
**********
"Apa kau juga ayah kandungku?" kini jantung Zafa seakan dipaksa berpacu lebih cepat. Keringat dingin nampak mulai bermunculan dari dahi Zafa.
Namun reaksi lain di tunjukkan oleh Rian. Dia justru terkekeh mendengar pertanyaan itu.
"Apa ada yang lucu uncle? apa menurutmu masalah ini lucu bagimu?" Ujar Zafa datar, ia merasa dipermalukan dengan tawa itu.
"Apa kau mau jadi putraku setelah tahu apa yang telah aku lakukan pada Dian? apa kau tidak membenciku?" tanya Rian tetap dengan nada yang tenang.
"Jangan harap aku mau jadi putramu.. " Ketus Zafa, Rian kembali terkekeh seraya menggeleng.
"Semenjak ibumu memilih Gerry untuk menjadi suaminya aku tidak pernah sekalipun menjumpainya. Kami berjumpa saat aku mengetahui janin yang ada di kandungan Dian berjenis kelamin perempuan itupun hanya sekali dan saat itu aku sama sekali tidak tahu jika ibumu sedang mengandung dirimu karena sama sekali tak terlihat dari bentuk tubuhnya yang berubah. Jadi apa menurutmu ada kemungkinan kau adalah putraku?" Zafa reflek menggelengkan wajahnya.
"Tapi kenapa wajahku seakan mirip dirimu?"
"Aku juga merasa begitu. Tapi percayalah kita tidak memiliki hubungan apapun. Mungkin karena ibumu terlalu terobsesi kepadaku sehingga kau justru lebih mirip denganku ketimbang Gerry. Tapi matamu sangat mirip dengannya. " Rian berjalan ke meja kerjanya, dia membuka map berisi dokumen-dokumen dan mengeluarkan selembar kertas lalu menyerahkannya pada Zafa. anak laki-laki itu mulai membaca kertas usang hasil tes DNA yang diam-diam Rian lakukan dulu. Bait demi bait tulisan di baca oleh Zafa dengan seksama, di sana ada tulisan yang ditebali yang mengatakan jika Rian bukan ayah biologis Zafa. Entah mengapa Zafa sangat senang dan bersyukur dalam hati.
"Apa kau sudah puas?" tanya Rian menaikkan sebelah alisnya melihat senyum tipis di bibir Zafa meskipun wajah Zafa terlihat sembab.
"Aku rasa cukup uncle. Terimakasih untuk waktunya dan informasi yang berharga ini. Jika mama saja yang disakiti uncle mau memaafkan uncle, aku tidak punya hak untuk membenci uncle seburuk apapun masa lalu uncle." Ujar Zafa. Ia lalu undur diri untuk pulang ke apartemen miliknya.
Rian masuk ke kamar Zafrina, dia duduk di sebelah ranjang putrinya. Sejak dia menceritakan kisah masa lalunya entah mengapa tiba-tiba rasa bersalahnya kembali menyeruak dalam hatinya. Ia membelai wajah sembab putrinya. Rian bahkan tahu jika diam-diam putrinya menyusup dan mencuri dengar pembicaraannya dan Zafa. Tidak ada seorangpun yang tahu jika setiap sudut ruangan di mansion milik Rian itu di pasangi CCtv khusus yang hanya bisa diakses oleh Rian saja. Sementara CCtv yang lain bisa dengan mudah di pantau dari ruang pengawasan. Termasuk bilik rahasia itu disana ada dua CCtv yang saling berhadapan. Saat tadi Rian bercerita pada Zafa matanya tak lepas menatap layar laptop yang menampilkan reaksi dari putrinya.
"Maafkan papi sayang .. " Bisik Rian.
.
.
.
Setibanya di apartemen Zafa mengambil ponselnya dan mengusap wallpaper ponsel itu dan menciumnya berkali-kali.
