
********
Ara dan Arsen menunggu anak-anak yang akan ikut mereka. Bahkan Ara memesan taksi online karena ia yakin mobil Arsen tidak akan cukup. Dan benar saja ada sekitar 13 anak berdiri di hadapan Ara dan Arsen 5 diantaranya sudah remaja. Mereka semua menyalami tangan Ara dan Arsen bergantian. Tidak ada kata jijik atau risih saat Arsen melihat penampilan anak-anak itu.
"Ra, kita bawa mereka beli baju dulu buat ganti. Kan ga mungkin mereka pakai baju itu terus sepanjang hari." Ujar Arsen, Ara mengangguk
"Nanti di seberang sana ada toko baju. Aa berhenti saja disana. Aku kenal sama penjualnya. Ara sedikit mengernyit merasakan sakit di ulu hatinya. Arsen menangkap perubahan raut wajah Ara yang terlihat tidak nyaman.
"Kita ke rumah sakit dulu saja ya?" Ujar Arsen dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Ga perlu A' .. "
"Kalo begitu biar aku lihat." Kata Arsen, mata Ara seketika mendelik kesal.
"Aa .. ga lihat itu anak-anak pada ngelihatin gitu." geram gadis itu.
.
.
.
Arsen menghentikan mobilnya diikuti taksi online yang membawa anak-anak lainnya di sebuah toko baju yang Ara maksud.
"Halo om Farhan .. "
"Eh Ara .. lama tidak terlihat. Bagaimana kondisi Abah sekarang Ra?" tanya pemilik toko pada Ara, sesaat wajah Ara berubah sendu namun detik berikutnya dia langsung mengubah mimik wajahnya menjadi kembali ceria. Semua itu tak luput dari penglihatan Arsen.
"Abah sudah meninggal om .. " Ara tersenyum pada pemilik toko. Namun pemilik toko justru merasa bersalah pada Ara.
"Maaf Ra .. Om tidak tahu."
"Ga apa-apa om, doanya saja untuk abah. Oh iya om Ara kemari karena ingin mencari baju untuk anak-anak."
"Oh ok .. jangan sungkan pilih saja. Nanti om kasih diskon deh Ra." Kata pemilik toko.
"Makasih ya Om .. " Ujar Ara ----- "Kalian silahkan pilih baju dan celana masing-masing 3 potong dan jangan lupa baju dalam kalian juga." Kata Ara pada ketigabelas anak-anak itu.
"Memang kita mau kemana teh kok belanja baju banyak biasanya teteh cuma ngasih pas lebaran aja?"
"Kali ini beda, kalian pilih 3 baju dan tiga celana yang kalian suka. Nanti teteh akan bawa kalian jauh dari sini dan yang pasti tempat yang bisa membuat kalian bebas dari bang Barja dan bang Gani." Kata Ara, dan anak-anak itu bersorak.
Selesai berbelanja Arsen membawa mobilnya menuju ke sebuah kawasan. "Lho Aa kita mau kemana?" Arsen hanya tersenyum miring tanpa berniat menjawab. Dan tibalah mereka di sebuah bangunan luas seperti rumah kost tapi lingkupnya besar.
"Selamat datang di rumah kalian." Ujar Arsen, mereka semua berhamburan keluar dari mobil dengan wajah bahagia. Billy sudah berdiri di sana menyambut kedatangan Ara dan tuannya.
Arsen membawa Ara ke depan, dimana disana sudah terpasang plang bertuliskan Panti Asuhan Tiara Kasih.
Mata Ara sudah tertutup kristal-kristal bening yang siap terjatuh. Tubuhnya mematung menatap papan nama itu, Ia menatap Arsen yang tersenyum tipis ke arahnya. Ara seketika menghambur memeluk Arsen.
"Terimakasih Aa .. ini hal terindah yang pernah Ara dapat. Aa mewujudkan mimpi Ara untuk mereka." Ara menangis bahagia di pelukan Arsen. Arsen membelai wajah Ara, dan mengusap air mata gadis itu.
"Ini adalah kado pernikahan kita dariku. Dan lihatlah di sebelah kananmu? Rumah itu akan menjadi hunian kita. Agar kau bisa terus memantau anak-anak ini." Kata Arsen, lidah Ara terasa kelu, hingga tak ada sepatah katapun yang terucap dari bibir Ara, hanya air mata dan senyumannya yang mampu mengatakan bagaimana perasaannya saat ini.
