Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
New Season 17. Rian ke Indonesia


********


Pagi menjelang, Dian sudah jauh lebih baik. Kehadiran kedua anak pertamanya serasa bagai mood booster bagi ibu lima anak itu. Saat ini Gerry sedang menyuapi Dian dengan bubur yang dibuat oleh ibu mertuanya. Mansion mendadak heboh setelah kabar Dian di larikan ke rumah sakit beredar.


Entah bermula dari siapa tapi begitu pagi menjelang, Zayn, Judy serta Zayana menyusul Dian di rumah sakit.


Bahkan sesampainya di sana Zayana sempat menangis sesenggukan takut terjadi sesuatu pada Dian.


"Kalian pulang saja ... ! papa ada di sini menemani mama." Kata Dian, dirinya menatap tak tega pada 5 remaja itu. Zayana dan Zafrina bersandar di pundak Zafa sedangkan Judy bersandar di bahu Zayn.


"Ma ... berapa kali aku bilang. Aku akan tetap di sini menemani mama." Ujar Zafa kukuh dengan pendiriannya.


"Tapi kalian belum mandi sayang. Kalian berlima masih memakai piyama. Apa kalian sadar itu?" kata Dian menatap kelima remaja itu.


Kelimanya langsung menunduk memandang penampilan mereka masing-masing, Zafa menggaruk tengkuknya, sedang ketiga anak gadis itu hanya tersenyum malu melihat penampilannya sendiri. Namun berbeda dengan Zayn yang masih tampak cool dan santai.


"Tapi ma .. "


"Kalian bukannya mau mama cepat sembuh. Jadi turuti kata mama. Kalian pulang dan istirahat lah nanti sore kemari lagi." Sela Gerry menatap kelima remaja yang tengah duduk di sofa berhimpitan.


Mendengar suara tegas sang papa membuat kelima nya menunduk. Mereka terlihat segan jika papa Gerry sudah mulai bersuara.


"Baik pa ... " Sahut keempat anak Gerry, sedangkan Judy sudah bersembunyi di balik punggung calon suaminya.


Zafa, Zafrina, Zayn dan Zayana mendekat ke ranjang Dian dan secara bergantian mengecup kening dan pipi Dian.


"Onty lekas sembuh ya ... " Ujar Judy, Dian tersenyum dan membelai wajah cantik gadis itu.


"Tentu saja sayang. Sekarang biasakan memanggil onty mama ya." Ujar Dian, Judy mengangguk dan tersenyum lembut.


Kelima remaja itu akhirnya meninggalkan rumah sakit. Selama berjalan menuju parkiran semua mata memandang mereka aneh. Karena kelimanya seakan sehabis melakukan pesta piyama.


.


.


.


Sementara itu di Amerika, setelah menerima telepon dari Dian, Rian tercenung memikirkan solusi untuk kesalahan yang ia perbuat. Meskipun sebenarnya bukan 100% kesalahannya. Tapi sebagai pria sejati dia harus tetap mau mengakui kesalahannya.


"Aku akan terbang ke Indonesia. Apa kau keberatan jika aku tinggal? atau kau ingin ikut pulang?"


"Aku di sini saja. Kamu segera selesaikan masalah ini. Jangan sampai berlarut-larut dan justru malah merusak hubungan baik keluarga kita." Ucap Velia.


"Tapi aku tidak bisa jauh darimu sayang." bisik Rian.


"Sudah tua masih saja menggombal." Ujar Velia, Rian terkekeh. Ia segera bersiap karena ia sudah menghubungi Danzo untuk menyiapkan Pesawat pribadinya.


"Aku pergi dulu ... aku janji tidak akan lama."


"Papi, Ravelo ikut ... " Rengek putra bungsu Rian.


"Sayang, papi mau jemput kakak Ina dulu. Nanti kalo Ravelo ikut papi, Ravel mau pipinya di cubitin kakak Ina?" tanya Rian, karena memang biasanya Zafrina akan gemas dan mencubit pipi adik bungsunya hingga menangis.


"Jika begitu papi jemput kakak Ina sendiri saja ya?" tanpa menunggu lama putra bungsu Rian mengangguk. Rian mengecup kening Velia dan pergi. Raiden putra keduanya masih berada di asrama sekolah khusus.


.


.


.


