
********
Gimana ya mau ngomongnya ... ๐ ๐
Di part ini othor lagi kopek-kopek bawang lagi
Jadi kalo pedas lambaikan tisunya ok!!
"Mas ... " Dian sesenggukan di pelukan Gerry, Zafrina dan Zafa hanya memandang Dian penuh penyesalan. Mereka tak mengira jika mamanya akan semarah itu pada Rian.
Apa yang terjadi, kenapa kamu seperti ini?" Gerry mengusap punggung Dian agar lebih tenang.
"Mas ... dadaku se-sak sekali." Ujar Dian terbata-bata. Gerry menatap Dian panik begitupun Zafrina dan Zafa. Dian seolah kesulitan bernafas dia memukul dadanya berulang kali.
"Sayang, kamu kenapa?"
"Sakit mas ... " Gerry langsung mengangkat tubuh Dian dan membawa istrinya masuk ke dalam mobil di garasi tanpa bisa berpikir apa-apa lagi Gerry langsung menyalakan mesin mobil dan menginjak pedal gas dengan cepat mobil pun melesat meninggalkan kedua anaknya yang saling melempar tatapan.
"Kita susul papa kak ... " Zafrina menggoyang lengan Zafa. Pemuda itu tersentak lalu bergegas menuju garasi mengambil kunci motor.
"Kita naik ini saja biar cepat." Ujar Zafa. Akhirnya Zafrina dan Zafa menyusul Gerry. Zafrina menyandarkan kepalanya di punggung Zafa.
"Jika terjadi sesuatu pada mama aku tidak akan memaafkan diriku sendiri kak. Ini semua salahku. Seharusnya aku tidak menambah beban pikiran mama. Seharusnya aku dapat menahan diriku menyimpan semuanya sendiri." Ujar Zafrina, Zafa dapat merasakan jika adiknya tengah menangis karena air mata Zafrina menembus piyamanya. Keduanya tak sempat mengganti piyama mereka. Bahkan untuk mengambil jaket dan ponsel pun mereka tak kepikiran sampai ke sana.
.
.
.
Gerry masih menunggu dengan cemas di depan ruang IGD dimana beberapa menit lalu istrinya masuk ke sana, dan sampai sekarang belum ada kabar lebih lanjut dari dokter yang menangani Dian.
"Papa ... " Zafa memanggil Gerry, pria itu tersenyum pada putra dan putrinya. Dengan isyarat tangan Gerry memanggil kedua anaknya mendekat. Zafrina dan Zafa segera menghambur memeluk Gerry.
"Papa maafin Zafa, ini semua salah Zafa. Zafa yang sudah menyebabkan mama sakit." Isak pemuda itu.
"Ina juga salah papa. Maafin Ina papa."
"Tidak ada yang perlu disalahkan, semua sudah takdir dari Allah. Mungkin ini teguran untuk kita agar lebih memperhatikan mama kalian." Ucap Gerry bijak. Meskipun tadi Gerry masih sempat mencuri dengar istrinya memarahi Rian tapi Dian tidak pernah marah sebelumnya jadi Gerry penasaran apa yang membuat istrinya marah dan membuat kondisi dian kembali drop.
Seorang dokter keluar, ia melempar pandangan kearah Gerry lalu membungkuk sebentar dan tersenyum lembut.
"Bagaimana kondisi istri saya dokter?" tanya Gerry tak sabar.
"Saat ini kondisi nyonya Dian masih lemah. Beruntung anda cepat membawanya kesini. Nyonya Dian mengalami serangan jantung ringan. Pasien dengan riwayat pembengkakak jantung memang sangat riskan. Tidak boleh terlalu senang berlebihan begitu juga tidak boleh terlalu berlebihan jika bersedih."
Deg ...!
Zafa dan Zafrina seakan membeku mendengar penuturan dokter itu mengenai kondisi Dian, sedangkan Gerry meraup wajahnya kasar. Hal yang selama ini dia takutkan akhirnya terjadi.
Zafrina menangis di pelukan Zafa, bahkan putra pertama Gerry itu juga sudah berkaca-kaca.
"Kalian jangan khawatir mama kalian baik-baik saja." Ujar Gerry.
"Sejak kapan mama menderita sakit itu pa?" tanya Zafa.
