kamu!!"
Judy yang belum tersadar dengan kondisinya saat ini bangun dengan menggaruk rambutnya. Sedang Zayn masih mengumpulkan kesadarannya. Dian mengusap lengan suaminya agar dapat meredam kemarahan pria itu.
Begitu pintu terbuka, yang nampak di depan mata Gerry dan Dian adalah Zayn tidur dengan bertelanjang dada posisinya memeluk tubuh Judy.
"Ini masih pagi pa, kenapa papa berteriak?" tanya Zayn yang belum sadar dengan kesalahanya. Gerry mendekat dan menarik telinga Zayn, suara Zayn yang mengaduh membuat kesadaran Judy terkumpul sepenuhnya.
"Aww .. aww .. papa apa-apa sih?" Gerutu Zayn mengusap telinganya yang memerah.
"Kamu yang apa-apaan, Ternyata begini kelakuan kamu. Papa benar-benar kecewa sama kamu Zayn." Tegas Gerry.
"Papa terlalu berlebihan, kami hanya tidur karena aku lelah papa, lagipula Judy sedang terluka mana mungkin aku macam-macam sama dia." Jawab Zayn tanpa dosa. Dian dibuat geleng-geleng kepala dengan jawaban putranya.
"Jadi kalau Judy tidak terluka kamu mau macem-macem sama Judy?" tanya Dian, wajahnya terlihat sangat kecewa.
"Onty, uncle maafin Judy ini salah Judy jangan marahi Zayn." Ucap Judy dengan mata berkaca-kaca. Dian menarik nafas panjang.
"Tapi memang ini salah Judy uncle, jangan marahi Zayn."
"Biarkan saja mereka marah baby. Biar mereka lebih cepat menikahkan kita." Kata Zayn tanpa basa basi. Gerry mengusap wajahnya kasar. Putranya ini benar-benar menguji kesabarannya.
"Baiklah, sepertinya kalian memang harus dinikahkan sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan dan mencoreng nama baik keluarga." Kata Gerry tegas. Judy mengangkat wajahnya menatap Gerry tak percaya.
"Menikah uncle?" beo Judy.
"Ya, uncle akan hubungi orang tua kamu. Dalam waktu dekat kita akan membahas semua. Karena Uncle dan Onty akan ke Amerika untuk menemui Zafa. Jika kami meninggalkan kalian tanpa ikatan hal itu tentu beresiko."
"Tapi uncle .. "
"Kenapa sayang? apa kau tidak ingin menikah dengan Zayn?" tanya Dian lembut. Zayn langsung mengalihkan tatapan matanya pada sang kekasih.
"Kamu menolakku baby?" tanya Zayn.
"Ti-tidak Zayn, tapi apa kita tidak terlalu cepat?" wajah Zayn terlihat tidak suka dengan jawaban Judy.
"Sudah tidak perlu berdebat pagi-pagi, semua akan papa atur. Segera ke ruang makan ..! setelah makan papa ingin berbicara dengan kalian semua."
Gerry menggandeng tangan sang istri dan membawanya pergi dari kamar putranya.
Zayn masih menatap tajam kearah Judy. "Katakan kau mau tidak menikah denganku?" Wajah Zayn terlihat sangat serius.
"A-aku mau Zayn, tapi apa tidak terlalu cepat. Aku takut jika kita menikah muda kita akan mudah saling menyakiti."
"Jangan mencari alasan yang tidak mungkin terjadi. Kau sangat mengenalku dengan baik begitupun aku. Aku akan beri kau waktu berpikir sementara aku mandi. Jika kau memilih untuk menundanya aku tidak bisa menjamin apakah akan ada pernikahan untuk kita di lain hari." Kata Zayn.
Wajahnya berubah datar. Dia sedikit berharap untuk bisa menjadikan Judy hanya miliknya seorang. Tapi ia tak menyangka Judy akan bereaksi seperti itu. Zayn mengguyur kepalanya di bawah shower. Ia butuh mendinginkan kepala dan hatinya.
Apakah Judy masih meragukan keseriusannya?
Sementara Zayn mandi dengan pikiran kacau, Judy cenderung gugup mendengar kata menikah, ia tak menyangka akan secepat ini. Namun sudut hatinya masih sedikit ragu apakah Zayn benar-benar ingin serius dengan hubungan mereka. Menikah bukan perkara yang mudah seperti berpacaran ketika tidak ada kecocokan maka dengan mudah bisa berpisah.
Tak lama pintu kamar mandi terbuka, Zayn hanya memakai handuk sebatas pinggang. Judy membuang wajahnya yang memerah.
"Mandi dulu setelah ini kita bicara." Ujar Zayn datar, Judy hanya mendesah berat, ia berlalu menuju walk in kloset dimana beberapa potong bajunya sudah Zayn sediakan di sana jika dia menginap.
"Zayn, aku mau menikah denganmu." Ujar Judy sebelum menutup pintu kamar mandi.
Wajah Zayn langsung bersemu merah, kedua sudut bibirnya tertarik ke atas.
"Yes .. akhirnya kau akan menjadi milikku seorang Judy. Aku mencintaimu .. " Gumam Zayn senang. Setelah Judy selesai mandi ia dan Zayn berjalan bergandengan menuju ruang makan. Zayana sudah cemberut menatap sepasang kekasih itu.
"Kalian keterlaluan, aku sudah sangat lapar tapi kalian begitu lama." Gerutu Zayana. Zayn hanya tersenyum miring, ia tak ingin merusak suasana hatinya yang bahagia.
"Pernikahan kalian 5 hari lagi. Setelah itu papa dan mama akan ke Amerika menengok kakak kalian sekalian kami mau bulan madu." Ucap Gerry. Judy ternganga mendengar ucapan Sahabat dady nya itu.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
Selamat membaca ๐ฅฐ๐ฅฐ๐ฅฐ