Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
Bab 68


⛅ Selamat membaca ⛅


Hari Senin waktunya ngevote ..


Gerry tiba di mansion miliknya, ia memasuki rumah dengan tergesa-gesa. Ia membuka pintu kamarnya namun sama sekali tak menemukan keberadaan Dian. Pikiran buruk kembali menderanya.


Sedangkan disisi lain Rian saat ini ada di hadapan Dian, ia memang sudah janjian dengan Dian untuk menemui Zafrina karena sang ibu sedang terbaring sakit.


"Apa aku boleh membawa Zafrina untuk bertemu mama?" tanya Rian, tatapan matanya tak lepas menatap wajah cantik dan imut Dian. Bahkan kondisinya yang sedang berbadan dua tak mengurangi pesona wanita itu.


"Aku sebenarnya tidak keberatan. Tapi bagaimanapun sekarang suamiku juga punya hak atas Zafrina mas. Aku akan menghubungi nya dulu untuk menanyakan-nya." Jawab Dian.


Namun saat Dian berbalik untuk mengambil ponselnya, tiba tiba dirinya hilang keseimbangan. Saat akan terjatuh tubuh Dian tertahan oleh lengan Rian.


Keduanya saling tatap dengan posisi yang terbilang intim. Sedangkan Gerry merasa gemuruh di dadanya semakin tak terkendali melihat istrinya berada di pelukan rival bisnisnya sekaligus berstatus mantan suaminya.


"Jauhkan tangan kotormu dari tubuh istriku." Ujar Gerry geram.


Dian pun reflek terbangun. "Mas, ini semua ga seperti apa yang mas pikirkan."


Gerry menatap tajam Rian. Begitupun sebaliknya, Rian tak kalah menatap tajam suami Dian itu.


"Ada keperluan apa kau kemari?"


"Aku hanya ingin meminta ijin agar Zafrina dibolehkan tinggal di rumahku dua hari ini. Ibuku sedang sakit dan dia sangat merindukan Zafrina."


"Aku turut bersedih, tapi aku tidak bisa membiarkan Zafrina tinggal di rumahmu." Kata Gerry.


"Mas, kenapa tidak kita biarkan saja Zafrina bertemu Oma-nya. Siapa tahu nyonya Santika bisa segera sembuh."


"Kau jangan naif Dian. Ini pasti hanya akal akalan dia saja. Agar bisa selalu menemuimu." Kata Gerry sarkas. Dian merasa terkejut dengan penuturan Gerry.


"Kenapa kau selalu berpikiran buruk padaku?" Ujar Rian tidak terima. "Apa aku salah ingin dekat dengan darah dagingku sendiri?"


Gerry tertawa kecil mendengar kata kata Rian. "Darah daging yang mana? kau sudah membuang Zafrina sejak dalam kandungan. Apa kau lupa itu?"


Bagaikan ribuan jarum menusuk hati Rian, kata kata Gerry memang benar, dirinya sejak awal sudah menolak kehadiran Zafrina. Tapi dia ingin memperbaiki semuanya. Apakah salah?


"Sudahlah mas. Kenapa malah jadi bertengkar?" Dian merasa jengah dengan sikap keduanya. Ia langsung meninggalkan halaman rumahnya dan masuk ke dalam mansion tanpa memperdulikan dua pria itu.


"Aku lelah Bu, jika mereka berdua masih terus bertengkar usir saja. Dian mau istirahat." Dian pun meninggalkan ibunya yang asik bermain dengan Zafrina cucunya.


.


..


...


Selena sudah sadar, sekarang dia sedang makan disuapi oleh Arya. Tubuhnya terasa begitu lemas tak bertenaga.


"Sudah .." ucap Selena lirih.


"Tapi kau baru makan seperempatnya. Kau bisa sakit jika terus terusan seperti ini.


"Aku memang sedang sakit."


"Ku mohon makanlah." Kata Arya.


"Aku bilang tidak mau ya tidak mau jangan memaksaku." gumam Selena, ia menepis nampan yang ada di tangan Arya, hingga semua yang ada di atas nampan itu jatuh berceceran dan menimbulkan suara yang nyaring.


Arya menghembuskan nafas kasar. Wanita satu ini benar-benar menguji kesabarannya.


"Apa kau terlalu buta untuk melihat kebaikan seseorang?" sarkas Arya, pria itu langsung meninggalkan Selena.


Selepas kepergian Arya, Selena menangis dalam diam. Hatinya benar-benar sakit. Mengingat ucapan dokter kemarin. Penyakit yang sampai sekarang tak ada obatnya. Kenapa ia harus mengalami ini semua. Dari mana ia bisa tertular? Semua pertanyaan² itu terus berputar dipikiran Selena.


Selena melihat ada pecahan gelas yang teronggok di lantai. Pikirannya yang terlalu kalut tak bisa membuatnya berfikiran jernih. Ia mencabut jarum infus yang terpasang di tangannya. Dengan langkah yang lemah Selena mengambil serpihan kaca itu dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi, lalu menguncinya. Dengan tatapan kosong Selena menggores pergelangan tangannya wajahnya sama tak menunjukkan rasa sakit. Selena menyalakan shower dan duduk dibawah kucuran air.


Sementara itu Arya yang tadi keluar untuk memanggil petugas kebersihan, terkejut saat mendapati kamar Selena kosong meninggalkan infus yang masih tergantung di tempatnya.


Ia mendengar suara gemericik air dalam kamar mandi. Seketika Arya menggedor pintu kamar mandi tersebut. Namun Selena sama sekali tak menyahut.


Dengan sedikit mengerahkan tenaganya, Arya berusaha mendobrak pintu kamar mandi itu. Hingga tiga kali tendangan dan pintu itu terbuka. Arya membuka mulutnya melihat tubuh Selena tergeletak bersimbah darah dibawah kucuran air shower. Arya segera meraih tubuh Selena dan mengangkat tubuhnya dan dibawanya ke ranjang. Arya langsung menekan emergency bell dan tak lama tim medis pun datang.


Arya menunggu diluar ruang perawatan Selena. Karna ia tak bertugas menanganinya. Arya mengusap wajahnya kasar, jujur ia merasa bersalah sudah berkata kasar pada Selena. Bagaimanapun mungkin Selena sedang dalam fase terpuruk karena kondisinya.


⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