
**********
Didi telah mempersiapkan diri menghadapi ujian yang akan Raja Aaron berikan.
Namun belum juga memulai ujian dari raja Aaron, Didi dikejutkan dengan suara Araya. Wanita itu mengetuk pintu kamar Didi dengan terburu-buru.
"Ada apa Araya?" tanya Didi.
"Selina menghilang .. Di" Kata Araya.
Deg ..!!
Jantung Didi seakan di tarik paksa keluar.
"Apa maksudmu Selina menghilang?" tanya Didi cemas.
"Kemari lah ..!" Araya membawa Didi ke kamar Selina. Pintu kamar terbuka lebar disana tampak ratu Rakila menangis dan raja Aaron sedang menenangkan istrinya. Wajah Didi pias seakan tak teraliri darah. Ia berjalan mendekat kearah Kao.
"Bagaimana bisa terjadi?" tanya Didi dengan wajah masih syok.--- Bukankah kepulangan kita sudah dirahasiakan bagaimana bisa Selin diculik?"
"Aku juga tidak tahu. Tadi saat ibunda ratu ingin memanggilnya kamar Selin sudah kosong dan hanya tersisa surat ini." Kata Kao menyerahkan sebuah kertas yang digulung.
Didi membuka gulungan kertas itu dan membacanya. Alisnya bertaut dia tak mengerti maksud dari surat itu.
"Ini apa artinya?" Tanya Didi pada Kao.
"Selin dibawa pergi oleh seseorang .." Kata Kao. 'Kenapa Didi terlihat begitu bodoh' batin Kao.
"Kalau itu aku tau, yang tidak aku mengerti apa maksudnya ini? apakah Selin memiliki calon lain selain Archel?" Ujar Didi, tangannya mengepal. Ratu Rakila masih menangis di dalam pelukan raja Aaron. Namun tatapan semua orang mengarah pada Didi.
"Sebenarnya ada satu lagi calon Selin. Dan keluarga mereka sangat menyayangi Selin. Mungkin mereka menyuruh orang untuk menculik Selin." Kata raja Aaron.
Didi meremas surat itu dan berjalan keluar meninggalkan kamar Selin. Namun matanya mengedar di seluruh ruangan yang dia lewati. Banyak CCtv terpasang di beberapa sudut ruangan. Bahkan kerajaan ini memiliki begitu banyak pengawal. Didi akan menyelidiki semuanya.
Sementara itu yang ada didalam kamar Selin saling pandang satu sama lain. Ratu Rakila mengurai pelukan suaminya lalu menggelengkan kepala.
Araya dan ratu Rakila keluar dari sana. Tinggallah raja Aaron dan Kao.
"Apa menurut ayah, Didi akan menemukan Selin?"
"Percayalah cinta akan menemukan jalannya." Kata Raja Aaron keluar dari kamar Selin begitu juga dengan Kao.
Didi masih merenung. Ada yang aneh dengan menghilangnya Selin. Ia meraih ponselnya dan menghubungi Seseorang dari negaranya. Didi berpikir mungkin ini hanya konspirasi yang dibuat oleh raja Aaron untuk mengujinya.
.
.
.
Sementara Didi sedang dipusingkan dengan menghilangnya Selin. Hal berbeda justru sedang terjadi pada Selin.
Ia terus menerus menendang pintu kamar yang terkunci rapat itu. Ditambah lagi saat ini dirinya sedang berada di dalam pesawat. Padahal seingat dirinya, begitu dia kembali dari kamar Didi, dia minum air yang ada di nakas lalu tidur. Dan bangun-bangun dia sudah berada di dalam pesawat.
"Hei keluarkan aku ..!" teriak Selin, namun tak ada jawaban dari luar. Selin benar-benar kalut dia memikirkan Didi. Bagaimana jika ayahnya sampai berbuat sesuatu yang nekat untuk menyakiti Didi. Secara saat dirinya ketahuan hamil ayahnya begitu marah besar kepadanya.
Dua orang yang berada tak jauh dari pintu tertawa sambil menutup mulut mereka agar tak terdengar oleh Selin.
"Apa menurutmu dia bisa menemukan Selin?" tanya salah satu diantaranya.
"Entahlah, aku rasa tidak karena dia bodoh." Ujar yang lainnya. Mereka kembali tertawa, mereka ingin melihat kegigihan pria yang akan menjadi suami Selin itu untuk bisa menemukan keberadaan Selin.
