
********
Saat tiba di kediamannya suasana sudah ramai dengan anak-anak yatim. Dian segera masuk bersama dengan Gerry.
"Mama ... " Pekik salah seorang putri Dian, wajah Dian berbinar melihat putri pertamanya ada disana.
"Sayang .. " Dian memeluk Zafrina dan menghujani waiah gadis itu dengan ciuman.
Nyonya santika mendekat kearah dua wanita cantik beda generasi itu. Dian melepas Zafrina dan bersalaman dengan Santika, seraya mencium punggung tangan nyonya Santika dengan takzim.
"Maaf Dian, mama titip Ina disini ya. Soalnya dia dari kemarin ngambek sama Rian dan Veli." Kata nyonya Santika.
"Iya ma, gapapa Dian senang kalo Ina ada disini." Kata Dian. Ketiga anak Dian yang lain ikut menyambut dan memeluk sang mama.
Nyonya Santika bersyukur, memiliki mantan menantu yang baik seperti Dian. Jarang-jarang ada mantan istri yang masih mau menerima keluarga mantan suami. Tapi semua hal itu tidak berlaku bagi Dian. Bahkan Dian sering menyambut kedatangannya dengan tangan terbuka.
"Mama mandi dulu ya sayang." Kata Dian pada keempat anaknya. Gerry sudah terlebih dulu masuk kamar karena dia harus menemani sang ayah mertua.
.
.
.
Dian menyusul Gerry ke dalam kamar. Ternyata pria itu masih sibuk dengan ponselnya duduk di atas ranjang dengan bertelanjang dada. Dian menggigit bibir bawahnya mendapati pemandangan yang menggoda iman itu.
"Katanya mau nemenin ayah sama papa. Kok belum mandi?" Dian mendekat dengan wajah memerah dan hati yang berdesir.
"Tadi dapat telepon dari Arya, dia memberitahu jika abah Usman sudah ditangani." Ujar Gerry.
"Kalau begitu aku mandi duluan ya." Ujar Dian sedikit gugup. Gerry menghampiri Dian dan memeluk tubuh istrinya dari belakang lalu mengecup pundak Dian.
"Kita mandi bersama saja." Bisikan Gerry dengan suara parau. Perlahan jemari Gerry melepas dress Dian, hingga menyisakan dua penutup tubuh Dian yang berwarna hitam sangat kontras dengan warna kulit wanita itu. Gerry sangat menyukai lekuk tubuh Dian saat hamil. Terlihat lebih seksi.
Gerry mengangkat tubuh Dian dan membawanya kedalam kamar mandi. Ia meletakkan Dian di pinggir bathtub dan mulai mengisi bathtub dengan air hangat. Dian hanya memperhatikan semua gerak gerik Gerry. Selama mengisi bathtub Gerry kembali menatap Dian intens, membelai wajah cantik istrinya. Dian hanya memejamkan matanya saat jemari Gerry bermain nakal di wajahnya. Tanpa disadari Dian menggigit bibir bawahnya, Gerry tersenyum samar lalu membenamkan bibirnya di bibir tipis Dian. Perlahan Gerry mulai memagut bibir Dian yang menjadi candunya membelit kan lidahnya dan menghis*ap lidah Dian. Jemari Gerry mulai melepas kain penutup terakhir di tubuh Dian, begitupun yang melekat di tubuhnya. Gerry melepas ciumannya, dan membalikkan badan Dian agar membelakangi dirinya. Dengan sedikit memberi sentuhan-sentuhan yang memabukkan lagi- lagi Gerry menyatukan tubuhnya. Suara erangan dan ******* keduanya tersamar oleh gemericik air. Tubuh Gerry seakan tak pernah lelah memacu tubuh Dian. Setelah beberapa saat bermandikan peluh tubuh Dian bergetar. Disusul tubuh Gerry yang menegang, Gerry mengerang tertahan seraya menggigit pundak Dian dengan lembut. Meninggalkan bekas kemerahan disana. Gerry menyeka keringat Dian menggunakan handuk kecil. Lalu perlahan memasukkan tubuh Dian kedalam bathtub. Gerry memilih langsung mandi dibawah kucuran shower. Dia tidak ingin membuat Dian lelah jika dia ikut berendam di bathtub bisa dipastikan dia akan kembali menerkam Dian.
Dian memejamkan matanya, rasanya tubuhnya sangat lelah sekali. Ia tak sadar jika sudah tertidur selama beberapa menit. Gerry yang sudah menyelesaikan mandinya terkejut melihat Dian terpejam.
