
********
Pagi ini Dian merasakan perut bagian bawahnya sangat tidak nyaman. HPL dokter masih satu minggu lagi. Tapi entah mengapa Dian merasakan bahwa sebentar lagi anak yang ada dalam kandungannya akan lahir. Bahkan sejak 3 hari yang lalu Dian sudah menyiapkan baju baju untuk bayinya dan juga dirinya.
Dian berulang kali mencoba mengatur nafasnya saat tiba-tiba rasa sakit itu kembali mendera perutnya. Gerry yang baru selesai mandi menatap Dian aneh dan segera mendekat.
"Sayang, kamu kenapa?" ---- Gerry.
"Ga tau mas, perut aku sakit."
"Kamu mau lahiran sekarang?"
"Aku juga ga yakin mas tapi sepertinya iya." Dian mendesis dan mencengkeram sprei dengan kuat saat lagi-lagi rasa sakitnya kembali terasa. Mata Dian terpejam rapat bahkan bulir keringan sudah menghiasi wajah pucatnya.
"Kita ke rumah sakit ya .. " Gerry segera ke walk in closet untuk berganti pakaian. Dia meraih kaos poli dan celana jeans panjang dan segera memakainya.
"Aakh .. maaas!!" Dian memekik saat merasakan ada sesuatu yang mengalir dari sela pahanya. Gerry segera berlari ke ranjang mendekati Dian.
"Mas, sepertinya ketubanku pecah." Wajah Gerry seketika diliputi kecemasan yang luar biasa. Bayangan saat Dian melahirkan Zayn dan Zayana berputar di otaknya.
Tanpa ragu Gerry segera membopong tubuh Dian. Gerry memakai lift untuk mempercepat jalannya. Teriakan Gerry menggema memenuhi ruang bawah.
"Dori, cepat perintahkan Diego untuk menyiapkan mobil sekarang." Kepala pelayan itu langsung bergegas ke luar dari rumah menuju paviliun khusus.
"Diego cepat sediakan mobil, nyonya mau melahirkan." Tukas Dori pada pengawal utama mansion itu.
Tak menunggu lama Diego pun sudah berada di depan pintu masuk mansion Gerry.
Sementara itu anak-anak Dian merasa panik melihat papanya setengah berlari membawa tubuh mamanya yang pucat. Terlebih Zafa, dia seakan sesak nafas melihat kondisi Dian sekarang ini.
"Mama ... " desis Zafa.
Gerry tidak memperhatikan sekelilingnya. Saat ini fokusnya hanya pada Dian saja. Setelah Gerry membawa masuk istrinya ke mobil ia memerintahkan Dori mengambil perlengkapan persalinan Dian.
"Papa, mama kenapa?" tanya Zafrina yang telah terlebih dulu sampai. Gadis kecil itu mencoba mengintip Dian yang ada di dalam mobil.
"Sayang, kamu jaga sodara-sodaramu dulu ya. Mam mau melahirkan adik bayi." terang Gerry.
"Tapi kenapa mama terlihat kesakitan?" wajah Zafrina terlihat sudah berkaca-kaca tak tega melihat mamanya seperti itu.
"Ya karena memang seperti itu sayang. Itulah kenapa Ina harus selalu menurut sama mama, dan harus menghormatinya. Karena tidak mudah melahirkan bayi."
"Ina ga mau adik bayi. Ina mau mama sehat pa." Gadis itu akhirnya menangis di susul oleh Zayana. Sementara Zayn dan Zafa menatap cemas ke arah Dian. Bahkan sekarang Dian mencoba memaksakan tersenyum pada anaknya, ia tak ingin terlihat lemah dihadapan anak-anaknya.
Gerry mencoba menenangkan kedua putrinya sementara Dian mencoba membujuk kedua putranya agar tidak terlalu mencemas dirinya.
"Sayang, kalian tunggu di rumah ya! Mama ga apa-apa kok. Cuma sakit perut biasa .. " Zafa hanya menangis dalam diam menatap wajah pucat Dian. Bahkan berulangkali Dian bicara tanpa suara pada Zafa dan meyakinkan anak itu jika dirinya baik-baik saja.
Tak lama Dori datang membawa dua tas besar dan memasukkannya ke dalam bagasi.
"Dori jaga anak-anak dan tolong beritahu semuanya jika Dian akan melahirkan." Perintah Gerry, dan akhirnya mobil pun meninggalkan kediaman Gerry disusul isak tangis anak-anak mereka.
.
.
.
Sesampainya di rumah sakit, Dian segera di sambut oleh team dokter yang sudah terlebih dahulu dihubungi oleh Gerry.
