
********
"Papi Ina mau pulang saja ke Indonesia. Ina tidak mau mama sakit." Ujar Zafrina dengan wajah sembab. Rian pun bertanya-tanya apa yang sebenarnya sedang terjadi. Kenapa semuanya menjadi rumit seperti ini.
"Kita tunggu kabar dari papamu dulu ya sayang." Bujuk Rian, ia tahu betul sifat putrinya pasti akan terus merengek jika keinginannya tidak terlaksana.
"Tapi pi .. "
"Sudahlah Ina kita tunggu kabar dari papa saja. Lagipula ini Amerika bukan cuma Makassar atau pulau Jawa." Zafa pun tak kalah cemasnya tapi ia bisa apa sekarang. Ini sudah jadi pilihannya, dan ia harus mulai membiasakan dirinya jauh dari Dian.
"Kalau kakak masih mau menunggu silahkan saja, tapi aku tidak bisa. Bagaimanapun mama itu wanita yang melahirkan kita."
"Bukan kita Ina, hanya kamu putrinya sementara aku? aku hanya anak tiri mama." Batin Zafa menjerit pilu. Wajah Rian bereaksi aneh saat Zafrina menyebut kata melahirkan kita. Karena nyataยฒ mereka lahir dari rahim yang berbeda.
Namun Rian menatap heran ke arah Zafa yang terlihat datar saja saat mendengar ucapan Zafrina.
"Terserah padamu, kembalilah ke Indonesia jika itu maumu." Ujar Zafa datar tanpa ekspresi.
"Tentu saja aku akan kembali untuk memastikan kondisi mama. Aku hanya mengingatkan kakak jangan sampai kakak menyesal. Kita tidak akan tahu yang namanya takdir akan seperti apa nantinya." Zafrina pergi menarik tangan papinya. Zafa hanya mampu menatap sendu setelah kepergian Zafrina. Zafa terduduk di sofa seraya menutup wajahnya. Rasanya sesak sekali hatinya.
"Mama, aku sangat menyayangi mama. Tapi maafkan aku yang belum bisa menata hatiku. Aku butuh waktu untuk menerima semua ini." Gumam Zafa menganti nomor ponselnya tanpa sepengetahuan Gerry dan anggota keluarga yang lainnya. Tidak ada satupun nomor adik maupun yang lainnya ia simpan. Meskipun Zafa hafal di luar kepala. Hanya saja ia belum memiliki keberanian untuk menghubungi mereka.
.
.
.
Sementara itu kegaduhan terjadi di kamar Gerry dan Dian, pasalnya saat Dian di tinggal Gerry mengangkat telepon dari Rian tadi, Zayana sedang mandi. Sedangkan Zayn mengurus Judy. Namun saat Zayn masuk ke kamar itu matanya terbelalak melihat tubuh Dian ada di lantai dan selang infus tidak lagi terpasang di tangan Dian. Disaat bersamaan Zayana keluar dari kamar mandi ia pun tak kalah terkejut dan memekik.
"Mama .. kakak.. mama kenapa?" Zayana menghampiri Zayn, dan membantu saudaranya mengangkat kaki Dian.
"Kamu tenang dulu Anna!" Seru Zayn yang panik, bahkan tangan Dian di bekas jarum infus masih mengeluarkan darah. Gerry masuk ke kamar dan melihat putrinya menangis, sedang putranya sedang sibuk membersihkan punggung tangan Dian.
"Mama kenapa?" tanya Gerry pada Zayana.
"Mama pingsan lagi pah, jarum infus nya juga di cabut."
Gerry mengambil minyak angin di atas nakas dan mencoba cara alternatif. Ia menaruh minyak angin di bawah hidung mungil Dian, Dan tak berselang lama Dian tersadar.
"Mama .. "
"Sayang .. "
Dian membuka matanya dan menatap wajah cemas suami dan anak-anaknya.
"Mama ... mama jangan sakit." Isak Zayana, Zayn pun menatap dengan penuh kecemasan.
"Maafkan mama ya sayang, sudah membuat kalian khawatir." Kata Dian mengusap wajah dua anaknya.
Gerry POV
Lega rasanya melihat Dian sudah sadar, padahal sejak melihatnya terbaring lemah tubuhku terasa lemas, rasanya ada yang menarik jantungku. Tapi kini melihat senyumnya untuk kedua anak-anak kami aku merasa kebahagiaan dalam hidup kami sedikit demi sedikit memudar.
