
*********
Gerry dan Dian sedang bersiap di sebuah kamar hotel. Setelah 2 hari yang lalu keluarga Kusuma yang di tunjuk untuk menjadi wali keluarga dari pihak perempuan dan Keluarga inti dari Arsen melakukan pertemuan diputuskanlah acara pernikahan mereka akan diteruskan. Setelah ijab kabul mereka akan langsung resepsi. Karena berbagai pertimbangan.
Gerry menatap Dian dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya. Wajah Dian yang mulai membulat, dengan pipi chubby. Namun tak mengurangi kecantikan wanita hamil itu.
Gerry menarik pinggang Dian yang tak lagi ramping, itu karena perutnya yang mulai membuncit keatas. Gerry sangat menyukai bentuk tubuh Dian saat sedang hamil, karena terlihat lebih seksi. Ditambah saat ini Dian memakai riasan wajah. Rasanya Gerry tak ingin Dian turun ke ballroom.
"Ach .. Ada apa mas?" Wajah Dian memerah dengan jarak wajahnya yang begitu dekat dengan wajah suaminya.
"Bisakah kita hanya di kamar ini saja. Rasanya aku tidak rela jika ada pria lain yang memandangi wajah cantikmu ini." Ujar Gerry membelai wajah Dian lembut.
"Jangan seperti ini suamiku sayang. Setidaknya jangan menghancurkan mimpi Ara. Untuk merasakan memiliki keluarga yang utuh." Kata Dian meletakkan kedua tangannya bertumpu di dada bidang Gerry.
Gerry merasakan perut Dian bergerak. Senyumnya semakin merekah. Janinnya begitu sehat dan aktif bergerak.
"Ternyata dia juga menantikan momen hari ini." Ujar Gerry seraya berjongkok dan menempelkan setengah wajahnya di perut Dian yang membuncit. Ia mengusap perlahan perut Dian, kebahagiaannya terasa lengkap sudah.
Gerry beranjak berdiri mengecup bibir Dian sekilas.
"Ayo kita berangkat ..!" Dian mengapit lengan Gerry dengan mesra keduanya masuk ke dalam lift menuju ballroom tempat diadakannya acara ijab Kabul Ara dan Arsen
.
.
.
Di tempat lain, Ara sudah selesai di rias oleh MUA yang di sewa khusus oleh mama Clara. Wajahnya benar-benar cantik dan terlihat berbeda dari biasanya. Meskipun wajahnya sudah terlihat cantik namun matanya memancarkan kesenduan yang teramat dalam. Jika saja masih ada abah dia mungkin akan merasa sangat bahagia. Tak terasa air mata Ara menetes. Nyonya Arimbi yang juga sudah selesai di make up mendekati Ara.
"Kenapa bersedih di hari bahagiamu sayang?" Ara menatap ibu Arimbi sesaat lalu menggeleng.
"Aku hanya teringat dengan Abah, Bu." Kata Ara, sesenggukan. Perasaannya benar-benar merindukan abah usman. Sosok kakek yang hingga beberapa hari yang lalu masih menemani hari-harinya.
"Sabar sayang, beliau sudah bahagia disana. Saatnya sekarang Ara membuktikan pada Abah jika Ara bisa menunaikan apa yang menjadi cita-cita Abah selama ini." Kata ibu Arimbi, Ara mengangguk lalu menyeka air matanya. Ibu Arimbi meminta salah satu MUA memperbaiki riasan Ara. Meskipun make up yang di gunakan merupakan make up import tetap saja bekas air mata gadis itu tampak jelas di wajahnya.
Arsen berulang kali bolak balik masuk kamar mandi karena nerveus. Ia takut tidak lancar dalam mengucapkan ijab qabul hingga membuat perutnya terasa mulas.
"Rileks bang, jangan tegang ..!" Ujar Didi yang menemani Arsen di sebuah ruangan khusus keluarga pengantin pria.
"Aku juga sudah berusaha rileks tapi ga tau kenapa perutku rasanya sakit." Kata Arsen.
"Ya ampun bang, kalo mau nikah itu yang dibayangin jangan pas ijab nya tapi yang dibayangin saat unboxing nya pasti ga kan tegang."