"Yank, bangun ..!" Gerry menggoyangkan tubuh Dian namun tak ada respon. Gerry mengangkat tubuh istrinya membilasnya sisa busa dibawah shower namun mata sang istri tak kunjung terbuka. Gerry semakin merasa bersalah melihat Dian. Dia tahu istrinya akan tertidur lelap jika kelelahan. Tapi ia tak menyangka akan selelap ini bahkan saat dibilas pun ia tak terganggu sama sekali.
Gerry meraih handuk dan menutup tubuh Dian. Lalu membawanya ke ranjang. Bahkan Gerry dengan telaten mengganti baju Dian. Setelah selesai Gerry meraih hair dryer di meja rias. Ia tak bisa membiarkan istrinya tidur dalam kondisi rambut yang basah. Gerry membawa hair dryer ke ranjang. Memasang colokan di bawah nakas dan menyalakannya. Ia mengeringkan rambut Dian dengan hati-hati jangan sampai membangunkan istrinya. Setelah selesai Gerry langsung mengganti pakaiannya dan turun ke bawah. Sebelumya ia menyelimuti tubuh Dian agar lebih hangat.
.
.
.
Aldo tidak jadi membawa Veni ke mansion Dian. Kondisi Veni sedang tidak memungkinkan. Ia sudah menghubungi Gerry dan meminta maaf karena tidak bisa hadir mengikuti tahlilan untuk kakek Kusuma.
Didi dan Selin sibuk membantu saat Gerry turun kebawah karena acara setengah jam lagi dimulai.
"Sayang, Dian mana?" tanya Arini pada Gerry.
"Sepertinya Dian kelelahan. Karena tadi kami sempat ketempat abah Usman ma."
"Oh, abah Usman itu teman bapak jeng. Beliau dulu pernah bantu bapak jadi mata-mata katanya." Jawab Arimbi.
Acara pun dimulai, seorang ustadz yang ditunjuk memimpin jalannya tahlilan dengan khusyuk. Begitupun anak-anak panti terlihat tertib. Setelah selesai Didi dan Gerry membagikan bingkisan dan amplop untuk anak-anak panti. Semua selesai sesuai dengan waktu yang di tentukan.
Semuanya berkumpul diruang keluarga. Nino terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya. Wajahnya sudah terlihat biasa saja.
Dian terbangun dari tidurnya. Ternyata hari sudah gelap. Dian terlihat bingung menoleh ke kiri dan kanan. Sepi tak ada siapapun. Dia mencuci wajahnya sebentar lalu keluar kamar.
"Mas ... " Panggil Dian. Suaranya menggema hingga ruang keluarga.
"Pergilah, putri tidurmu sudah bangun." Kata tuan Hanafi pada Gerry. Gerry segera undur diri. Semua yang ada dalam ruangan itu tertawa melihat Gerry yang tampak malu-malu.
.
.
.
Sementara itu tadi saat di hubungi Gerry, Arya sedang keluar bersama Arsen. Arya ingin menghabiskan waktu dengan saudaranya itu. Dengan terpaksa Arya membawa Arsen ke rumah sakit. Arsen diminta menunggu sejenak. Ia menatap pada sosok gadis yang sedang menangis di sudut kursi.
Tak lama Arya keluar mencari Ara. Gadis yang dimaksud oleh Gerry.
"Hai, kamu Ara?" Arya mendekat kearah gadis yang berada di sudut kursi.
"I-iya apa anda pak Arya teman aa Gerry?" Tanya Ara, Waiah Arya tampak berubah, Gerry dipanggil aa kenapa dia dipanggil Pak. Rasanya Arya sedikit keberatan. Arsen hanya tertawa melihat wajah Arya. Sedang Ara justru bingung kenapa pria disebelahnya itu tertawa.
"Wajahmu memang sedikit tua." Kata Arsen.
"Huh bang Arsen kaya engga aja." Kata Arya.
"Ara, untuk semalam nanti abah tidak boleh diganggu kondisinya belum membaik. Jadi sebaiknya kamu pulang dulu." Kata Arya.
"Pulang?"
๐๐๐๐๐๐๐๐
Like komen dan giftnya jangan lupa.
Oh iya untuk pemenang yang udah kasih gift dan Vote. Hari ini mendapat Hadiah berupa pulsa dari othor
Juara 1 : 50.000
Juara 2 : 25.000
Juara 3 : 25.000
Dan pemenangnya
Bagi juara 1 dan 3 silahkan follow othor. Dan juara 2 yang sudah follow. Tolong chat othor no hape nya.