
*********
Judy sedang berlatih karate dengan semua cucu keluarga Kusuma. Mereka dibimbing langsung oleh orang- orang pilihan kakek Kusuma. Dimana sebagian besar adalah sahabat ayah Nino saat masih bertugas di angkatan darat.
Setiap anak memiliki satu pembimbing. Namun Judy memilih berlatih bersama dengan Zayn. Dan pria kecil itu juga tidak tampak keberatan.
"Zayn, bolehkah aku berlatih denganmu? aku belum bisa, aku takut dengan pelatihku. Lihatlah tubuhnya besar sekali." celetuk Judy, Zayn tersenyum mendengar ucapan gadis kecil itu.
"Baiklah, kemarilah mendekatlah!" Judy tersenyum senang dan mengikuti setiap gerakan Zayn.
Didi benar-benar mengkhawatirkan Selin. Ia meminta Aldo dan Gerry untuk membujuk istri mereka agar mau menemani Selin. Dan kedua sahabatnya setuju. Mereka juga sedang merencanakan memasang perangkap untuk Archel dan Viona.
Aldo, Gerry dan juga Didi sedang berada di perusahaan Gerry. Karena pria itu sedang banyak pekerjaan. Berdasarkan info dari Nino disekitar apartemennya banyak orang-orang mencurigakan yang bergantian menilik apartemennya. Didi semakin yakin jika Archel dalang di balik semua ini.
"Aku sudah menghubungi Rian, tapi dia sedang sibuk. Mertuanya sedang berada di rumah sakit, jadi dia hanya menyuruh Diego untuk membantu Sigit. Karena Joe sedang sibuk mengurus perusahaan." Ujar Gerry seraya memperhatikan berkasnya.
"Lalu kita harus bagaimana?" tanya Didi.
"Biarkan orang-orang ku bekerja. Kita hanya perlu kau dan Selin menjadi umpan. Biarkan mereka mendekat dengan sendirinya." Kata Gerry lagi.
"Bagaimana jika kita pecah kubu mereka?" usul Aldo.
"Sebaiknya tidak. Karena bisa saja salah satu dari mereka melarikan diri dan balas dendam. Aku ingin sekali tepuk kedua nyamuk itu mati ditempat. Aku tidak bisa membayangkan jika itu nyawa istriku yang terancam." Ujar Gerry menatap Didi.
Didi mendengus seperti benar-benar terhimpit beban berat. "Aku akan ikuti saranmu tapi sebaiknya jangan libatkan istriku. Semalam aku menyebut nama Archel saja, dia demam. Aku tidak bisa bayangkan jika dia harus berhadapan dengan Archel. Aku tak ingin membahayakan nyawanya." Tutur Didi. Ia menekan keningnya yang terasa berdenyut.
"Istirahatlah sebentar. Setelah itu kembalilah ke mansion." Ujar Gerry menatap iba pada Didi. Baru saja merasakan kebahagiaan tapi dihadapkan dengan masalah yang lebih besar.
"Aku harus ke restoran pusat dan kafe untuk mengecek pemasukan bulan kemarin karena sebentar lagi semua karyawan gajian." Kata Didi.
"Terserah padamu. Diego dan Apri ada di ruangan Sigit sekarang, ajak kemanapun kau pergi hanya untuk berjaga-jaga." Ucap Gerry. Didi hanya mengangguk lalu pergi dari perusahaan milik Gerry.
"Kasian sekali dia." Ujar Aldo setelah Didi pergi.
"Ya, tapi sebaiknya kau juga tinggal di mansionku untuk berjaga-jaga. Viona mungkin juga memiliki dendam pada dirimu dan Veni. Kita tidak tau seberapa tangguh lawan kita. Jadi lebih baik jika kita waspada." ---- Gerry.
Aldo baru sadar, jika dirinya dan Veni juga dalam posisi tidak aman.
.
.
.
Didi merasa ada yang sedang mengikuti dirinya. Ia meminta Diego dan Apri untuk bersiaga.
"Tuan, mobil sedan hitam itu sepertinya membuntuti kita." Kata Apri melirik kaca spion.
"Bagaimana menurutmu, apa kita cegat saja mereka dan tanyakan apa maunya." Kata Didi. Ia tak bisa terus menerus menghindar.
