
🌼Selamat membaca🌼
Malam semakin larut. Dingin menyusup ke setiap pori pori kulit Veni. Apalagi dia tergeletak di lantai yang lembab dan dingin. Namun tak ada satu orangpun yang mendatanginya.
Sebenarnya siapa yang menculiknya. Veni berusaha bergerak namun ia tidak bisa karena ikatan tangan dan kakinya terlalu kuat.
Saat dia sedang berjibaku dengan pikirannya, terdengar suara langkah kaki. Namun lebih dari satu orang. Tubuh Veni bergetar merasakan ketakutan yang amat sangat.
Pintu terbuka lebar ada seberkas cahaya masuk ke dalam ruangan itu.
"Jadi kamu ..?" Seorang pria membawa sebuah pisau di tangannya. Di belakangnya berdiri dua sosok tinggi besar dengan wajah yang garang menyeramkan.
"Si - siapa kamu?" tanya Veni dengan gemetaran. Tatapan tajam pria itu seolah mampu meremukkan dirinya.
"Bisa dibilang aku malaikat mautmu." Ujar Rian, pria itulah yang berhasil menculik Veni sebelum Sigit mendatanginya.
"A - apa maumu?"
"Nyawamu .." Rian tertawa terbahak melihat wajah pucat Veni.
Setelah mendengar ucapan Rian, Veni langsung pingsan karena ketakutan. Rian berdecak kesal mainannya sama sekali tidak menantang.
"Kita apakan dia bos?" tanya dua orang anak buah Rian.
"Kita tunggu dulu. Aku butuh sesuatu yang kuat untuk membangkitkan sisi iblisku yang lama tertidur." Ujar Rian. Ia langsung berdiri meninggalkan ruangan itu.
.
.
.
Tubuh Dian terasa panas hingga Gerry terkejut.
"Sayang ..!" Gerry menggerakkan tubuh Dian, hingga Dian terbangun. Namun kepalanya terasa berdenyut nyeri dan terasa berputar².
"Iya mas .."
"Kamu demam, sayang!" ucap Gerry cemas.
"Tidak apa apa mas. Sebentar lagi pasti juga baikan. Aku hanya ingin kamu memelukku lagi sebentar saja." Ujar Dian memejamkan matanya. Karena rasanya ia tidak akan kuat jika terus membuka mata.
Gerry melepas piyamanya ia juga melepas gaun tidur milik Dian. Namun tangan Gerry sempat ditahan oleh Dian. Ia berpikir disaat seperti ini kenapa suaminya meminta seperti itu.
"Sayang, mas hanya akan melakukan skin to skin agar demammu berkurang." Jawab Gerry, Dian langsung melepaskan pegangan tangannya. Ia kembali menyusup di dalam dekapan Gerry yang terasa sangat nyaman.
"Kenapa kau mudah sekali sakit?" tanya Gerry.
"Sejak kecil fisikku memang lemah. Di tambah lagi sejak kepergian orang tuaku, keluarga paman Burhan memperlakukanku dengan buruk. Jika pekerjaan rumahku tidak selesai aku tidak diberi makan, jika putri keaayangan mereka mendapat perundungan atau pulang dalam keadaan menangis, aku selalu dipukuli dan disalahkan." Ucap Dian, yang sukses membuat api amarah di dada Gerry semakin sulit di padamkan.
Pelukannya semakin erat pada Dian. Dia bersumpah benar² akan menghancurkan keluarga Burhan.
"Sayang, apa kau menyaksikan sendiri jenasah orang tuamu dulu?" tanya Gerry hati².
"Tidak. Karena saat itu semua diurus paman Burhan."
"Bagaimana jika orang tuamu masih hidup?" Gerry mencoba mencari celah agar Dian tidak terlalu terkejut dengan fakta yang ia temukan.
"Jika itu benar adanya aku sangat gembira. Tapi bagaimana mungkin. Jika mereka masih hidup kenapa mereka tidak pernah mencariku?"
"Mungkin mereka memiliki alasan lain." Ucap Gerry.
"Jika mereka benar masih hidup aku akan memeluk mereka. Dan menceritakan semua perbuatan Burhan padaku." Dada Gerry terasa basah, Dian menangis dalam diam. Entah apa yang dia rasakan saat ini.
Gerry memejamkan matanya, "Aku akan membuat hidupmu semakin bahagia." Ujar Gerry.
"Kau sudah sangat membahagiakanku mas." Gumam Dian. Wanita itu langsung kembali tertidur. Dengan perlahan Gerry mengganti lengan yang dipakai bantalan untuk Dian dengan bantal. Setelah itu ia turun ke bawah untuk membuat sarapan untuk Dian.
"Sedang apa kamu Ger? memangnya kamu ga ngantor ya?" tanya nyonya Arini takjub. Baru kali ini dia melihat putranya turun ke dapur.
"Dian demam mah, jadi aku berpikir untuk membuatkannya bubur untuknya. Aku bisa kerja dari rumah." ujar Gerry masih sibuk mengaduk buburnya agar tidak gosong.
"Wah .. wah bisa jadi berita heboh nih. Seorang CEO Gerry Ardana yang dingin dan super cuek bisa bucin juga." sindir nyonya Arini.
Gerry hanya tersenyum miring mendapat sindiran dari mamanya. Setelah beberapa saat bubur yang Gery buat telah siap. Aromanya benar² menggugah selera.
Ia berjalan menuju kamarnya membawa nampan yang berisi semangkuk bubur segelas air putih dan obat yang harus Dian minum.
Aroma dari bubur ayam buatan Gerry itu membuat Dian terbangun dari tidurnya. Pusing di kepala Dian sudah berkurang, kini perutnya terasa lapar. Ia menatap nampan yang Gery bawa penuh minat, Gerry lalu mulai menyuapi Dian dengan telaten.
,🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
See you. Besok lagi ya ngantuk othor