
********
Ara terbangun dari tidurnya saat merasakan lagi gejolak yang terus menuntut dirinya segera memuntahkan isi perutnya.
Dia sedikit berlari dan membuka pintu kamar mandi dengan kencang hingga menimbulkan bunyi yang keras dan terdengar hingga ruang kerja Arsen. Pria itu langsung menghentikan pekerjaannya dan melihat Ara tidak di ranjangnya. Ia mendengar suara air mengalir dari kamar mandi dan bergegas ke sana. Ara terduduk lemas dibawah closet dengan kepala bersandar di tembok.
"Kamu muntah lagi Ra?" Ara melirik kehadiran Arsen dan mengangguk. Arsen menghampiri Ara mengusap peluh yang ada di kening istrinya.
"Apakah masih mual?" Ara menggeleng, Arsen segera mengangkat tubuh Ara dan membawanya kembali ke kamar. Kali ini Arsen menemani Ara hingga wanita itu kembali terlelap. Arsen mengambil kotak obat dan mengambil minyak kayu putih dan mengusapkannya di perut Ara.
Arsen menatap iba kearah wanita yang dia nikahi 2 bulan lalu. Wajahnya sangat pucat, rasanya ingin dia bertukar posisi agar dia saja yang merasakan morning sicknessnya.
Arsen masih mengusap perut Ara dengan lembut. Arsen mendekatkan bibirnya di perut Ara dan mengecupnya.
"Jadi anak baik ya sayang, kasihan bunda sampai lemas." Bisik Arsen di perut Ara. Ara tidur meringkuk memeluk lengan Arsen.
"Abah .. " Ara meracau dalam tidurnya.
Arsen mengusap lembut kepala Ara yang tertutup hijab dan mengecupnya dalam.
.
.
.
Nicholas meninggalkan Veni di dalam kamar. Nick berjalan menuju ruang kerjanya diikuti dua orang pria berbadan tegap.
"Bagaimana?" tanya Nick.
"Sejauh ini keluarga mereka masih mencari tuan." Ujar salah seorang utusan Nicholas.
"Apa yang harus aku lakukan?" Tanya Nick dengan tatapan mata sendu. Jujur baru kali ini dia merasa tergila-gila pada seseorang namun dia bukan pria picik yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan wanita pujaannya.
"Saran saya lakukan seperti niat awal anda tuan. Saya yakin anda akan baik-baik saja."
"Aku hanya ingin dia bahagia. Cukup saat itu aku melihat air matanya. Rasanya melihatnya menangis membuat hatiku terasa perih." Desah Nick.
"Tuan saya mendapat info dari pihak keamanan ada yang mencari anda." Ujar anak buah Nick. Nick tersenyum miring. Lumayan juga pria itu.
"Apa helikopter nya sudah siap?" Tanya Nick pada asistennya.
"Sudah tuan."
"Baiklah ayo kita bermain sebentar lagi." Ujar Nick
Nick berjalan kembali ke kamar, Veni sedang melamun duduk di sofa balkon. Tatapan matanya tampak kosong dan menerawang.
"Sweetie .. " Veni menoleh menatap Nicholas. Nicholas tersenyum melihat Veni saat ini sama sekali tidak berubah seperti Veni beberapa tahun lalu.
Flashback
Nicholas adalah pria yang tanpa sengaja ditemuinya di klub milik Aldo, tepatnya saat itu Nicholas sedang patah hati dan ingin melupakan sang kekasih namun pertemuannya dengan Veni membuka mata hati pria itu. Veni yang kalau itu terlihat seksi dan menawan, namun di matanya sarat akan luka dan kekecewaan. Bahkan ketika Nick menyentuhnya tubuh Veni gemetaran. Nick menatap heran apakah ada kesalahan disini. Namun sebisa mungkin Nicholas bersikap biasa.
"Apa kau takut denganku?" tanya Nicholas. Veni mengangguk.
"Kenapa? bukankah aku tampan, kenapa kau takut sweetie?" Nick membelai rambut Veni yang tergerai indah.
"To-long jangan apa-apa kan aku." Ujar Veni gugup.
"Hei meskipun sekarang aku tak menyentuhmu. pasti nanti akan ada pria lain yang menyentuhmu." Kata Nicholas. Tangannya membelai wajah cantik Veni.
"Aku sudah membayar mahal dirimu nona? haruskah ku hancurkan tempat ini? karena mereka telah menipuku?" Ujar Nick datar, namun langsung membuat Veni semakin gemetar ketakutan.
"Ja-jangan .. "
"Jika begitu menurut lah sweetie. Sekarang naiklah kepangkuan ku." Perintah Nicholas, dengan ragu Veni duduk menyamping diatas pangkuan pria tampan itu.
Saat Veni menurutinya, Nick tersenyum samar.