Gerry telah memakai baju steril. Dia akan ikut mendampingi Dian. Dokter Fany dan dokter Anggun serta beberapa perawat telah bersiap di ruang bersalin. Gerry mengusap peluh Dian yang membasahi leher dan dahinya. Sesekali Dian menggenggam jemari Gerry erat saat rasa sakit kembali menderanya.
Tanpa terasa air mata Gerry menetes saat melihat Dian yang sedang berjuang.
"Apakah masih lama?" tanya Gerry dengan raut wajah kesal, karena ia benar-benar tak tega melihat Dian kesakitan seperti itu.
"Mohon bersabar tuan, jalan lahirnya belum terbuka sempurna ini masih bukaan 8. Harus menunggu bukaan 10." Ujar Dokter Fany. Ia pun tak kalah tegang karena harus menghadapi pemilik rumah sakit langsung. Apalagi yang sedang di tangani adalah istri tercintanya.
"Dokter, rasanya saya sudah ingin mengejan." Ujar Dian.
"Baiklah nyonya sekarang ikuti aba-aba saya." Ujar dokter Fany. Dian sudah bersiap dengan posisinya setengah duduk.
"Sekarang nyonya .. " Dian memegang erat jemari Gerry lalu mengejan.
"Uugghhh ... "
"Sekali lagi nyonya, rambutnya sudah terlihat." ujar Dokter Fany memberi arahan
"Uugghhh ... aargh" Dian mengejan dengan sisa tenaganya hingga terdengar suara tangisan bayi menggema di seluruh ruangan. Dian tersenyum tipis, akhirnya penantiannya selama 9 bulan usai sudah begitu suara bayi itu terdengar menggema.
Gerry mengecup seluruh wajah Dian sebagai wujud kebahagiaannya.
"Terima kasih sayang." Gerry kembali menyematkan ciuman mesra di puncak kepala Dian.
Dian hanya melempar senyum tipis. sebelum kegelapan menguasai dan kesadarannya yang mulai menghilang.
"Sayang .. " Gerry mencoba menggoyangkan tubuh Dian namun istrinya tidak merespon sama sekali. --- "Dokter apa yang terjadi dengan istriku?" Tanya Gerry cemas.
"Maaf tuan bisakah anda tunggu di luar. Kami akan menangangi nyonya Dian."
"Ada apa sebenarnya kenapa bisa dia seperti ini?"
"Mohon kerjasamanya tuan kami perlu segera melakukan tindakan jika tidak ingin membahayakan nyawa nyonya Dian." Tegas dokter Fany. Semua yang terjadi diluar kendalinya. Tapi sebagai dokter dia akan melakukan apapun untuk menyelamatkan nyawa pasiennya.
Gerry keluar dari ruangan bersalin dengan wajah dingin. Entah apa yang terjadi pada istrinya, kenapa bisa seperti ini.
.
.
.
"Nenek aku mau ketemu mama." Ujar Zafa.
"Sabar ya sayang kita tunggu kabar dari papa dulu." Ujar Arimbi menenangkan cucunya.
"Apa mama akan baik-baik saja nenek?" kini Zafrina yang sedang bersandar di bahu Arimbi ikut bertanya.
"Kita do'akan saja ya sayang, mama dan adik bayi sehat."
"Nenek bilang sama papa, Ina ga mau punya adik bayi kalau adik bayinya membuat mama kesakitan." Ujar Zafrina dengan pikiran polosnya.
"Ana juga nenek .. " Zayana menimpali.
"Aku juga tidak mau." Zayn si pendiam ikut bersuara.
"Zafa juga tidak."
"Sayang kalian dengarkan nenek. Jika kalian bicara seperti itu bagaimana jika mama dengar dan sedih? Mama sangat menyayangi kalian semua termasuk adik bayi kalian. Jadi jangan bicara seperti itu lagi ya ..? Kalian tidak ingin membuat mama kalian sedih bukan?" Arimbi mencoba memberi pengertian kepada keempat anak Dian.
"Iya nenek maaf." Ujar keempat anak itu dengan wajah bersalah.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
Note from othor : ga ada yang sad ending. Semuanya akan heppy pada waktunya. Hanya untuk mencapai kesana butuh proses.
Othor bakalan kelarin setiap pasangan jadi ini bakalan ada 1 bab lagi menuju end untuk keluarga Gerry dan Dian. Setelah itu yang lain. Jadi yang masih mau baca silahkan lanjutkan. ๐ฅฐ๐ฅฐ๐ฅฐ
Jangan lupa lindungi karya othor
kemarin udah turun 2 peringkat guys. Sedih othor tu sekalinya mau nangkring malah merosot terus ๐ญ๐ญ please dukungan poin kalian larinya ke battle dulu boleh ga sih.