Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
Bab 47


⛅Selamat membaca⛅


Kelopak mata Dian mulai bergerak, sedikit demi sedikit dia membuka matanya perlahan, ia mengamati suasana kamar yang berbeda, ia merasakan pergelangan tangan kanannya sedikit kebas perlahan Dian mengangkat tangan kanannya yang telah terpasang jarum infus. Dian melirik sisi kiri, kepala Gerry terkulai di sampingnya, tangan Gerry menggenggam jemari Dian.


Banyak hal yang kini mengganggu pikiran Dian, terutama sikap Gerry yang mudah berubah. Dian merasa Gerry seolah mempermainkan perasaannya. Sebentar membuat Dian menaruh harapan, sebentar membuat Dian merasa diacuhkan. Dian menarik nafas dalam-dalam, ia harus mengambil keputusan. Rasanya ia berat harus meninggalkan Zafa. Tapi mungkin inilah yang terbaik, Dian tidak ingin perasaannya terlalu dalam lagi pada Gerry. Ia takut semakin dalam perasaannya pada Gerry pada akhirnya ia juga yang tersakiti lagi.


Dengan perlahan Dian menarik jarum infusnya. ia perlahan menarik tangan yang digenggam Gerry, sepertinya pria itu terlalu lelah, hingga tak merasakan pergerakan Dian. Dengan langkah gontai Dian berjalan menyusuri lorong. Sangking takutnya ketahuan oleh Gerry, Dian terus menengok kebelakang tanpa memperhatikan langkahnya, lalu tubuhnya menabrak seseorang.


Sambil menunduk Dian terus minta maaf, namun orang tersebut bergeming. Dian akhirnya menatap orang yang tanpa sengaja ia tabrak.


"A-ayah ..!" ucap Dian terbata, wajah pria paruh baya dihadapannya mirip dengan almarhum sang ayah. Orang itu masih membeku menatap wajah putri yang sangat ia rindukan. Takdir benar benar membawanya bertemu dengan putrinya.


"Dian ..!" lirih pria itu, Dian membelalak kaget. Bahkan suaranya mirip suara ayahnya. Tapi tunggu, pria ini bahkan tau namanya.


"Apa ini mimpi?" batin Dian.


Tanpa pikir panjang pria itu memeluk Dian erat.


"Dian anakku .. Ini ayah nak!" Isak pria itu lirih, mata Dian mulai terasa panas. Air matanya sudah mendesak ingin keluar.


"Bawa Dian pergi dari dunia ini ayah. Dian lelah, Dian sudah tidak sanggup lagi." Ujar Dian, ia mengira jika yang memeluknya saat ini adalah arwah ayahnya. Tak lama ia langsung jatuh pingsan.


Tuan Hanafi langsung mengangkat tubuh Dian masuk ke tempat perawatan sang ayah.


"Nino, bangunlah!" tuan Hanafi menggoyangkan tubuh Nino yang pulas tertidur.


"Ada apa paman?"


"Cepat bantu paman." Nino langsung terduduk saat melihat pamannya menggendong tubuh ringkih Dian yang tak sadarkan diri.


"Paman menculik Dian?" tanya Nino was².


"Dia sepertinya akan kabur dari ruang perawatannya. Cepat bantu paman, kau retas CCtv di rumah sakit jika perlu matikan sistemnya. Kita bawa Dian keluar dari rumah sakit ini dulu."


"Tapi bagaimana dengan kakek?"


"Dia akan aman, kita bawa Dian ke kediaman ayah. Disana tempat yang aman untuk bersembunyi. Ayo cepat."


Dengan sigap Nino mengeluarkan laptopnya dan mulai merusak sistem jaringan keamanan rumah sakit. Tuan Hanafi membawa tubuh Dian dan menutupi nya dengan selimut. Mereka lewat lift yang berada di ujung lorong yang mengarah langsung ke mobil tuan Hanafi.


"Paman bagaimanapun Gerry teman Nino."


"Kali ini paman mohon, Dian tadi menangis dan berkata ingin meninggalkan dunia ini. Bagaimana perasaanmu jika di posisi paman?" Ujar Tuan Hanafi mulai hilang kesabaran.


"Baiklah, maafkan Nino paman. Nino janji akan merahasiakan semua ini."


Saat di perjalanan Dian tersadar dari pingsannya. Ia menatap wajah sang ayah yang memeluk dirinya erat.


"Ayah .."


Tuan Hanafi mematung mendengar suara putrinya, tubuhnya seakan kaku.


Air mata tuan Hanafi kembali mengalir. Ia merasa sangat bersalah.


