
🌼Selamat membaca🌼
Dian duduk termenung di pinggir ranjang kamar tamu. Rasanya enggan untuk bertemu dengan Gerry, hatinya terlalu sakit merasa tidak di anggap oleh suaminya sendiri.
Tok .. tok .. tok
Dian masih Larut dalam lamunannya. Gerry masuk ke dalam kamar tamu. Ia berjongkok di depan istrinya.
Wajah sembabnya menunjukkan betapa Dian sudah lama menangis. Bahkan bola matanya yang bulat terang kini tampak redup.
Gerry meraih jemari tangan Dian yang terasa dingin. Rasa bersalah semakin merasuki hatinya. Ucapan sang ibu terngiang di kepalanya.
Flashback
Setelah mengantar Selena pulang ke apartemennya Gerry langsung masuk ke dalam rumah. Namun langkah kakinya langsung di cegah oleh sang ibu.
"Gerry, mama perlu bicara!" Ujar nyonya Arini.
"Mah, kalo mama masih mau membahas tentang kehadiran Selena hari ini. Gerry mohon sama mama. Jangan ikut campur urusan rumah tangga Gerry."
"Jadi begitu mau kamu? Ok .. mulai sekarang mamah juga tidak akan menghalangi Dian untuk pergi dari rumah ini. Biarkan Dian seperti mama dulu." Kata nyonya Arini tanpa menatap Gerry.
"Apa maksud mama?"
"Tidak ada .. mama hanya ingin kamu ingat. Dulu kamu membawa pergi mama dari papamu karna perempuan lain. Jadi kalo Dian sampai meninggalkanmu dan Zafa karena wanita itu. Mamah tidak akan pernah menghalangi Dian. Jika sampai itu terjadi, kau cari sendiri orang yang mau mengurus putramu dengan tulus. Atau kau ingin kembali pada dia yang dulu meninggalkanmu dan Zafa demi pria lain, silahkan! Yang jelas diluar sana banyak pria yang bersedia menjaga Dian dan Zafrina asal kau tau." Nyonya Arini meninggalkan Gerry yang masih mematung.
Ucapan ibunya tidak ada yang salah. Apalagi mengingat bagaimana dulu Selena meninggalkannya dan Zafa tanpa perasaan. Tapi hanya karena rasa cemburunya ia memaafkan Selena dan membiarkannya masuk ke dalam rumah tangga mereka. Bahkan ia tanpa sadar mungkin menyakiti hati Dian.
Gerry mengusap kasar wajahnya, ada gurat penyesalan dalam wajahnya. Ia menyakiti wanita yang begitu tulus merawat Zafa selama ini. Ia bergegas naik ke atas untuk menemui Dian. Namun saat membuka pintu kamar, sepi itulah yang terlihat. Gerry pun membuka pintu penghubung kamar anaknya dan hanya ada dua pengasuh yang sedang menjaga Zafa, mereka menatap bingung Gerry. Zafrina tidak ada di boxnya.
Pikiran Gerry menjadi kalut. Ia kembali masuk ke kamarnya, membuka lemari pakaian Dian, semua masih tersusun rapi disana.
Gerry menuruni tangga mencegat bi Siti untuk menanyakan keberadaan Dian. Dan pembantunya menunjuk kamar tamu. Gerry pun segera bergegas menuju kamar tamu.
Flashback end
"Sayang ..!"
Dian masih bungkam, setiap melihat Gerry hatinya kembali merasa sakit. Air matanya kembali mengalir, Gerry menghapus air mata Dian yang mengalir. Hatinya ikut sakit melihat Dian seperti ini. Zafrina tertidur di belakang tubuh Dian. Bayi itu seolah tak terganggu dengan suara isakan ibunya.
Gerry menarik tubuh Dian dan memeluknya erat.
"Maaf ..! aku benar-benar minta maaf." Gerry pun ikut menitikkan air matanya. Dian menangis sesenggukan di pelukan Gerry.
"Ceraikan aku mas, kalian pantas bersama." Ujar Dian ditengah isakan tangisnya.
Jleb ..!
Ucapan Dian seperti sebuah belati yang langsung menusuk relung hatinya.