.
.
.
"Kenapa kamu bersedih Seldi?" tanya Zayn. Judy mengangkat wajahnya dari bantal dan menghapus sisa air matanya.
Judy menggeleng lemah, ia tak ingin orang lain tahu kesedihannya. Judy lantas tersenyum pada Zayn.
"Aku baik-baik saja Zayn." Kata Judy.
"Jangan berbohong, kata mamaku berbohong itu dosa." Ujar Zayn --- Kau boleh ceritakan apapun padaku. Dan aku janji akan menyimpan rahasia kita rapat-rapat."
"Aku, aku merindukan orangtuaku Zayn." Air mata Judy kembali luruh. Tangan Mungin Zayn mengusapnya.
"Apa kau ingin menghubungi mereka?"
"Aku tidak mau Zayn, aku tidak ingin mengganggu urusan orangtuaku. Jika aku menghubungi mereka pasti mereka akan semakin merindukanku sama seperti aku merindukan mereka." Zayn memeluk Judy dan menepuk punggung Judy. Zayn hanya bertindak selayaknya anak kecil yang menghibur temannya disaat sedih.
"Kau boleh menganggap mamaku sebagai mamamu juga." Kata Zayn.
"Tidak, aku takut dengan Ina dan Ana. Mereka akan marah jika aku mendekati mama kalian." Jawab Judy sambil menggeleng.
"Apa kau mau memetik bunga di kebun mama? aku akan memetik bunga Daisy untukmu." Kata Zayn, Judy tersenyum dan mengangguk. Zayn mengulurkan tangannya dan gadis kecil itu menyambut uluran tangan Zayn, mereka berdua bergandengan menuju taman bunga.
Zafa melihat Zayn begitu menyayangi Judy. Dia menarik blouse Dian. Dan Dian menoleh pada putranya.
"Mama, lihat ..!" Zafa menunjuk ke arah Zayn dan Judy. Dian menggeleng lalu tersenyum pada putranya.
"Judy anak yang baik. Pantas jika adikmu menyukainya." Kata Dian.
"Tapi aku kasihan pada Judy, mah." Ujar Zafa.
"Memangnya kenapa sayang?"
"Dia baru bertemu ayahnya setelah sekian lama. Tapi sekarang dia harus ditinggal lagi." Ujar Zafa, anak pertama Dian itu memang sangat perasa dan berhati lembut.
Belum juga Dian menjawab Gerry sudah menyodorkan buket bunga pada Dian dari arah belakang. Dian tersenyum mendapat kejutan dari Gerry. Dikehamilannya sekarang Gerry semakin sering memberinya kejutan-kejutan manis yang tak terduga.
Setelah Dian mengambil buket itu dari tangan Gerry, pria itu langsung mengusap perut istrinya yang sedikit membuncit. Dan berulang kali mengecup puncak kepala Dian.
"Mas .." Desis Dian merasa geli karena wajah Gerry tepat berada di belakang tengkuknya nafas pria itu berulang kali membuat bulu kuduk Dian merinding.
"Seharian aku merindukanmu." Bisik Gerry. Zafa meninggalkan orang tuanya menyusul Zayn dan yang lainnya. Gerry tersenyum miring saat tahu anaknya mengerti jika orangtuanya butuh waktu untuk berduaan.
"Mas, nanti kalau anak-anak lihat bagaimana?" Mata Dian bergerak cemas. Karena tangan nakal Gerry sudah bermain di dua gundukan padat di dada Dian. Gerry menyukai ukuran dada Dian disaat hamil. Ukurannya akan mengembang, dan dia suka itu.
Gerry meremas lembut kedua bukit Dian. Matanya terpejam menikmati betapa hangatnya suhu tubuh wanita hamil ini.
"Aah .. ma-s sudah!" Desah Dian.
"Aku benar-benar merindukan dirimu. Tidak bisakah sebentar saja."
"Mas ini masih sore." Kata Dian mulai risih gerakan tangan Gerry semakin tak terkendali. ia sesekali mengusap perut Dian, lalu mere*as bukit kembar Dian dengan sangat lembut.
⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅
Bagi vote nya donk .. ah!!
jangan lupa like komen dan rate ⭐⭐⭐⭐⭐