Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
S2. Terpesona


*******


Dian dan Gerry memutuskan akan pergi ke kediaman keluarga Arman siang ini. Sejak pagi dirinya terus merengek tak tenang memikirkan Ara. Gerry juga tidak bisa membiarkan rasa penasaran Dian menguasai pikiran wanita itu. Karena Gerry takut jika istrinya akan berbuat nekat seperti Veni.


Saat akan keluar pintu mansion, Dian melihat mobil Aldo masuk pelataran, Dari kemarin memang Veni tidak nampak. Dian pun sebenarnya mencemaskan saudaranya itu. Dian membulatkan mata saat melihat kondisi Veni. Aldo menggendongnya ala bridal style dan membawanya melangkah masuk ke mansion nya.


"Dian .. ibu mana?" ---- Aldo menanyai Dian dengan wajah berantakan, kantung mata menghitam.


"Ada di dalam, Veni kenapa?" Tanya Dian kembali ikut masuk. Aldo membawa Veni kedalam kamar yang biasanya Veni tempati. Dian memanggil ibunya.


"Ibu, sini ..! lihatlah kondisi Veni bu ..!"


"Ada apa sayang, Veni kenapa?" Arimbi berjalan dengan tergesa-gesa mengikuti langkah Dian yang terlebih dahulu meninggalkan kamar ibunya.


Nyonya Arimbi masuk ke kamar Veni, ia melihat Veni terbaring lemah.


"Ya Allah, Veni kenapa Do?" tanya Nyonya Arimbi pada Aldo.


"Beberapa hari yang lalu tanpa sengaja kami bertemu ibu Veni. Dan setelah itu Veni seperti ini bu. Dia seperti ketakutan.


Nyonya Arimbi meraih Wajah Veni yang terlihat pucat. Pupil matanya bergerak tak tenang.


" Veni, katakan pada ibu kau kenapa?" Veni menatap ibu Arimbi lalu menghambur memeluknya.


"Ibu aku takut. Dia datang, dia pasti ingin menjualku juga sama seperti dia dulu menjual Dian bu, aku takut bu." Isak Veni.


Deg ..!!


Gerry langsung memeluk Dian saat melihat pijakan kaki Dian seakan goyah. Ternyata Ibu Veni tak hanya membuat Veni trauma tapi Dian juga. Apa yang sebenarnya wanita itu perbuat.


"I-ibu ka-mu disini?" Tanya Dian dengan tergagap.


Veni menatap Dian sesaat mengangguk lalu menangis lagi.


"Kalian sedang hamil ingat, jangan sampai kalian stress memikirkan hal yang belum tentu terjadi Sekarang ada ibu yang akan melindungi kalian berdua. Dan kalian sudah memiliki suami yang hebat. Untuk apa kalian takut. Lagi pula kita juga tidak tau kan tujuan ibu kamu apa? Kita akan hadapi ibumu bersama-sama." Ujar ibu Arimbi dengan tegas.


.


.


.


Arsen sudah berangkat ke kantor. Dia berulang kali berpesan pada mama Clara jangan sampai membiarkan Ara pergi dari rumah tanpa pengawasan.


Namun karena bosan, mama Clara meminta ijin pada Arsen untuk membawa Ara berbelanja. Arsen mengijinkannya. Namun Arsen tidak tahu rencana sang mama.


"Sayang ayo ikut mama!" Ujar mama Clara.


"Kemana tante?" Tanya Ara bingung.


"Panggil mama saja. seperti Arsen memanggil mama." Kata mama Clara, Ara terharu mendapat perlakuan yang begitu baik dari keluarga Arsen.


"Terimakasih ma ... "


Ara yang tidak tahu apapun hanya mengikuti ajakan calon mertuanya. Meskipun dia jarang masuk ke dalam mall tapi Ara tau bagaimana harus bersikap. Mama Clara membawa Ara berbelanja beberapa potong baju dan pakaian dalam. Tapi selama di dalam toko Ara lebih banyak diam dan mama Clara yang memilih serba serbi yang dibeli termasuk pakaian tipis yang mama Clara tunjukkan padanya, bulu kuduk Ara merinding melihat pakaian itu. Tapi dia tidak memiliki hak berkomentar. Setelah berbelanja, mama Clara hanya membawa sepasang sepatu dan satu dress cantik sedang yang lainnya mama Clara meminta jasa pengiriman barang ke rumah, karena mama Clara adalah pelanggan eksklusif di tempat itu.


