
********
Tiga hari, hari yang dijanjikan Didi akhirnya tiba. lahan luas di samping rumah Eliana di dekorasi sedemikian rupa, hingga menimbulkan kesan elegan. Sederhana namun tak mengurangi kemewahan yang terlihat. Mahar yang Didi sediakan tak main-main. Dia sudah berusaha selama ini. Selama Selin meninggalkan dirinya Didi berubah menjadi pria pekerja keras.
Ia berhasil memajukan perkebunan sang nenek. Didi bahkan memegang bisnis yang dibangun oleh ibunya. Bahkan kini resto yang Didi kelola sudah memiliki banyak cabang berkat kegigihan Didi. Meskipun semua didapat dari warisan namun Didi tidak pernah berpangku tangan. Dan sekarang dia hanya tinggal bersantai dan menikmati hasil kerja kerasnya. Karena semua sudah dipegang oleh orang-orang kepercayaan Didi.
.
.
.
Hari ini Selin didandani dengan make up natural, gaun putih sederhana menempel sempurna ditubuhnya. Ia tampak cantik dan bercahaya.
Dian dan Veni membantunya bersiap. Meski keduanya sedang hamil namun keduanya tampak biasa saja. Biasanya Dian akan mual dan muntah tanpa henti. Tapi entah mengapa hari ini sejak bangun tidur dia tampak bersemangat menyambut pernikahan Didi. Begitupun Veni, sejak kemarin Aldo dan dirinya sudah ada di perkebunan karena Veni terus merengek untuk bertemu Judy. Hingga Aldo dibuat pusing dengan tangisan Veni. Entahlah sepertinya istrinya hamil anak laki-laki. Karena Semenjak tiba di perkebunan Veni terus menempel pada Judy.
Didi dan yang lain bersiap di ruangan yang akan dipakai untuk ijab qobul. Di sana sudah ada keluarga inti Didi dan Selin. Berkat bantuan keluarga Kusuma akhirnya raja Aaron dan ratu Rakila bisa hadir di sana menyaksikan pernikahan putri mereka.
Begitu juga dengan keluarga Didi. Untuk pertama kalinya Clara bersanding dengan Arman. Selama ini mereka masih berstatus suami istri. Meskipun tidak satu rumah. Demi menjaga hati buah cinta mereka. Putra pertama Arman yakni Arsen tidak bisa menerima pernikahan Arman dengan Clara. Arsen merasa kematian ibunya ada hubungannya dengan Clara karena dulunya Clara adalah sahabat ibu Arsen. Awalnya saat Arsen kecil dia tak begitu tahu namun setelah beranjak remaja dia merasa Clara tidak benar-benar menyayangi dirinya. Namun semua itu bukan tanpa alasan. Karena Clara terlalu sibuk mengurus ketiga anaknya sehingga perhatiannya untuk Arsen berkurang. Dan itu membuat Arsen membenci Clara dan anak-anaknya.
.
.
.
Suasana mendadak hening karena acara ijab qobul akan segera dimulai. Wajah Didi tampak sangat tegang. Bahkan dia merasa mulutnya kaku, untuk tersenyum saja rasanya sulit.
Raja Aaron menyerahkan perwalian pada petugas KUA yang bertindak sebagai penghulu.
"Apakah mempelai pria sudah siap?" tanya Penghulu. Didi mengangguk dengan wajah tegang
"Santai saja mas .. Habis ini tinggal enaknya aja." Celetuk penghulu. Didi tersenyum kaku.
"Baiklah kita mulai saja. Tolong ikuti saya." Ujar penghulu. Wajah Didi terbengong.
"Ikut kemana pak?" tanya Didi, Semua yang ada diruangan itu menepuk jidat mereka sambil geleng kepala.
"Maksud saya, ikuti kata-kata saya mas." Ralat penghulu itu. Didi mengangguk sambil mengusap tengkuknya. Malu bukan main semua orang menahan tawa mereka melihat kepolosan Didi.
"Saya nikahkan dan kawinkan ananda Ardian Hutapea dengan adinda Selina Supassara Kyle binti Aaron Ashab Supassara dengan mas kawin satu unit pesawat jet dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Selina Supassara Kyle binti Aaron Ashab Supassara dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Ujar Didi lantang.
"Bagaimana saksi?" tanya Penghulu,
"Halo saksi .. bagaimana?" ulang penghulu menanyakan pada saksi yang terlihat masih bengong.
"Eh .. Sah!" Ujar semua bersamaan begitu tersadar dari keterkejutannya.
.
.
.
Selin berjalan keluar diapit oleh nenek Soraya dan nenek Eliana. Wajah ketiganya tampak sumringah. Tak lupa Judy berjalan di depan Selin hingga mencuri perhatian para tamu yang notabene adalah keluarga dan kerabat mereka.
Judy tersenyum kepada siapa saja yang dilewatinya. Akhirnya penantiannya berbuah manis. Judy terlihat sangat senang.
Didi dan Selin saling menandatangi berkas pernikahan mereka. Sebenarnya sedikit sulit mengurus surat-surat untuk melengkapi berkas pernikahan mereka. Namun dengan uang semuanya lancar tanpa hambatan. Kini Selin telah sah menyandang nama Nyonya Hutapea
Selin menghadap ke Didi dan mencium punggung tangan Didi sedangkan Didi mencium puncak kepala Selin begitu dalam. Semua yang hadir bertepuk tangan acara itu akhirnya berlangsung dengan baik.
Di tempat lain Archel tampak masih kesal. Sudah hampir satu Minggu tak ada kabar berita mengenai keberadaan Selin dan putrinya.
Ia membanting apapun yang ada dihadapannya. Rasa kesalnya belum menghilang. Bagaimana pun caranya ia harus bisa mendapatkan Selin.
.
.
.
Acara demi acara telah terlewati dengan baik dan lancar. Kini Didi dan Selin berada di kamar. Suasana mendadak menjadi canggung begitu mereka menikah.
"Em .. aku akan mandi dulu." Ujar Selin.
"Apa sebaiknya kita mandi bersama-sama?" tanya Didi. Dan Selin hanya menggeleng lalu masuk ke kamar mandi. Sedang Didi hanya mendesah di luar.
"Sabar ya Boy bentar lagi kita bakalan cetak adik untuk Judy." Kata didi menenangkan naga api yang sedang bergerak mengeras. Didi memutuskan mandi di kamar lain yang bersebelahan dengan kamar pengantinnya.
Sedang Judy saat ini sedang bersama Dian dan Veni juga anak-anak Dian, mereka tertawa bersama bermain bersama.
⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅
Hot nya besok ya, untuk Rian dan Veli othor libur karena othor lagi ga enak badan.
Thanks semuanya 😘😘