
******
Didi sudah tahu kemana orang-orang itu membawa Selin pergi. Yang Didi tidak habis pikir mengapa raja Aaron sampai berbuat hal yang demikian.
Wajah raja dan ratu memang terasa tidak asing bagi Didi, tapi dirinya tau jika di dunia ini seseorang pasti memiliki kembaran meskipun tidak ada ikatan darah. Dan Didi berpikir seperti itu.
Didi berjalan menuju ruang utama. Dimana raja dan ratu berada.
"Salam yang mulia raja," --- "salam yang mulia ratu." Didi berbicara dua arah dan menunduh hormat.
"Ada apa, apa kau memiliki petunjuk mengenai putriku?" tanya Raja Aaron penasaran.
Didi tersenyum dan mengangguk. "Jika dulu saya memang tidak memiliki petunjuk apapun untuk menemukan Selin. Kali ini saya memiliki banyak sekali petunjuk untuk menemukannya. Saya akan mencari Selin mulai hari ini. Maka dari itu ijinkan saya undur diri. Dan jika saya sudah menemukan Selin. Maka saya akan langsung menikahinya." Ujar Didi sekaligus meminta restu pada raja dan ratu itu.
"Pergilah nak, restu kami menyertaimu." Ujar ratu Rakila. Didi terperangah mendengar kata restu meluncur dengan mudahnya dari bibir sang ratu.
Sesaat Didi seolah diterbangkan diatas angan-angan. Akhirnya dia mendapatkan restu.
"Katakan padaku kau akan mencari putriku kemana? Dan mengapa kau mengatakan memiliki banyak petunjuk?" Ujar Raja Aaron.
"Aku akan mencarinya ketempat yang harus aku datangi. Dan mengenai petunjuk, seharusnya anda tahu betul yang mulia. Anda merancang sesuatu dengan terburu-buru hingga melupakan hal-hal sepele namun penting." Jawab Didi. Senyum samar tergambar di bibir sang raja.
"Katakan apa yang aku lupakan?" Tanya raja Aaron.
"Anda melupakan para pengawal itu. Anda melupakan kamera CCtv yang ada di setiap sudut lorong. Dan yang lebih membuat saya tidak habis pikir kenapa anda menyuruh nenek saya yang menulis surat itu? Jika disana terdapat tulisan tangan yang mulia ratu atau anda. Mungkin sampai sekarang saya tidak akan tau apa arti tulisan itu. Tapi disitu tertulis dengan rapi menggunakan bahasa Indonesia." Terang Didi.
Raja Aaron terbahak-bahak dia sudah bisa menebak jika Didi pasti dengan mudah. Karena dia baru sadar jika ibu mertuanya dan nenek Didi selalu berbahasa Indonesia.
"Restuku sudah kau dapat. Susullah anak dan istrimu. Aku sudah memasrahkan wali nikah kepada penghulu siapapun orangnya. Karena surat kuasa dibawa oleh nenek Selin." Kata raja Aaron masih tertawa mengingat kekonyolan Eliana dan Soraya.
"Apa anda tidak akan hadir disana?" tanya Didi.
"Aku ingin sekali tapi situasi kita tidak memungkinkan. Sebisa mungkin jangan sampai terendus media. Karena keselamatan mereka masih di pertaruhkan." Ujar raja Aaron.
.
.
.
Didi akhirnya meninggalkan kerajaan itu. Dia akan mempertanyakan sendiri kepada Selin. Ia begitu penasaran dengan hubungan antara keluarganya dan keluarga Selin.
Saat ini Didi sudah berada di pesawat pribadi keluarga Kusuma. Sepertinya Didi juga harus membeli pesawat pribadi untuknya dan keluarga kecilnya.
Didi benar-benar sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Selin. Sedangkan Selin saat ini sedang merajuk karena sang nenek membawanya ke Indonesia tanpa persetujuan. Bahkan dia meninggalkan Didi di negara T seorang diri.
"Kenapa kamu sedih nak?" tanya nenek Soraya.
"Aku merindukan Didi nenek." Kata Selin menatap keluar jendela.
"Mommy .." Suara teriakan Judy mengusik lamunan Selin.
"Sayang ..!" Selin berseru dan memeluk Judy erat. Dia juga merindukan putrinya. Tapi merindukan Didi lebih menyiksa batinnya.