Remaja itu mengusap layar ponselnya seakan-akan berhadapan langsung dengan Dian, air matanya terus menggenang di pelupuk matanya. Rasa sesalnya begitu membuncah. Mengingat selama ini perlakuan mama Dian padanya yang begitu istimewa. Wanita dengan segudang kelembutannya, wanita yang mengajarkannya begitu banyak pelajaran hidup. Namun hanya karena rasa kecewanya karena fakta yang ia jumpai ia harus menyakiti wanita yang telah memberinya sumber kehidupan. Setelah berfikir cukup lama Zafa akhirnya meraih tasnya, mengambil Visa dan pasport miliknya kedalam tas. Hari ini juga ia akan mencari penerbangan menuju Indonesia.
Kini Zafrina memantapkan hatinya untuk pulang ke Indonesia menemui mamanya dan meminta maaf atas apa yang ia telah lakukan.
Tanpa pikir panjang Zafrina meraih ransel miliknya. memasukkan beberapa baju, pasport dan Visanya. Dia akan pulang dan bersujud di kaki Dian. Dian akan meminta maaf atas semua kemalangan yang terjadi dalam kehidupan Dian karena kehadirannya yang tak pernah diinginkan papinya. Pria yang ia cintai melebihi cintanya pada Gerry. Tapi nyatanya orang yang sangat ia cintai melebihi papanya malah memberinya luka yang teramat sakit ia rasakan. Zafrina menatap pintu kamar papi dan maminya dengan sendu. Setitik air mata menetes membasahi pipinya dengan cepat Zafrina mengusapnya.
Ina menempelkan kertas memo di pintu kamar Rian dan Velia.
Maaf Ina pergi .. Ina butuh mama saat ini. Papi ga usah cari Ina. Ina akan pulang jika Ina sudah membaik.
Setelah menempelkan kertas memo itu Zafrina menyelinap keluar. Ia mengambil ponselnya dan mengirim pesan untuk Zafa semoga saja kakaknya belum tidur.
Zafrina ๐จ Kak, bisakah kau menjemputku di dekat mansion.
Zafa ๐จ Ada apa denganmu? kenapa kau keluar mansion malam-malam begini?
Zafrina ๐จ Akan ku jelaskan nanti. Cepatlah kemari aku takut ..!
Tanpa membalas pesan terakhir adiknya, Zafa memutar haluan dari mengarah ke bandara menjadi ke mansion Rian.
Setelah 30 menit perjalanan Zafa menengok kanan kiri mencari keberadaan adiknya, matanya membelalak lebar saat melihat Zafrina tergeletak di tepi jalan yang sepi itu. Zafa segera membuka pintu dan melihat kondisi sang adik. Ini sudah memasuki musim dingin. Dan suhu udara bisa mencapai minus 0ยฐ. Adiknya pasti kedinginan karena terlalu lama menunggu dirinya. Zafa membuka jaket yang ia kenakan dan membungkus tubuh Zafrina. Ia segera mengangkat tubuh Zafrina dan membawanya masuk ke dalam mobil. Wajah Zafa begitu cemas karena tubuh adiknya terasa dingin bahkan bibir gadis itu membiru.
"Ina ku mohon jangan menakutiku. Apa yang akan ku katakan pada mama jika terjadi sesuatu padamu. Zafa menutup pintu mobil dan segera menyalakan pemanas mobil. Zafa belum menjalankan mobilnya. Ia terus menggosok tangan Zafrina mencoba memberikan kehangatan untuk adiknya itu.
Tanpa pikir panjang Zafa menjalankan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.
Namun belum sampai ke rumah sakit Zafrina mengigau memanggil Dian.
"Mama, Ina minta maaf. Maafin Ina mama, Ina janji akan jadi anak yang baik. Ina mau sama mama saja."
๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ
Guys maaf sekali jika nanti othor bakalan sering bolong Up. karena Real life othor baru masa penyesuaian diri. Sekarang momong anak full dari pagi sampai malam karena paksu mulai WFO dan jam terbangnya langsung lebih dari 12 jam alias berangkat pagi pulang larut kejar target. Semoga saja tidak berlangsung lama kondisi seperti ini. Biar othor tetap bisa rutin menghibur kalian ๐ฅฐ๐ฅฐ