"Itu justru semakin tegang .. " Ujar Arsen kesal. --- "Jika tidak tegang juniorku tidak akan bisa menembus gawang." Lanjut Arsen. Ia kembali masuk ke dalam kamar mandi untuk buang hajat yang kesekian kalinya. Mama Clara masuk seraya membawa obat dan segelas air. Saat Arsen keluar dari kamar mandi, mama Clara segera memberikan obat dan segelas air putih yang dia bawa..
"Cepat minum ini, jangan sampai nanti ketika kamu mengucapkan ijab qabul tiba-tiba kau buang air di celana." Ujar mama Clara. Arsen hanya mendengus karena baik mama Clara maupun Didi selalu mengolok dirinya.
"Kalo kamu lihat Ara nanti jangan kaget Sen, dan tahan diri ok ..!! Karena mama yakin kamu pasti bakalan ternganga melihat kecantikannya." lanjut mama Clara menggoda Arsen. Arsen langsung mendegus namun juga penasaran seperti apa rupa calon istrinya saat ini.
.
.
.
Berhadapan dengan penghulu dan ayah Hanafi. Di sampingnya duduk Arya dan Papa Arman. Beberapa tamu sudah turut hadir menyaksikan perhelatan pernikahan terakhir dari keluarga Arman itu.
Setelah penghulu membacakan nasihat untuk mempelai, tibalah acara Arsen harus mengikuti ucapan penghulu.
Saya nikahkan dan kawinkan engkau Arsen Banu Hutapea dengan ananda Tiara Syakila ****Amran binti almarhum Amran Putra**** dengan mas kawin emas seberat 100 gram dan satu unit rumah di bayar tunai.
"Saya terima nikah dan kawinnya Tiara Syakila Amran binti almarhum Amran Putra dengan mas kawin tersebut tunai."
"Bagaimana saksi?"
Sah ...!!
"Alhamdulillah .. " Seru penghulu. Setelah Arsen mengucap ijab qabul barulah Ara digiring keluar dari ruangannya didampingi mama Clara dan ibu Arimbi.
Semua mata para hadirin yang turut serta menyaksikan acara ijab qabul dibuat terpesona oleh kecantikan Ara. Bahkan saat Arsen ikut menatapnya jantungnya langsung berdebar kencang.
Seutas senyum terbit menghiasi bibir tipis Arsen hingga menampakkan lesung pipinya yang membuat Ara selalu terpesona. Arsen dengan balutan tuxedo berwarna senada dengan baju Ara saat bersanding membuat mereka tampak sangat serasi.
Ara duduk di samping Arsen. Setelah menandatangani surat nikah mereka. Dan Arsen membaca Sighat taklik pernikahan. Ara dipersilahkan menghadap Arsen dan mencium punggung tangan Arsen, dan langsung disambut dengan ciuman hangat Arsen di kening Ara.
Kedua pengantin langsung di giring ke sebuah ruangan khusus untuk beristirahat dan berganti kostum, karena satu jam lagi mereka akan menjadi raja dan ratu di acara perhelatan pergelaran pernikahan mereka. Ibu Arimbi masuk membawa nampan yang berisi makanan.
"Kamu makan dulu Ra ..! Jangan sampai pingsan di panggung nanti." Ujar Ibu Arimbi.
"Kamu belum makan Ra?" Arsen mengernyit tak senang.
"Dia dari semalaman ga makan Sen. Katanya dia grogi sampai-sampai sakit perut. Setiap lihat makanan katanya mau muntah." Terang ibu Arimbi yang memang sejak semalam menemani Ara melakukan berbagai ritual sebelum menikah.
"Ya sekarang kamu makan Ra, bentar lagi periasnya datang." Ujar Arsen. Ara mengangguk dan menuruti kata Arsen suaminya.
"Aa sudah makan juga?" Arsen mengangguk seraya menatap ponselnya menunggu laporan dari asistennya. Karena seharusnya sekarang asistennya sudah tiba di indonesia namun hingga sekarang belum ada kabar.
Ara menyodorkan sendok yang berisi nasi dan lauk ke depan mulut Arsen. Dan tanpa sadar pria itu membuka mulutnya.
"Hihihiii paman Arsen so sweet sekali ya oma?" Ejek Judy saat mama Clara mengajaknya masuk ke ruangan pasangan baru itu.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Maaf guys hari ini othor beneran lagi lemes banget dari pagi kepala pusing, ga enak banget deh pokoknya rasanya badan nona nona. Tapi mau libur up pun othor malah tambah kepikiran.
jangan lupa jempolnya di birukan ya