Mama Clara membawa Ara memasuki sebuah salon kenamaan.


"Tolong make over dia dan lakukan perawatan komplit pada dirinya. Buat dia berbeda." Ujar Mama Clara. Sementara menunggu calon menantunya mama Clara menikmati spa yang tersedia di Salon itu.


Setelah 2 jam menunggu akhirnya Ara keluar dari bilik, dan mama Clara tampak puas dengan hasil dari tangan-tangan terampil orang di salon itu



"Sini sayang," Mama Ara menyampirkan selendang untuk menutupi pundak Ara, gadis itu tersenyum ternyata mama Clara tau apa yang membuat dirinya tidak nyaman.


Saat keluar dari salon, tanpa sengaja Ara bertemu dengan gerombolan teman wanita dikampus yang sering membuli dirinya.


"Wah lihat, siapa yang baru keluar dari salon?" Celetuk salah satu wanita berpakaian minim.


Mama Clara dan Ara membalikkan badannya, mata Ara membulat saat melihat kawanan yang sering membuli dirinya di kampus.


"Kamu kenal mereka sayang." Tanya mama Clara.


"I-iya mah, mereka teman Ara." Kata Ara lirih.


"Apa kamu bilang kita teman? cihh .. najis kita temenan sama orang miskin kaya kamu." Ujar salah seorang teman wanita Ara yang paling menonjol diantara yang lain.


Mama Clara memandang sengit kearah gadis itu. Sepertinya mulut mereka tidak disekolahkan dengan benar.


"Saya tidak menyangka, kalian disekolahkan tinggi-tinggi tapi tingkah kalian seperti tidak pernah bersekolah. Putri saya juga tidak level berteman dengan kalian." Ujar mama Clara bersungut.


Gerombolan teman Ara tampak tercengang. Saat mama Clara menyebut Ara putrinya. Mereka meneliti mama Clara dan Ara bergantian. Segala menempel di tubuh keduanya adalah barang-barang branded.


"Ayo sayang, kita ke perusahaan. Tidak penting mengurus sekawanan manusia yang ga ada akhlaknya." Celetuk mama Clara menarik tangan Ara. Terpaksa Ara mengikuti mama Clara meskipun dirinya tahu resikonya. Saat dirinya masuk sekolah pasti akan kembali jadi bahan bulian.


Mama Clara masih terus menggerutu sepanjang jalan. Wajah sumringahnya menjadi garang, Ara bahkan tidak berani bersuara.


Setibanya di depan kantor Arsen, mama Clara menarik nafas berulang-ulang untuk meredam emosinya. Rencana membuat Arsen terpesona pada Ara bisa gagal kalo pria itu sampai tahu apa yang terjadi di mall tadi.


Ara dan mama Clara masuk ke lobi namun langkah kaki mama Clara di hentikan oleh seorang resepsionis.


"Maaf ibu mencari siapa?"


"Oh, saya mau bertemu anak saya Arsen Banu Hutapea." Kata Mama Clara.


Semua orang tampak terkejut mendengar wanita paruh baya itu menyebut nama pimpinan mereka.


"Oh maafkan kelancangan saya ibu, silahkan masuk." Ujar resepsionis itu seraya menunduk hormat pada mama Clara dan Ara.


Sesampainya di lantai 20 Ara didorong oleh mama Clara hingga berdiri di depan pintu ruang CEO.


"Mama mau ke toilet. Kamu ketuk pintu dulu sana." Kata mama Clara. Dengan ragu Ara mengetuk pintu ruangan Arsen.


Tok ... tok ... tok


Pintu ruangan Arsen terbuka namun yang membukanya seorang wanita dengan pakaian seksi. Ara menelan salivanya kasar melihat wanita itu menatapnya tajam.


"Siapa?" tanya Arsen dari dalam.


"Siapa kamu?" tanya wanita itu ketus.


"Siapa Wanda? kenapa kamu diam saja?" Arsen berdiri di depan pintu matanya mengerjap berkali-kali apakah dia salah lihat?


"A' .. "


Arsen langsung tersadar dari lamunannya.


"Kamu kesini sama siapa?" Arsen menarik tangan Ara, membuat Wanda melotot menatapnya.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


giftnya jangan lupa ya. Sehari secangkir kopi juga ga papa. Biar semangat Up 3 x sehari. Othor Up udah kaya mimik obat tau.


Tetap birukan jempolnya ya gaes