Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
New season 18. Ketakutan Zafia


**********


Zafia duduk di balkon kamarnya, sejak mamanya sakit Zafia mengurung dirinya. Bahkan pengasuhnya sampai kewalahan menghadapi putri bungsu Gerry itu.


"Ada apa bik? kenapa makanannya dibawa keluar lagi?" tanya Zafa saat akan turun tangga.


"Nona kecil tidak mau makan tuan. Bahkan sejak pagi hanya minum susu satu gelas." Ujar bi Esih. Pengasuh kepercayaan mamanya yang sudah mengasuh sejak Zafa kecil.


"Ya sudah bik, biar saya saja. Bibi selesaikan pekerjaan yang lain saja." Kata Zafa, bik Esih menunduk lalu memberikan nampan berisi nasi itu pada Zafa.


Zafa masuk ke kamar Zafia. Ia mendapati adiknya melamun menatap hamparan kebun bunga milik mamanya. Zafa meletakkan nampannya di nakas. Zafia bahkan sama sekali tidak terganggu dia seakan memiliki dunianya sendiri.


"Ada apa hmm ...?" Zafa memeluk adik bungsunya itu hingga gadis kecil itu tersentak kaget. Zafia menoleh menatap kakak pertamanya sekilas lalu menggeleng lemah dan kembali menatap hamparan bunga di taman itu.


"Tidak mau berbagi dengan kakak?" Zafa kembali bertanya, kali ini Zafia mengalihkan perhatiannya dan menatap Zafa dengan mata berkaca-kaca.


Zafa tersenyum dan menarik tangan Zafia membawa kepala gadis itu ke dekapannya.


Zafia mulai terisak namun Zafa memilih mendiamkannya dan hanya mengusap punggung Zafia. Zafa tau betul sifat adiknya yang sangat tertutup dan cengeng. Namun Zafia akan pura-pura tegar di hadapan orang lain.


"Mama pasti baik-baik saja, dan akan baik-baik saja. Zafia tidak usah bersedih."


"Fia takut kak, Fia ga mau mama sakit. Fia takut mama kenapa-kenapa."


"Apa Fia mau ikut kakak menjenguk mama?" tanya Zafa lembut. Zafia tampak berpikir sejenak lalu mengangguk. ---- "Jika Fia mau jenguk mama, sekarang Fia makan dulu. Jangan sampai mama tau kalo Fia seharian ini tidak makan. Nanti mama pasti akan sedih."


Akhirnya gadis kecil itu mau makan disuapi oleh Zafa. Zafa sangat menyayangi adik bungsunya itu. Dan hanya dengan Zafa lah Zafia mau berkeluh kesah.


Setelah makan Zafa mengajak adiknya untuk turun dan ternyata ketiga adiknya yang lain sudah bersiap. Zafia memilih bergelayut di lengan Zafa dan menyembunyikan wajahnya di lengan kakaknya. Ketiga adik Zafa itu sudah terbiasa melihat kelakuan manja Zafia. Kelima anak Dian dan Gerry itu masuk ke sebuah mobil Vellfire berwarna hitam. Diego sudah bersiap di balik kemudi untuk mengantarkan anak-anak itu ke rumah sakit.


Zayn duduk di samping kemudi sedangkan Zafa berada di belakangnya bersama Zafia. Zayana dan Zafrina duduk di belakang Zafa.


.


.


.


Setibanya di bandara Soetta, Rian sudah di jemput oleh Joe. Pria itu kini menjabat menjadi direktur di perusahaan Rian yang berada di Indonesia.


"Bagaimana kondisi Dian?" tanya Rian setelah masuk ke dalam mobil. Kemarin menurut keterangan Diego nyonya Dian sempat mengalami serangan jantung ringan dan dilarikan tuan Gerry ke rumah sakit." Terang Joe. Perasaan Rian semakin tidak nyaman karena menyebabkan semua ini terjadi.


Joe membawa Rian ke rumah sakit milik keluarga Gerry. Sesampainya di sana Arya sudah menyambutnya karena Rian memerlukan akses khusus untuk mencapai ruangan perawatan Dian.


"Seperti yang kau lihat sekarang. Aku kembali dengan masalah baru yang ku buat." Jawab Rian, meskipun tak menampik saat ini dirinya tegang. Karena ia juga berharap Zafrina ada di sana agar ia juga bisa meminta maaf pada putrinya itu.


