
⛅ Selamat membaca ⛅
"Saya terima nikah dan kawinnya Larissa Gunawan binti Adi Gunawan, dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Dengan sekali tarikan nafas Nino berhasil mengucapkan ijab kabul dengan lancar.
Sah ..!!
SAH ..
Semua orang yang menjadi saksi berteriak. Kelegaan menghinggapi hati Nino dan Sasa. Binar kebahagiaan terpancar di wajah mereka berdua.
Dian duduk memangku Zafrina, Sedangkan Zafa bersama pengasuhnya. Gerry berdiri tak jauh dari Dian, para sahabat Gerry juga ikut hadir menyaksikan hari bahagia ini.
Mereka tidak menyadari bahaya yang sedang mengintai di keluarga itu. Semua nampak berbaur. Acara kali ini dibuat tertutup Nino menginginkan hanya keluarga dekat saja yang hadir. Dan beberapa rekan bisnis yang sudah lama menjalin kerjasama.
"Bik Yun, Dian titip Zafrina sebentar." Kata Dian pada pengasuhnya. Dian ingin menyambut kedatangan nyonya Santika.
"Tante .." Dian memeluk nyonya Santika. Wanita paruh baya itu tersenyum melihat mantan menantunya. Meskipun dulu ia tak pernah tau jika putranya pernah menikahi Dian.
"Sayang, apa kabarnya kamu? kenapa panggil Tante lagi?" tanya nyonya Santika.
"Dian baik, maaf Bu. Dian belum terbiasa." Kata wanita itu.
"Apa kabar cucu² Oma? nyonya Santika mengusap perut buncit Dian.
"Baik Oma."
"Usia kandunganmu berapa minggu sayang?"
"ini masuk minggu ke 30 Bu." Jawab Dian.
Semua kembali duduk menikmati hidangan. Rian belum terlihat ada diantara tamu undangan. Ia memang berkata sedikit terlambat untuk datang kesana.
"Makan dulu sayang!" ujar Gerry menyodorkan steak salmon yang sudah dipotong-potong pada Dian. Dian menerimanya dengan wajah malu-malu karena dimeja itu keluarganya dan sahabat Gerry duduk bersama.
Setelah melahap steak salmon Dian justru kini menginginkan salad yang ada di hadapan Didi.
Dian sampe berkali-kali hampir meneteskan air liurnya.
"Apa kau ingin salad ini Dian?" tanya Didi. Dian mengangguk antusias. Didi memberikan mangkuk salad buah itu pada Dian. Dengan tanpa rasa malu Dian langsung melahap salad buah itu hingga tak bersisa.
Semua orang yang ada di meja itu tersenyum bahagia. Namun disudut rumah itu ada sepasang mata yang memandang tak senang pada kebagiaan keluarga itu. Matanya memancarkan emosi yang sudah tak terbendung lagi. Ia sangat iri melihat keluarga itu dikelilingi orang-orang yang sukses.
Hari ini juga rencananya harus berhasil. Ia akan membuat kebahagiaan itu sirna dari hidup mereka.
Acara sudah mencapai akhir banyak tamu yang sudah berpamitan kepada pasangan mempelai. Tuan Kusuma beserta kelurga Gunawan langsung menuju ke hotel tempat diadakannya resepsi nanti malam. Hanya tinggal keluarga inti Hanafi dan sahabat-sahabat Gerry juga Veni. Dian yang sudah merasa lelah menghampiri pengasuh bayinya yang duduk di tepi kolam renang. Saat Dian hendak mengambil Zafrina tiba-tiba seorang pria melesak mengambil gadis kecil itu. Dian yang terkejut hilang keseimbangan saat ia hampir terjatuh Gerry langsung berlari menangkap tubuh Dian. Semua orang kaget bukan main. Tapi yang menjadi fokus mereka Zafrina digendong oleh seorang pria yang sangat mereka kenal.
"Burhan, kembalikan cucuku." Teriak Hanafi. Hatinya begitu cemas melihat Burhan membawa pisau yang diarahkan ke leher gadis kecil itu. Zafrina terus menangis dalam genggaman Burhan.
"Mama .. mama" tangis gadis kecil itu ketakutan. Dian menangis di dekapan Gerry.
"Apa yang kau inginkan. Lepaskan putriku!" Seru Gerry. Burhan tertawa mendengar ucapan Gerry. Tawaran yang menarik.
"Apa kau akan memberi apapun yang aku mau?"
⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅
Sedihnya, pembaca setia othor menurun.
Ayo komen kasih kritik dan saran kalian donk.
Ceritanya mulai ngebosenin ya?