"Mereka menjual Dian, mereka tidak mengijinkan Dian sekolah, mereka merampas uang hasil kerja Dian untuk menyenangkan putrinya. Apa salah Dian ayah? kenapa ayah tinggalkan Dian sendiri. Kenapa ayah tidak ajak Dian pergi dari dunia ini." Isak Dian bahkan Nino yang sedang mengemudikan mobilnya tak mampu menahan laju air matanya. Ia tak menyangka sepahit itu kehidupan yang Dian alami. Selama ini kakeknya hanya mengawasi Dian tanpa mau campur tangan secara langsung. Ia hanya memudahkan langkah Dian saat Dian mengalami kesulitan. Ia ingin Dian menjadi pribadi mandiri yang kuat. Karena bagaimanapun Dian kelak akan mewarisi sebagian harta kekayaan kakeknya.


"Sayang, ayah masih hidup. Maafkan ayah selama ini ayah termakan omongan Burhan. Dia bilang bahwa kamu meninggal saat rumah kita kebakaran." Ujar tuan Hanafi. Dian langsung bangkit dari rengkuhan sang ayah.


"A-apa ini sungguhan ayah?" Dian memengang wajah sang ayah. Tuan Hanafi mengangguk, Dian langsung menghambur memeluk sang ayah.


Sesaat suasana benar benar penuh keharuan. Hingga tiba² Dian teringat putrinya Zafrina.


"Ayah, kita harus kembali ke rumah suamiku. Zafrina tertinggal disana." Ujar Dian, Tuan Hanafi mengangguk.


"Baiklah, Nino kau tau rumah Gerry bukan?" tanya Tuan Hanafi, Nino hanya mengangguk toh mereka memang searah.


Nino berhenti jauh dari pagar. Dian berpamitan pada sang ayah untuk menunggunya sebentar.


Dian turun melewati gerbang kecil yang ada di belakang mengarah ke taman. Dengan langkah kecil Dian berhati² sekali. Sekarang waktu menunjukkan pukul satu dini hari. Dian melewati pintu belakang yang terhubung dengan paviliun untuk para pembantu. Ia segera naik ke atas.


Ia melihat ke box Zafa terlebih dulu. Melihat bayi itu tertidur pulas hati Dian serasa di hantam benda keras. Sakit itu lah yang Dian rasa. Rasa sayangnya pada bayi itu begitu besar. Namun ia benar-benar tidak bisa lagi bertahan di sisi Gerry, karena Selena telah kembali hadir. Dian merasa Gerry ingin kembali pada Selena. Dian duduk sebentar memompa ASInya meskipun hanya menghasilkan 4 pack Dian menyimpannya di kulkas khusus ASI.


Disana masih ada beberapa pack mungkin cukup untuk 3 hari, selama itu mungkin cukup waktu untuk mencari ibu susu baru bagi Zafa.


Dian menulis sepucuk surat dan ditinggalkan di atas nakas, dan juga memo untuk pengasuh Zafa. Dian juga sempat berdiri cukup lama di depan kamar nyonya Arini.


"Maafkan Dian mah, Dian menyerah. Mungkin ini yang terbaik untuk mas Gerry, dan Zafa." Ujar Dian Lirih


Dian menggendong Zafrina, lalu mengambil beberapa baju dan dokumen penting miliknya. lalu Dian bergegas keluar dari rumah Gerry.


Dari luar Nino masih sibuk mengotak Atik laptopnya mungkin dia juga meretas sistem keamanan di sekitar komplek rumah Gerry.


Dian masuk ke dalam mobil, setelah memasang sabuk pengamannya, mobil langsung kembali dijalankan Nino menuju kediaman tuan Kusuma.


Selama di perjalanan Zafrina berada di gendongan tuan Hanafi. Bayi itu sama sekali tidak terganggu dengan hal hal disekitarnya.


Sedangkan Dian hanya diam dengan tatapan kosong, Nino melihat Dian dari spion. Ia ragu ingin menanyakan apakah Dian tau jika saat ini dirinya sedang hamil. Tapi dari penglihatan Nino mungkin sepupunya ini masih belum mengetahuinya.


Mobil mereka sampai di depan mansion mewah milik kakek Nino, bahkan halaman rumahnya saja seluas lapangan sepakbola.


Dian dibuat ternganga dengan penampakan rumah itu.


"Ini rumah siapa ayah?" tanya Dian bingung.


"Ini rumah kakekmu. Kamu aman disini." Ujar tuan Hanafi mengelus puncak kepala Dian.


🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼


Jangan lupa like dan komen. Kalo perlu share ke temen-temen kalian biar novel ini naik paling ga ya muncul di beranda lah ya..


trimakasih sudah mampir 😘😘