Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
S2. Cerita Gerry


********


Sudah 3 minggu sejak Ara pulang dari rumah sakit. Kondisinya juga sudah semakin membaik. Arsen begitu perhatian dan tak pernah sedikitpun merasa terbebani merawat Ara. Dia malah terkesan sangat menikmati perannya sebagai suami Ara.


Hari ini Ara harus melakukan sidang susulan. Karena memang kondisinya saat itu tidak memungkinkan dirinya mengikuti sidang skripsi.


"Aa do'ain aku ya ..!" Kata Ara. Arsen tersenyum hingga lesung pipinya tercetak jelas diwajahnya.


"Iya sayang .. Aku akan do'akan kamu semoga kamu bisa menyelesaikan semuanya dengan lancar." Ujar Arsen seraya mengusap puncak kepala Ara yang sekarang selalu tertutup hijab.


Ara turun dari mobil setelah mencium punggung tangan Arsen dan berpamitan. Kini Ara semakin terlihat cantik dan berbeda. Saat Ara sedang berjalan ke gedung fakultasnya ponsel miliknya bergetar Ara segera membukanya.


"Jaga Hati dan pikiran kamu. Kamu tercipta hanya untukku Ara. Jangan biarkan pria lain mendekatimu ๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ"


Ara hanya tersenyum membaca pesan Arsen hingga tanpa sadar tubuhnya terhuyung kebelakang karena membentur sesuatu. Namun lengan kokoh itu menahan tangan Ara agar tidak terjatuh ke belakang.


"Hati-hati .. "


Ara menengadahkan wajahnya ia seketika mencoba melepas pegangan pria itu.


"Maaf Pak Dzaki saya ga sengaja."


"Ara .. " Dosen muda itu tampak terkejut melihat perubahan Ara, yang terlihat lebih cantik dan menawan. Seakan semakin erat mengikat hati dan jiwa dosen itu. Hingga sekarang dirinya masih menyukai mahasiswinya itu.


"I-iya pak .. " Ara menjadi gugup karena ditatap sedalam itu oleh dosennya.


"Ayo masuk kita akan mulai saja. Jika saja saat itu mertuamu datang dan berbicara langsung pada rektor mungkin ga akan ada kesempatan ini karena hanya kamu satu-satunya mahasiswa penerima beasiswa yang mangkir saat sidang. Bahkan aku dengar mertuamu menyumbang dana yang besar untuk mendukung progam beasiswa serupa dengan yang kau dapat." Kata Pak Dzaki, rasanya aneh menyebutkan kata mertua pada gadis yang diincarnya selama ini. Namun dosen itu sadar betul dirinya adalah orang yang berpendidikan, sehingga dia memilih merelakan meskipun berat terasa melupakan wanita yang sudah bertahun-tahun mendiami relung hatinya yang terdalam.


Setelah selesai menjalani sidang wajah Ara semakin bersinar dan terlihat sekali jika dirinya sangat bahagia karena akhirnya dia telah dinyatakan lulus.


"Halo assalamu'alaikum aa .. "


"Wa'alaikumsalam bidadariku .. " Jawab Arsen sambil terkekeh membayangkan wajah malu-malu Ara.


"Mau aa yang jemput atau pak Dul?" tanya Ara, saat ini ia sudah berada di depan kampus.


"Maunya di jemput siapa Ra?" Arsen melihat semua gerak gerik Ara, padahal sejak tadi dirinya berada tak jauh dari tempat Ara berdiri namun sepertinya gadis itu belum menyadarinya.


"Terserah di jemput pak Dul juga ga apa-apa." Wajah Ara justru kini terlihat kesal.


Greb


Tiba-tiba seseorang memeluk tubuh Ara, Seketika Ara menarik tangan orang itu dan siap membanting tubuhnya ke aspal.


"Sayang ... " Pekik Arsen, Ara lalu menoleh dan menatap Arsen yang saat ini sedang memakai baju warna hitam dan topi bahkan Arsen memakai celana jeans penampilannya tak kalah dengan anak kuliahan.


"Aa .. bikin Ara kaget aja."


"Sengaja Ra .. mau kasih kejutan ke kamu." Ujar Arsen seraya tersenyum menampakkan lesung pipinya membuat Ara merasa gemas.


"Ga usah senyum iih ..! Ga lihat apa banyak yang lihatin itu." Kesal Ara. Arsen merangkul bahu sang istri dan membawanya pergi dari sana.