"Kak Ara, ini benar rumah untuk kami?" tanya Anak-anak itu. Ara mengangguk berulang kali.
"Katakan Terima kasih pada Aa Arsen." Ujar Ara masih sesenggukan. Ini terlalu mengejutkannya. Semua ini terasa seperti mimpi. Dan Ara benar-benar tidak ingin terbangun saat ini.
.
.
.
"Memang Judy mau minta apa sayang?" tanya dian yang sedang asyik merangkai bunga untuk di taruh di dalam Vas.
"Mama Dian, kalo nanti Judy sudah tidak tinggal di sini mama Dian harus sering-sering kasih tau Zayn ya buat kangenin Judy." Gadis itu terkekeh sendiri setelah berkata seperti itu. Membuat Dian semakin gemas.
"Memang kenapa?"
"Paman Arsen waktu itu pas di tinggal onty Ara pergi, dia gelisah bilangnya kangen sama onty. Kata oma Clara kalo kangen tandanya cinta. Jadi kalo nanti Zayn kangen sama Judy berati Zayn cinta sama Judy." Kini giliran Dian yang tertawa. Gadis ini pemikirannya terlalu matang.
Zayn datang dan tersenyum pada Judy dan ibunya. Ia baru saja selesai berlatih fisik di mansion keluarga Kusuma. Judy mengambilkan botol minumnya dan memberikannya pada Zayn, Dian hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Judy yang kecentilan kepada putranya.
Zafa mendekat dan memeluk Dian, pria kecil itu juga mencium pipi Dian begitu dalam.
"Ada apa sayang?"
"Mama, boleh Zafa main ke rumah Laura?"
"Memang disana ada siapa saja sayang?"
"Tidak ada Ma, makanya Zafa mau temani Laura. Kasihan ma."
"Sebentar, mama hubungi mamanya Laura dulu. Jika di perbolehkan biar Laura disini saja. Toh disini ada saudarimu dan Judy. Oh iya ngomong-ngomong kemana adik kamu sayang?"
"Mereka sedang di kandang kelinci mama, Tadi Ana katanya mau foto-foto Tapki kelincinya mau dijadikan story." Ujar Zafa. Dian hanya geleng kepala perkembangan teknologi membuat perilaku anak-anak jaman sekarang berubah.
.
.
.
Aldo baru saja selesai membantu Veni mengganti pakaian. Hari ini Veni diijinkan pulang dengan syarat bedrest total. Karena dokter mengatakan jika plasenta bayi Veni menutupi jalan lahir. Sehingga itu yang membuat Veni kemarin kesakitan dan pingsan.
"Bagaimana perkembangan kasus Ibu baby?" tanya Veni pada Aldo.
"Sejauh ini semuanya lancar. Berkas perkaranya sudah masuk pengadilan. Dan juga bukti kejahatan Martinus sudah terkumpul. Bahkan .. " Aldo tak dapat menyelesaikan ucapannya karena semua terasa tercekat di tenggorokannya. Ia melihat Hasil rekaman CCTV yang terkumpul dimana Veni disiksa dengan kejam oleh Martinus dan istrinya.
"Bahkan apa?"
"Bahkan semua bukti-buktinya langsung mengarahkan padanya." Ujar Aldo berbohong. Bagaimanapun ia tak ingin kondisi Veni kembali bermasalah.
"Oh .. Baby bisakah kita mampir ke La Pa Sat Festival market?" Tanya Veni.
"Apa kau ingin sesuatu?" Tanya Aldo. Veni mengangguk antusias.
"Baiklah kita kesana. Tapi sebelum itu aku harus konsultasi dengan dokter dulu apa saja yang tidak boleh kau makan." Ucap Aldo dengan semangat ia mendorong kursi roda Veni.
๐๐๐๐๐๐๐๐๐
Jempol dan giftnya othor tungguin ya guys.
Terimakasih atas dukungan kalian, itu jadi mood booster buat aku. Aku akan selalu memikirkan readers yang mayoritas mendukung karyaku. Love you sekebon jeruk guys ๐ฅฐ๐ฅฐ๐ฅฐ