Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
Bab 80


⛅ Selamat membaca ⛅


Kepanikan terjadi depan ruang IGD, Arya segera membawa tim dokter yang akan menangani Dian dan juga yang lainnya. Wajah para pekerja media pun tak kalah tegang. Bagaimana pun Dian adalah istri pemilik rumah sakit ini. Dan lagi pasien lain yang dibawa tak kalah pentingnya. Semua wajah tampak cemas tanpa terkecuali, Kondisi Dian sangat lemah. Bahkan detak jantungnya pun mulai melemah. Pakaian yang dikenakan Gerry penuh dengan noda darah dan dia tak peduli dengan itu semua. Nyonya Arimbi dan nyonya Santika juga sedang ditangani tim dokter begitupun dengan Zafrina. Rian yang menggendong gadis kecil itu dan membawanya masuk ke ruang IGD. Ia harus memastikan kondisi putrinya.


Tim dokter yang menangani Dian berjumlah 5 dan semuanya haruslah perempuan. Dokter Fany salah satu dokter yang dipercaya untuk menangani Dian. Dokter Fany menyuntikkan kortikosteroid untuk penguat paru-paru janin. Usia kandungan Dian masih terlalu muda. Tapi tak ada pilihan lain bayi bayi itu harus segera dikeluarkan karena denyut jantung bayi mulai melemah.


Dokter Fany keluar dari ruang perawatan, Gerry segera menghampiri dokter itu.


"Bagaimana dok?"


"Kami harus segera melakukan tindakan kondisi ketiganya tidak dalam keadaan baik."


"Lakukan apapun untuk menyelamatkan mereka, saya mohon." Ujar Gerry putus asa.


"Kami akan lakukan yang terbaik untuk nyonya Dian. Tapi saat ini kami butuh anda untuk menandatangani berkas persetujuan." Ujar dokter Fany. Akhirnya Gerry mengikuti dokter Fany menuju ruangan prakteknya.


"Sebelumnya saya ingin jelaskan kondisi nyonya Dian, ada beberapa kemungkinan tapi prediksi saya nyonya Dian mengalami solusio plasenta dimana kondisi tali plasenta terputus. Dan kemungkinan terburuknya adalah jika sampai pendarahan tidak dapat di hentikan maka dengan terpaksa kami akan melakukan tindakan pengangkatan rahim." Tutur dokter Fany, Gerry mengusap wajahnya kasar.


"Lakukan apapun. Asalkan istri dan anak-anak saya selamat." Kata Gerry kemudian.


Setelah berkas di tandatangani dokter Fany kembali ke ruang tindakan. Tim dokter semua berkumpul guna membicarakan penanganan operasi Sesar. Beberapa kantong darah disiapkan. Beruntung pendarahan Dian sudah terhenti.


Saat brankar Dian di dorong melewati lorong dimana Gerry dan yang lain menunggu. Mata mereka tak lepas dari tubuh Dian yang terbaring lemah dengan begitu banyak alat yang menempel ditubuhnya.


Gerry mengikuti langkah tim medis, ia menggenggam jemari Dian.


"Kamu harus kuat sayang." Ucap Gerry. Tak terasa bulir air matanya kembali jatuh membasahi wajah tampannya.


.


..


...


Veni masih syok. Mayat ayahnya sudah dibawa oleh polisi. Rumah tuan Kusuma disterilkan dan diberi garis polisi. Aldo setia menemani Veni mengikuti ambulans dan mobil polisi. Aldo mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Tangan kiri Aldo menggenggam jemari tangan Veni yang dingin.


Aldo sudah berupaya melakukan penyelamatan pada calon ayah mertuanya namun karena luka tembak yang dialaminya membuat Burhan meregang nyawa seketika itu juga. Mereka diminta ikut ke kantor polisi untuk memberi keterangan. Begitu juga dengan para saksi mata yang lain yaitu para penjaga dan pembantu.


.


..


...


Tuan Kusuma diberitahukan kejadian ini dengan hati-hati. Karena Nino tak ingin penyakit kakeknya kambuh. Nino berniat membatalkan acara resepsi mereka. Ia menghubungi direktur penyiaran televisi miliknya untuk memberitahukan tentang pembatalan ini. Dan meminta mereka menyiarkan kejadian yang terjadi di kediaman keluarganya agar semua tamu undangan mau mengerti kenapa acara mereka dibatalkan.


Setelah itu Nino, Sasa dan kakek Kusuma menuju rumah sakit milik Gerry.


⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅


Hay, othor mau mengucapkan banyak terimakasih pada kalian semua yang tersedia memberi support untuk karya ini. Alhamdulillah Vote dari kalian membuat othor semakin semangat untuk berkarya lebih dan lebih baik lagi. Jadi kalo ada kritik dan saran jangan sungkan untuk komen. Dan pasti akan othor baca. Love you All 😘😘😘