Setelah anak-anaknya pulang, Gerry menggenggam jemari Dian dan mengecupnya dalam.


"Maafkan aku sayang, semua ini salahku. Seandainya dulu aku menuruti saranmu semua tidak akan seperti ini jadinya."


"Tidak ada yang salah mas, semua sudah di digariskan oleh yang di Atas. Kita hanya cukup menjalaninya dengan ikhlas."


"Tapi selama ini kau tidak pernah marah." Gerry menyinggung percakapan Dian dan Rian di telepon.


"Mungkin karena saat itu aku masih tidak enak badan jadi mudah terbawa perasaan. Apalagi ini menyangkut anak-anak mas. Nanti jika sudah lebih baik, aku akan meminta maaf pada Rian." Kata Dian meyakinkan suaminya. Ia tak ingin suaminya terlalu larut menyalahkan dirinya sendiri.


"Soal Rian biar itu menjadi urusanku sayang. Sekarang yang terpenting kesembuhanmu dulu."


Gerry mengusap-usap puncak kepala Dian hingga Dian tertidur ditambah Dian baru saja meminum obatnya jadi dia langsung terlelap. Gerry mengambil ponselnya dan berusaha menghubungi Rian namun berkali-kali panggilannya tidak terhubung.


.


.


.


Di mansion, Zafa tampak duduk termenung. Ia seolah sedang mengingat kesalahannya pada Dian. Seandainya dia bisa memutar waktu, ia akan memilih bertanya langsung pada mamanya mengenai siapa ibu kandungnya. Atau ia bisa bertanya pada papanya dimana sosok ibunya. Tapi dia justru memilih menghindari masalah ini dan sekarang semua seperti boomerang yang justru merusak kebahagiaan di rumah ini.


Zafa menyeka air matanya kasar. Dia benar-benar merutuki kebodohan demi kebodohan yang telah dia lakukan. Bahkan dia menyesal telah menjadi penyebab mamanya masuk rumah sakit.


Zayana mengetuk pintu Zafa yang terbuka sedikit. Ia melihat kakaknya sedang melamun memandang ke arah taman. Zayana menghampiri Zafa dan memeluk pria itu dari belakang.


"Kakak jangan sedih, setidaknya berbagilah kesedihan kakak pada kami... " Zayana menyandarkan kepalanya di punggung Zafa. Air mata Zayana menembus kaos Zafa. Pria muda itu mengusap tangan adiknya yang melingkar di perutnya.


"Kakak hanya sedang kepikiran mama." Ucap Zafa.


"Kita semua juga sama sedihnya seperti kakak, begitu kita tahu mama sakit. Tapi kita harus terlihat kuat dan baik-baik saja agar mama cepat sembuh. Kata mama kebahagiaan kita juga kebahagiaan mama. Jadi kita harus selalu bahagia agar mama juga merasakannya."


"Kau itu, serasa kakak ini adalah adik kamu saja diceramahi." Zafa terkekeh, benar apa kata adiknya. Dia seharusnya bangkit dan menghibur Dian. Setidaknya menunjukkan jika dirinya baik-baik saja dan tak terbebani dengan masalah ini."


Zafrina menatap ponselnya, ia ingin menghubungi papinya tapi hatinya masih ragu. Ia membawa masalah baru di keluarganya. Ia bahkan dapat melihat kemarahan mamanya untuk pertama kalinya. Zafrina merasa bersalah karena memang dia yang menguping bukan karena secara langsung diberitahu papinya.


"Maafin Ina papi, Ina tidak menyangka mama akan semarah ini. Semoga papi tidak benci sama Ina."


Zafrina membaringkan tubuhnya di atas kasur. Namun karena semalam ia tidak tidur, di tambah lagi dia baru saja melakukan perjalanan jauh, tak butuh waktu lama Zafrina sudah terlelap terhempas ke alam mimpi. Sementara Zayana dan Zafa ada di ruang makan. Gadis itu membuatkan pancake untuk kakak pertamanya. Zafa menatap wajah Zayana yang terlihat pucat. Gadis itu memang fisiknya seperti Dian, maka dari itu dia sangat di perhatikan oleh papanya. Meskipun Zafa juga lemah tapi bersukur dia jarang sekali sampai masuk rumah sakit.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Telat guys ... Real life baru amburadul.