Wajah Dian yang selalu terlihat cerah dan berbinar seakan redup kehilangan cahayanya. Ya cahaya Dian tampak berpendar terang jika ada Zafa dan Zafrina di dekatnya.
Bagaimana jika dugaanku selama ini benar? Jika Zafa anak Rian dan Selena akan seperti apa Dian nanti? terlebih jika Rian akan mengambil Zafa, seperti saat ini Zafrina memilih bersama Rian ketimbang kami.
Ya Allah, ku mohon jangan ambil kebahagiaan istriku. Asal Dian bahagia maka keluarga kami pun akan senantiasa bahagia. Tapi jika dia jatuh dan rapuh maka kami pun akan merasa lebih hancur.
Author Pov
Setelah Arya memeriksa kondisi Dian, Gerry masih setia menemani wanita yang sudah hampir 20 tahun menemaninya itu. Ada gurat lelah di wajah Gerry namun saat ini Dian membutuhkan perhatiannya.
"Kenapa bisa terluka hmm ..?" tanya Gerry seraya mencium tangan Dian yang terbalut perban.
"Saat aku membersihkan kamar Zafa, aku ga sengaja menjatuhkan pigura kecil yang ada di sudut meja sofa. Saat aku membersihkannya pecahan kaca itu mengenaiku." Tutur Dian.
"Lain kali panggil pelayan saja. Kau cukup menikmati harimu ajak Zayana dan Judy ke mall, atau kau pergi ke salon. Aku mencari uang untuk kau habiskan. Tidak perlu berhemat, Apa gunanya punya perusahaan banyak tapi uangnya tidak dipakai untuk keluar." Kata Gerry menggoda Dian, istrinya itu akan marah-marah jika Gerry terlalu boros. Dan benar saja Dian memukul dada bidang Gerry pelan.
"Mas, meskipun aku tidak setiap waktu menghabiskannya untuk berbelanja,kau tahu ada berapa banyak nasib anak-anak asuh yang harus kita sekolahkan, yang harus kita pikirkan masa depannya juga." Kata Dian, Gerry tersenyum bangga dan mengecup pelipis Dian.
"Maka dari itu, kau harus kuat. Kau harus bahagia. Karena anak kita bukan hanya Zafa dan Zafrina atau Zayn dan Judy juga Zafia. Tapi anak kita banyak tanpa kita sadari. Jadi kau tidak boleh bersedih.
"Wajar saja aku bersedih, sejak kecil mereka aku yang merawatnya. Terlebih lagi Zafa, dia mudah sakit sakitan. Kalo kita jauh siapa yang akan merawatnya? menjaganya dan siapa yang akan membuatkan dia makan saat dia sakit?"
"Ada Rian dan Velia percayalah, mereka akan menjaga anak-anak kita di sana dengan baik. Semalam Rian menghubungiku anak-anak mencemaskanmu bahkan Zafrina ngotot ingin pulang ke Indonesia, beruntung dapat Rian cegah. Jadi jangan sakit lagi, atau kau akan membuat anak-anak kita di sana tak tenang memikirkanmu." Dian mengangguk benar juga yang suaminya katakan. Jika dirinya sakit dan membuat cemas Zafa dan Zafrina pasti mengganggu belajar mereka.
.
.
.
Judy dan Zayn ke kampus dengan bergandengan tangan. Banyak pasang mata yang menatap mereka dengan tatapan iri. Judy si cantik yang memiliki body goals dengan dada yang sintal dan bokong yang padat berisi dan Zayn si tampan pemilik body atletis yang menjadi idaman kaum wanita di kampusnya.
"Hai Zayn .. Hai Judy." sapa Dino namun mata Dino tak lepas memandang Judy terkesima.
"Hai Dino .. " balas Judy namun Zayn memilih diam dan semakin mengeratkan genggaman tangannya. Judy tersenyum saat melihat wajah Zayn mengeras, Judy langsung memeluk lengan Zayn. Dino melihat itu dengan tatapan nanar, rasanya nyeri sekali mencintai dalam diam.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
**Catatan dari othor "New season ini hanya akan fokus ke masa lalu si Zafa dan kebenarannya dan juga kisah cinta Zayn dan Judy. Jadi tidak sampai ke kisah asmara Zafa. InsyaAllah kalo masih jodohnya disini nanti Zafa punya rumah sendiri.
terimakasih sudah setia menunggu ๐ฅฐ๐ฅฐ๐ฅฐ๐๐**