"Momy kenapa momy sedih?" tanya Judy mengusap air mata Selin yang jatuh tanpa di sadarinya.
Selin tersenyum getir sambil menggeleng. "Tidak apa-apa sayang."
"Momy pasti merindukan Dady. Sama mom Judy juga rindu Dady." Kata Judy kembali memeluk ibunya.
Nenek Soraya tersenyum. Ia tak menyangka bayi yang beberapa tahun lalu dia kunjungi kini sudah tumbuh menjadi gadis cantik.
"Bagaimana kak?" tanya Didi saat menghampiri Arya.
"Seperti dugaanmu, mereka ada di perkebunan tapi milik nenek Eli." Kata Arya.
Nenek Eli? apa hubungan nenek Eli dengan Selin? pikiran Didi semakin tak tenang.
"Baiklah kak aku akan kesana." Ujar Didi meraih kunci mobilnya yang dibawa Arya. --- "Terimakasih Kakak ipar." Ujar Didi menatap Nayla. Ia Langsung pergi menuju perkebunan.
.
.
.
"Zayn apa kau mau jalan-jalan denganku?" tanya Judy malu-malu. Zayn tersenyum dan mengangguk.
"Baiklah .." Zayn mengulurkan tangannya pada Judy dan gadis itu menyambutnya. Mereka berdua berjalan-jalan diikuti oleh 5 orang pengawal yang sengaja Gerry bawa. Gerry tidak ingin ada yang mengusik keluarganya lagi terlebih Dian sering mudah dilanda kecemasan. Jadi Gerry ingin mengantisipasi kemungkinan buruk.
"Sayang jangan jauh-jauh ok!" Ujar Dian, Zayn mengangguk.
Didi tiba dua jam kemudian. Jika boleh mengeluh saat ini tubuhnya benar-benar lelah. Dia hanya ingin menemui Selin saat ini.
Didi menutup pintu mobil dengan keras. Dia berteriak memanggil Selin. Selin yang mendengar suara Didi langsung berlari keluar. Keduanya bertemu didepan pintu. Didi langsung mengangkat tubuh Selin dan membawanya berputar-putar.
Selin berpegang erat di leher Didi karena takut terjatuh. Judy melihat daddynya pulang, ia berteriak kegirangan.
"Dady .. Dady." Seru Judy.
Didi menghentikan gerakannya, ia menghampiri putri semata wayangnya dan melakukan hal yang sama pada putrinya. Dia mengangkat Judy tinggi-tinggi dan memutarnya. Gadis itu tertawa riang. Zayn yang jarang tersenyum kini ikut tersenyum melihat kebahagiaan Judy.
Gerry, Dian dan penghuni perkebunan menatap penuh haru. Akhirnya Setelah sekian lama mereka terpisah kini mereka akan segera menjadi keluarga utuh yang sebenarnya.
Didi masuk ke dalam rumah nenek Eli, sambil merengkuh tubuh Selin dan menggendong Judy. Senyum kebahagiaan jelas tergambar diwajahnya.
Didi menurunkan Judy dan melepas tubuh Selin. Dia berjalan sedikit cepat berlari menyongsong sang nenek.
"Nenek ..!" Didi memeluk Soraya sambil menangis.
"Apa sekarang kau sudah menemukan kebahagiaan yang kau cari?" Tanya nenek Soraya, Didi mengangguk di ceruk leher nenek Soraya.
"Bahagiakan Selin, dan cucu buyutku. Jangan kecewakan kepercayaan kami lagi." Dan lagi-lagi Didi mengangguk.
"Daddy, apa Daddy menangis?" Judy mendekat sang ayah dan berusaha melihat wajah Didi.
"Iya ayahmu sedang menangis karena dia pria cengeng." Celetuk nenek Soraya. Didi memunggungi Judy dan mengusap air matanya.
"Tidak sayang, Daddy tidak menangis." Elak Didi. Namun jelas-jelas matanya memerah dan sembab.
"Dady kau bohong. Kata Zayn kita tidak boleh berbohong." Kata Judy, Didi mengusap dan membelai rambut Judy.
"Iya maafkan Daddy ya sayang. Daddy tidak akan bohong lagi." Kata Didi mengangkat Judy kepangkuannya.
Selin hanya menatap penuh keharuan. Kebahagiaan ini lah yang dulu sangat ia impikan. Hidup bersama dengan Didi.
⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅
Vote like dan komen ya guys.