Rian mengetuk pintu ruangan Dian, Setelah mendapat ijin masuk dari Gerry, Rian membuka pintu namun di sana hanya ada Gerry dan Dian. Namun Dian dalam keadaan terlelap. Gerry menatap tajam Rian dan memberi isyarat keluar. Sebelum Gerry meninggalkan Dian, ia meminta dua suster jaga untuk menjaga istrinya itu. Gerry mengecup puncak kepala Dian dan bergegas menyusul Rian.


Kini Gerry dan Rian ada di rooftop begitupun Arya. Dia yang tidak sadar mengikuti kedua pria itu memilih duduk agak menjauh dan memainkan ponselnya.


"Katakan apa yang sebenarnya terjadi?" Ucap Gerry menatap Rian tajam.


"Aku bisa apa saat putramu mendatangi ku dan menanyakan tentang ibu kandungnya?" Aku sudah bertanya padanya kenapa tidak menanyakan langsung padamu. Tapi jawaban putramu membuatku memutuskan menceritakan sedikit tentang ibunya.


"Apa jawaban Zafa?"


"Dia bilang dia tidak sanggup bertanya pada kalian karena dia terlampau kecewa padamu. Kenapa kau menyembunyikan hal sebesar ini darinya."


Gerry memijat batang hidungnya. Jujur saja dia tak menyangka semuanya akan seperti ini.


"Maafkan aku, aku benar-benar tidak ada maksud buruk pada keluargamu. Bahkan putramu juga sempat menanyakan apakah dia anak kandungmu atau anak kandungku." Kata Rian. Mata Gerry langsung membulat. Ternyata tak hanya dirinya saja namun Zafa memiliki pemikiran yang sama dengannya.


"Lalu apa jawabanmu?" tanya Gerry. Rian kembali melakukan hal yang sama menunjukkan kertas hasil tes DNA yang pernah ia lakukan belasan tahun lalu.


"Hanya itu yang bisa aku tunjukkan padanya. Aku tidak sebaji*ngan itu meniduri istri orang." Ucap Rian. Gerry tersenyum miring mendengar penuturan Rian itu.


"Tapi nyatanya kau pergi dengan Selena disaat Zafa dalam kondisi yang sangat memprihatinkan." Ujar Gerry. Rian terdiam, ada benarnya apa yang Gerry ucapkan.


"Bukalah, itu hasil tes DNA antara aku dan Zafa." Kata Rian, akhirnya Gerry dengan perasaan tak menentu membuka kertas yang mulai terlihat usang itu. Gerry membaca dengan seksama. Namun matanya terus fokus pada tulisan yang di cetak dengan warna merah dengan tulisan tidak cocok. Lega bukan main Gerry kini bisa bernafas lega.


"Putramu bahkan bertanya kenapa dirinya mirip denganku. Aku hanya bisa mengatakan saat ibunya hamil dia tergila-gila padaku." Jawab Rian sambil terkekeh. Arya bahkan mengulum senyum mendengar penuturan Rian itu. Sementara Gerry sudah berwajah masam.


"Baiklah, aku memaafkanmu. Ini semuanya juga salahku yang tidak jujur pada anakku dan membuatnya lebih mempercayai orang lain." Kata Gerry. Akhirnya masalah mereka selesai. Kini giliran Rian harus menghadapi putrinya. Semoga saja putrinya mudah di bujuk.


Ketiga pria dewasa itu kembali ke ruangan Dian yang kini penuh dengan anak-anaknya. Bahkan Judy mengajak Selin dan Didi untuk menjenguk calon besan. Awalnya Selin dan Didi ingin mengundur acara itu mengingat kondisi Dian. Namun Dian tetap memaksa untuk melaksanakan sesuai hari dan tanggal yang di tentukan.


"Ingat kondisimu Dian, anak-anak kamu masih membutuhkan dirimu. Jangan memaksakan diri seperti itu." Ujar Didi.


"Aku sungguh baik-baik saja, jangan khawatir ...!"


Gerry membuka pintu ruangan semua mata teralihkan dan menatap kedatangan Gerry. Namun berbeda dengan yang lain Zafrina justru tampak tegang saat melihat papinya ada di sana.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Selamat membaca guys. ๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