"Ga boleh kesal dong sayang .. masak bidadari ngambek sih." Goda Arsen, Ara hanya melirik dengan ekor matanya sambil menahan tawa.


Gerry dan Dian dan orangtua mereka sudah berkumpul. Setelah berminggu-minggu bungkam dan menghindar akhirnya Gerry memutuskan untuk terbuka mengenai semuanya.


Dian sudah jauh lebih baik. Namun dirinya juga tidak tau apapun mengenai rahasia yang selama ini Gerry simpan rapat-rapat.


"Katakan Gerry, kenapa kau menghindar dari kami?" cecar nyonya Arini begitu Gerry duduk di samping istrinya.


"Sabar dulu ma," Bujuk papa Gama.


"Ma, pa sebelumnya Gerry minta maaf. Karena kebodohan Gerry dulu banyak hati yang tersakiti." Ucap Gerry lirih seraya menunduk. Dian mengusap lengan Gerry.


Nyonya Arini dan tuan Gama hanya terdiam menatap Gerry iba. Mungkin saja Gerry memilih diam karena rasa bersalahnya selama ini.


"Apa yang kamu bicarakan? semua sudah suratan takdir yang di atas. Jika Dia tidak berkehendak apapun yang kau lakukan akan sia-sia saja Ger." Kata tuan Gama.


"Papa benar, tapi karena kebodohanku. Aku menyakiti mama, aku menyakiti papa, mama Sekar dan Gerald."


"Sudahlah Ger yang lalu biarlah menjadi masa lalu. Sekarang ceritakan pada kami bagaimana kau bisa berhubungan dengan Sekar?" ---- tuan gama


"Semuanya berawal saat aku mencarikan papa donor jantung waktu itu, tanpa sengaja aku bertemu mama Sekar. Saat itu Gerald sedang sakit dan di rawat tapi kondisinya tidak memungkinkan karena sakit Gerald sudah parah." Kata Gerry.


Deg


Jantung tuan Gama seakan di lempar dari tebing yang curam. Bagaimanapun Gerald adalah putranya meskipun putra yang terlahir dari kesalahan.


"Dia sakit apa?"


"Gerald sakit kanker darah stadium akhir. Hari dimana Gerry pertama kalinya bertemu Gerald adalah hari terakhir kami saling bertatap mata." Ujar Gerry dengan air mata yang menganak sungai. Nyatanya dia tidak cukup kuat untuk menahan segala rasa kecewa pada dirinya sendiri. Andai saja semua itu belum terlambat pasti dia anak menolong Gerald.


Semua yang ada di ruangan itu menitikkan air mata. Seperti mereka ikut mengalami apa yang saat ini Gerry rasakan.


Tuan Gama mematung, tubuhnya serasa seperti tersengat aliran listrik. Gerald meninggal, dan dia tak tahu sama sekali. Ayah macam apa dirinya ini.


"Kau menyimpan berita kematian Gerald selama ini? apa kau tidak menganggapku ha?" Hardik tuan Gama berdiri dari duduknya. Gerry justru tertawa pilu.


"Apa papa pikir selama ini Aku tidak menderita? Aku baru berbicara dengan Gerald hari itu pa. Baru sekali Gerry berbicara dengan adik Gerry. Tapi dia sudah mengucapkan salam perpisahan padaku. Apa papa pernah bayangkan ada di posisiku? Jika dari awal papa tidak menutupi semua fakta itu pasti kesalahpahaman itu juga tidak akan terjadi."


"Mas .. " Dian memeluk Gerry saat emosi pria itu mulai meninggi. ---- "Jangan seperti ini aku takut." Lirih Dian dari balik punggung Gerry. Saat tersadar bahwa kemarahannya membuat istrinya ketakutan Gerry menarik Dian ke dalam pelukannya.


"Maaf .." Desis Gerry seraya mengecup kening Dian dalam.


Tuan Gama terduduk kembali dengan wajah hancur. Ucapan Gerry benar. Semua salahnya karena sejak awal tidak jujur pada istri dan anaknya.


"Pa .. " nyonya Arini memeluk suaminya yang tampak tercenung dengan tatapan mata kosong.


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


Maaf ya othor sebenarnya hari ini mau libur Up. Cuma setelah tadi baca koment kalian othor ga jd libur. Hari ini tu sibuk banget nyari ini itu buat persiapan anak PTM.