"Kiss me sweetie." Perintah Nick pada Veni. Gadis itu dengan wajah memerah menempelkan bibirnya di bibir Nicholas. Saat merasakan bibir Veni entah mengapa hati Nicholas bergetar. Ia menahan tengkuk Veni lalu melu_mat bibir gadis itu dengan buas. Veni hanya mengikuti permainan Nick. Sialnya junior Nick terlalu kuat menangkap sinyal tubuh Veni, akhirnya malam itu menjadi malam panjang untuk keduanya. Dan Nick berjanji dalam hati akan membebaskan Veni dan membawanya pergi dari tempat itu. Nick tidak peduli jika Veni adalah wanita malam. Yang dia pikir saat ini bisa membawa Veni dari tempat lucnut itu. Namun sayang rencana Nick gagal karena saat itu mantan kekasihnya kembali berulah. Hingga ia melewatkan beberapa hari untuk kembali ke klub itu namun sayangnya Aldo terlanjur membawa Veni pergi karena penyakit yang Veni derita waktu itu.
Flashback end
"Bersiaplah .. " Hanya satu kata itu yang keluar dari bibir Nick. Namun Veni hanya patuh dan menuruti semua ucapan pria itu tanpa bantahan. Rasanya dia terlalu lelah, lelah untuk berfikir. Veni mengambil paperbag yang anak buah Nick siapkan. Lalu berganti baju di kamar mandi. Nick tersenyum menatap Veni yang telah berganti dress selutut berwarna kuning bermotif bunga sepatu.
"Kau cantik sekali Sweetie."
"Terimakasih Nick .. "
"Sweetie berjanjilah kau akan menjalani hidupmu dengan bahagia."
"Kebahagiaaku hanya bila bersamanya. Maafkan aku Nick. Andai kau datang lebih awal mungkin aku akan jatuh bertekuk lutut terperdaya cintamu. Tapi aku terlanjut mencintainya." Ujar Veni dengan mata yang sudah berlapis kristal bening.
Nick menarik tubuh Veni, dan mendekapnya. Ia sedikit memberi jarak agar tak menekan perut buncit Veni.
"Aku mencintaimu sweetie. Cinta tanpa batas, cinta yang tak menuntut balas. Cukup aku yang mencintaimu. Kau tidak perlu memaksa perasaanmu padaku."
"Jangan seperti ini Nick. Kau pria baik, aku percaya suatu saat kau akan mendapatkan pasangan yang baik pula." Ujar Veni dengan suara parau.
"Tidak ada yang kuinginkan selain dirimu." Desis Nick mencium puncak kepala Veni. gadis itu tertegun saat bibir hangat Nick menempel di kepalanya. ---- "Ayo kita pergi dari sini." Ujar Nick menggenggam jemari Veni. Mereka turun menggunakan lift. Saat tiba di lantai satu Veni dikejutkan dengan suara Aldo yang sedang di hadang oleh pihak keamanan.
"Aldo .. " Lirih Veni dengan tatapan sendu.
Nick mencoba menahan gemuruh di dadanya saat mendengar Veni menyebut nama suaminya.
"Apa kau yakin bersamanya akan membuatmu selalu bahagia?" tanya Nick menatap mata Veni dalam. Veni menganggukkan kepala.
"Kau benar-benar yakin?"
"Iya Nick, aku yakin karena aku mencintainya. Maafkan aku Nick. Aku menganggapmu sebagai kakakku." Ujar Veni.
Nick mendekat ke arah Aldo masih dengan menggandeng tangan Veni.
"Breng_sek lepasin istri gue." Teriak Aldo kalap, Veni hanya terpaku. Ia bahkan tak berani bergerak karena mereka dikelilingi oleh anak buah Nick yang jumlahnya puluhan.
"Apa yang bisa kau beri untuknya? Kau bahkan berkali-kali menempatkannya dalam bahaya." Ujar Nick masih belum melepas tangan Veni. Aldo menatap pegangan tangan Nick dengan mata memerah.
"Ayo kita berduel .. kita buktikan siapa disini yang bisa menjadi pendampingnya." Kata Aldo akhirnya. Nick tersenyum miring.
"Dia mempertaruhkanmu sweetheart. Apa kau benar-benar yakin dia yang kau cintai?" tanya Nick pada Veni. Meskipun tatapan Veni sedikit kecewa namun Veni tetap mengangguk.
"Baiklah pergilah ...! Aku mencintaimu, ku harap kau bahagia." Ujar Nick melepas jemari Veni, Veni menatapnya dengan berkaca-kaca.
"Terimakasih Nick .. aku juga mendoakan kebahagiaan untukmu." Tanpa menoleh lagi Veni berjalan cepat ke arah Aldo. Sedang petugas keamanan tadi yang mencekal Aldo seketika melepaskan pria itu. Aldo menyongsong Veni dengan pikiran berkecamuk. Apa maksud semua ini?
๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐
Wes kan clear kan. Othor tu dari dulu juga ga suka punya konflik panjangยฒ. Hari ini bertengkar besok baikan. Kalo bisa sih gitu. Damai itu indah. Yang namanya luka hati pasti berbekas. tapi memaafkan itu adalah salah satu kunci meraih ketenangan hidup.