Gerry menggeleng kuat. "Tidak .. aku tidak akan melepaskan dirimu. Maafkan aku sayang, aku bersalah. Jangan meminta hal yang tidak akan pernah aku kabulkan. Selamanya kau istriku. Hanya dirimu sayang!"
Gerry menjadi panik karena Dian tak kunjung membuka mata. Ia langsung berteriak memanggil ibunya.
"Mama .. tolong!"
Zafrina yang pulas tertidur terkejut mendengar teriakkan Gerry hingga ia langsung menangis histeris. Bi Esih langsung masuk di susul nyonya Arini. Mereka sama² terkejut melihat Dian yang terpejam diam di pelukan Gerry.
Bi Esih dengan bergetar menunjuk betis Dian.
"Nyo-nya .. itu nona berdarah." Tunjuk bi Esih.
Mata Gerry dan nyonya Arini langsung membelalak kaget.
"Ya Tuhan ..!" nyonya Arini menutup mulutnya tidak percaya. Gerry dengan sigap mengangkat tubuh Dian dan membawanya ke mobil, dengan tangan bergetar Gerry membuka pintu kemudi namun dihalangi oleh nyonya Arini.
"Biar pak Jaja yang bawa mobil. Kamu pangku kepala Dian saja, cepat!" Gerry segera membuka pintu belakang dan mengangkat kepala Dian dengan hati hati lalu meletakkannya di pangkuannya.
Perjalanan dari rumah Gerry ke rumah sakit hanya membutuhkan waktu sekitar lima belas menit. Selama di perjalanan Gerry terus mengucapkan kata maaf pada Dian.
Sesampainya di depan IGD Gerry dibantu beberapa suster mendorong brankar lalu perlahan dia meletakkan tubuh ringkih Dian di atas brankar. Para suster yang membantu Gerry lekas membawa Dian kedalam ruang tindakan.
Gerry menunggu dengan wajah pucat, Dari arah samping tuan Hanafi dan Nino melangkah ke arah Gerry, mereka hendak mengambil hasil lab tuan Kusuma. Nino melihat Gerry duduk dengan cemas, tiba² Nino merasa tak enak hati. Pikirannya langsung tertuju pada Dian.
"Kenapa tiba-tiba berhenti Nino?" tanya tuan Hanafi.
"Paman tunggu disini dulu. Aku akan kesana atau paman silahkan ke lab mengambil hasilnya kakek nanti Nino menyusul. Disana ada teman Nino, paman." Nino menunjuk ke arah Gerry. Tuan Hanafi mengangguk lalu berlalu.
Nino mendekat ke arah Gerry namun sepertinya pria itu masih terfokus pada pintu ruang IGD yang belum terbuka. Namun saat Nino berada tak jauh dari Gerry, pintu IGD pun terbuka dan tampak dokter Arya dengan raut wajah yang sudah di artikan.
"Bagaimana kondisi Dian?" Tanya Gerry dengan tidak sabar. Arya menatap Gerry tajam, ada rasa kesal di hati Arya.
"Jika kau tak bisa menjaganya lepaskan dia, jangan selalu membuatnya tertekan. Kandungannya lemah, sekarang mungkin kau masih beruntung, janin yang dikandung Dian masih bisa diselamatkan. Tapi aku tak bisa menjamin jika kejadian sama terulang kembali. Kau mungkin bisa kehilangan keduanya."
Jedeer ..!
Seperti tersambar petir, tubuh Gerry kaku ditempat. Begitu pula Nino yang berdiri tak jauh dari Gerry. Ia begitu terkejut mengetahui Dian hamil.
"Bagaimana jika paman tau Dian hamil?" Batin Nino, tiba tiba pundak Nino ditepuk tuan Hanafi, hingga Nino tersentak.
"Kenapa malah berdiri disini?" tanya tuan Hanafi, ia melihat gelagat aneh dari keponakannya.
"Ti-dak apa apa paman, sepertinya nanti saja aku menemuinya." Ujar Nino gugup. Tuan Hanafi yakin ada yang Nino sembunyikan darinya.
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
Senin gaes, Vote karyaku y!!
Terimakasih bagi yang sudah mampir dan mau meninggalkan like dan komen untuk karya othor ini. Semoga novel ini bisa finish tepat waktu. Othor pinginnya ga terlalu panjang ceritanya. Biar yang baca ga bosen