"Baik tuan." Apri berbelok menuju kawasan yang sedikit sepi. Ia menghentikan mobilnya di tangah jalan. Diego menyerahkan sebuah pistol pada Didi untuk berjaga-jaga.
Mobil sedan itu ikut berhenti. Namun penumpangnya tak kunjung turun.
Didi, Diego dan Apri turun dari mobil dan mendatangi mobil sedan itu.
"Turun, katakan apa mau kalian?" Ujar Diego menggebrak mobil sedan itu. Seseorang muncul dari balik kemudi dan mengagetkan Didi.
"Aku, hanya ingin menyapamu." Kata Viona gugup.
"Jangan berbohong, katakan! Apa Archel yang menyuruhmu?" tanya Didi menodongkan senjata yang ia bawa ke dagu Viona. Tubuh wanita itu bergetar hebat.
"A-aku tidak tau. Dan aku tidak kenal Archel."
"Pergilah sebelum peluruku menembus kepalamu itu. Katakan pada Archel, datangi aku jika berani. Jangan hanya jadi penguntit." Viona yang ketakutan langsung masuk ke dalam mobilnya. Ia langsung memutar kemudinya meninggalkan Didi dan yang lainnya. Namun sesaat Didi meminta Apri mengejar mobil Viona.
Viona sedikit diuntungkan saat menjadi musuh ketiga orang itu karena dulunya dia sering dibawa Aldo atau Didi ke hunian mereka bahkan ke kantor Gerry. Jadi mudah baginya untuk menjadi penguntit. Namun Viona tidak tau dimana mansion baru Gerry berada.
Ia akan melaporkan kejadian tadi pada Archel. Namun karena Viona terlalu kalut dia tak tau jika Didi balik membuntuti dirinya.
Viona berhenti di sebuah gedung apartemen. Setelah memarkirkan mobilnya. Apri mengikuti nya dengan menyamar memakai topi.
Didi benar-benar terkejut mendapati kenyataan bahwa Archel ternyata satu gedung apartemen dengannya. Dan mungkin hanya beda beberapa lantai saja.
Ia bersyukur Gerry bergerak dengan cepat mengajak dirinya tinggal di mansionnya.
.
.
.
Selin sedang membantu Dian membuat Cake untuk anak-anak mereka. Ia bersyukur Didi dikelilingi oleh orang-orang baik. Sehingga ia dan putrinya ikut merasakan kehangatan keluarga Dian.
Selin memperhatikan putrinya yang terus menempel pada Zayn, dan Dino juga terus mengekor kemanapun keduanya pergi. Dian terkekeh melihat tingkah ketiga bocah itu.
"Sepertinya kelak kita akan menjadi besan." Celetuk Dian, Selin menoleh dan tersenyum.
"Tapi sepertinya akan ada cinta segitiga." Bisik Selin, dan Dian justru tertawa. Ia juga dapat melihat betapa Dino menatap kagum ke arah Judy.
"Mommy aku lapar." Rengek Judy.
"Tunggu sebentar lagi ya sayang, Tante sedang membuat cake red Velvet untuk kalian."
"Woow .. mommy itu kesukaan Judy." Ujar gadis itu senang.
"Oh ya, Zayn juga suka red Velvet." Kata Dian matanya mengerling pada Zayn. Zayn tersenyum malu. Zafa datang bersama seorang temannya.
"Mama, Lauren ingin belajar merangkai bunga. Dia bilang sebentar lagi ibunya berulang tahun. Jadi dia ingin merangkai bunga sebagai hadiah."
"Baiklah sayang, mama akan ajari Lauren nanti tapi sekarang, mama selesaikan dulu cake nya. Tunggu 10 menit lagi ya."
"Iya tante terimakasih." Kata Lauren.
"Sama-sama sayang." Jawab Dian terseyum. Selin menatap kagum pada Dian yang begitu lembut terhadap anak-anak itu. Padahal dia sedang hamil tapi tak sedikitpun terlihat raut wajahnya yang lelah.
"Sayang Veni sedang teler-telernya. Jika tidak pasti kita bisa saling berbagi cerita." Ujar Dian sedih karena sejak pagi Veni terus menerus muntah. Bahkan siang tadi Aldo membawa dokter Fani untuk memberikan cairan infus kepada Istrinya. Dan sekarang Veni sedang beristirahat.
๐๐๐๐๐๐๐๐
Likenya jangan lupa ditekan dong ah.