"Sudah sejak lama sayang, tepatnya setelah kelahiran Zayn dan Zayana."
"Tapi selama ini mama terlihat baik-baik saja pa."
"Itulah hebatnya mama kalian." Gerry berusaha menghibur kedua anaknya agar tidak selalu menyalahkan diri mereka.
Seorang perawat mendatangi mereka dan mengatakan jika Dian akan dipindahkan. Gerry dan kedua anaknya masuk kedalam ruangan dan melewati lift khusus menuju lantai atas. Zafrina dan Zafa menatap sendu pada tubuh lemah mamanya. Begitu banyak alat medis yang menempel di tubuh wanita itu. Gerry membantu mendorong brankar Dian, mata Gerry tak lepas memandangi wajah istrinya yang pucat.
Sesampainya di lantai atas suster meninggalkan ruangan menyisakan Gerry, Zafa dan Zafrina. Zafa langsung duduk di kursi samping brankar Dian dan menggengam jemari ibunya. Air mata Zafa menetes deras seakan menggambarkan suasana hatinya saat ini.
"Zafa yang salah, Zafa minta maaf ma. Harusnya Zafa menanyakan hal ini pada papa dan mama. Maafin Zafa ma, Zafa salah." Pemuda itu sesenggukan mencium tangan ibunya berulang-ulang.
Gerry mendekat dan memegang pundak Zafa. Tatapan mata Gerry seolah meminta penjelasan atas apa yang Zafa katakan barusan.
Zafa bersimpuh di kaki Gerry. "Ampuni Zafa pah, semua gara-gara Zafa. Zafa memilih pergi ke Amrik bukan karena berniat menuntut ilmu di sana pah. Tapi Zafa kecewa karena papa dan mama tidak pernah mengatakan jika Zafa bukanlah anak kandung mama. Maaf pa ... harusnya Zafa tanya papa tapi Zafa justru bertanya pada uncle Rian, dan membuat uncle Rian menceritakan semua masa lalu mama yang kelam." Zafa terus terisak di kaki Gerry.
Pengakuan Zafa tentu membuat Gerry sangat syok dan terkejut. Dia kecewa pada Zafa mengapa lebih memilih bertanya pada orang lain dari pada dirinya. Namun Gerry juga tidak bisa menyalahkan Zafa. Karena semua masalah itu semua bersumber dari dirinya. Dulu Dian ngotot ingin mengatakan tentang hal ini tapi Gerry melarang karena tak ingin membuat Zafa bersedih. Tapi sekarang hasil yang harus ia tuai, istrinya harus terbaring sakit karena keputusannya dulu.
"Bagunlah Zafa, semua bukan salahmu. Ini salah papa. Papa yang meminta mama untuk tidak mengatakan kenyataan itu padamu. Papa takut menyakitimu. Papa takut membuatmu merasa berbeda dari saudaramu yang lain. Maafkan papa sayang." Kedua pria beda generasi itu menangis seraya berpelukan sedang Zafrina yang duduk di sebelah kanan ibunya ikut terharu berulangkali ia menyeka air mata yang menetes di pipinya.
"M-mas .... " suara lirih Dian membuat keharuan itu terhenti dan ketiganya langsung menoleh kearah Dian yang sudah membuka matanya.
"Sayang ... " Gerry mendekat dan duduk di samping Dian, ia mengusap air matanya dengan buru-buru.
"Ke-na-pa me-nangis?" Suara Dian terbata-bata selang oksigen yang tertancap di hidungnya berusaha ia lepas tapi Gerry mencegahnya.
"Biarkan seperti ini dulu. Nanti jika dokter sudah mengijinkan melepasnya baru kamu lepas."
"Tapi aku sudah baik-baik saja. Aku tidak mau alat-alat ini membuat mereka khawatir." Kata Dian lirih lemah tak bertenaga.
"Mama, Zafa mau mama sembuh. Jangan dilepas ... " Lirih Zafa, ia segera mengusap air mata yang kembali mengalir di pipinya.
"Mama baik-baik saja sayang."
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
episode bawang merah ... ๐๐๐
Othor mau sembunyi dulu deh ya takut di marahin suami dan anak kalian karena bikin kalian mewek di beberapa episode. ๐โโ๏ธ๐โโ๏ธ๐โโ๏ธ