Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
S2. Tak Ingin Jadi Pembunuh


*********


Dian sedang mengajari Lauren dan Zafa cara merangkai bunga. Putra pertamanya tampak begitu cekatan. Zafa lebih senang hal-hal yang berbau budaya, kesenian dan sama sekali tidak berminat pada teknologi. Berbeda dengan Zayn yang lebih memilih Nino untuk menjadi mentor nya.


"Mama lihat, bagus bukan?" Ujar Zafa menunjukkan hasil merangkai bunganya.


"Iya itu sangat bagus." Ucap Dian terseyum hangat pada putra pertamanya.


"Lauren, ini untukmu." Zafa menyerahkan hasil kerajinan tangannya. Lauren tersipu seraya mengucapkan terimakasih.


Jika Dian sibuk dengan merangkai bunga berbeda dengan Selin, ia sibuk mengawasi putrinya yang kini ikut aktif mempelajari pengoperasian Laptop. Selin ikut mendengarkan penjelasan Zayn dan Dino. Lucu memang, padahal disini Selin yang paling tua, tapi dirinya justru ikut kelas yang dibimbing Dino dan Zayn mengenai Laptop dan segala fungsinya.


Judy tampak antusias mendengar materi yang Dino dan Zayn ajarkan. Sesekali gadis itu menekan tombol di keyboard dan terseyum. Selin ikut merasa bahagia. Melihat putrinya bahagia.


.


.


.


Didi masih ada di parkiran, Diego sudah menghubungi anak buahnya untuk membawakan mobil lain. Sementara mobil milik Didi akan dipakai sebagai pancingan karena Viona mengenali mobil milik Didi.


Mereka berpindah mobil, Apri datang dengan setengah berlari. Ia masuk kedalam mobil Diego dan mematikan lampu mobil. Apri menyuruh Diego dan Didi menunduk.


"Cepat temukan orang itu. Dia pasti mata-mata putra mahkota."


Didi hanya menahan nafasnya, baru kali ini dirinya berurusan dengan penjahat. Biasanya dia hanya berurusan dengan pemabuk, perusuh atau ja*lang. Tapi lihatlah sekarang, dia harus membawa senjata, dikawal dan dikejar sekawanan orang yang dia belum pernah kenal sebelumnya.


Setelah dirasa aman Apri menjalankan mobilnya. Mereka keluar dari gedung apartemen dengan selamat.


"Kita kemana tuan?"


"Kembali ke mansion Gerry saja. Aku kehilangan selera untuk bekerja." Ucap Didi sembari menyandarkan kepalanya di jok dan memejamkan mata.


"Apakah kalian sering menghadapi situasi seperti tadi?" tanya Didi penasaran.


"Tentu saja tuan. Kami besar dan bekerja di dunia bawah. Memburu dan diburu adalah hal biasa bagi kami. Tapi tindakan anda melepas musuh adalah hal yang salah menurut saya. Karena musuh adalah musuh dan kita harus menghabisinya jika ada kesempatan, karena suatu saat bisa orang itu menjadi ancaman bagi keluarga anda." Ujar Diego.


"Aku tidak terbiasa, jika hanya memukul seseorang mungkin aku masih sanggup tapi untuk membunuhnya aku tidak tau apakah aku bisa atau tidak." Ujar Didi lesu.


"Sepertinya anda perlu belajar banyak dari tuan Rian." Ucap Apri.


"Apa dia juga pernah membunuh?" tanya Didi penasaran. Dan Diego serta Apri mengangguk bersamaan. Mata Didi membulat sempurna.


"Apa kalian serius?" --- Didi.


"Itu hal yang biasa menurut tuan. Jika orang itu terbukti bersalah dan mengingkari kesalahannya. Tuan Rian tak akan segan-segan menghabisinya, karena itu sama saja dengan penghianat. Dan tuan Rian membenci itu."


Didi menelan salivanya dengan kasar. Ia tak ingin menjadi pembunuh, tapi dia juga tak ingin anak dan istrinya terbunuh.


Sepertinya tak ada cara lain. Didi akan berlatih menggunakan senjata mulai saat ini. Dia akan menghadapi Archel dengan kesiapan dirinya.


.


.


.


"Kau sudah pulang?" Selin menyambut kedatangan Didi.


"Karena aku merindukanmu, makanya aku pulang lebih awal." Kata Didi. Selin mengerucut bibirnya.


"Dasar gombal .." ---- Selin


"Dimana Judy?" Didi mengedarkan pandangan.


"Di kamar, tidur siang." Selin tampak berpikir sejenak lalu berkata pada Didi. --- "Apa kita tidak merepotkan keluarga Gerry jika kita terus menumpang disini?"


Didi membelai wajah Selin. "Kita tidak hanya sekedar menumpang. Tetapi aku sedang berusaha melindungi kalian. menyembunyikan kalian dari kejaran Archel."


Tampak jelas raut ketegangan tergambar di wajah Selin.


"Kau tidak perlu takut. Karena aku akan melindungi kalian." Desis Didi, nafasnya mulai memburu menatap bibir tipis Selin. Didi mendekat dan memagut bibir istrinya yang menjadi candunya.


Selin memejamkan matanya, saat bibir Didi menyatu dengan bibirnya. Selin hanya diam tanpa membalas. Didi membaringkan Selin dan mulai melepaskan semua kain penutup ditubuhnya dan tubuh Selin. Keduanya sama-sama polos. Didi mulai menyatukan tubuh mereka. Ia bergerak dengan lembut dan membuai. Setelah hampir 30 menit. Akhirnya tubuh keduanya menegang, mendapatkan pelepasannya secara bersama. Selin lunglai, Didi terus mengecup kening Selin berulang-ulang.


Keduanya terlelap hingga malam menjelang. Ketukan pintu membuat Didi membuka matanya. Ia memakai pakaiannya yang berceceran di lantai.


Dengan setengah kesadarannya dia membuka pintu mendapati wajah putrinya yang sudah berdandan Cantik.


"Daddy, kenapa Dady dan momy masih tidur. Semua sudah berkumpul di tempat adik Dino."


Didi menatap wajah kesal putrinya. Ia tersenyum lembut kepada sang putri.


"Judy kesana dulu sama Zayn, Dady dan momy akan menyusul sebentar lagi, Ok!" Ucap Didi, Judy menghentak kakinya dengan kesal lalu berbalik tanpa menjawab Didi. Zayn menatap Didi sekilas.


"Aku akan menjaga kan Judy untuk paman." Ucap Zayn sebelum berbalik dan menyusul Judy. Didi hanya tersenyum lalu menutup kembali pintu kamar dan menguncinya.


Selin bertanya pada Didi, dan pria itu mengatakan jika putri mereka sedang merajuk. Didi mengajak Selin untuk membersihkan diri. Namun sebelum itu Didi kembali menyerang Selin saat berada dibawah kucuran shower. dinginnya malam itu tak bisa mengalahkan panasnya percintaan mereka. Setelah selesai Selin menggerutu. Ia tampak pucat hingga harus mengaplikasi make up sedikit tebal di wajahnya.


"Jangan cemberut honey!" Bisik Didi.


"Kau keterlaluan .." Gerutu Selin.


"Hei tidak ada yang keterlaluan. Aku sedang mengajarkanmu cara menyenangkan suami." Didi mengecup pipi Selin. Mereka berjalan menyusuri taman bunga Dian. Selin merasa nyaman ketika ada di taman itu. Didi memperhatikan istrinya yang sesaat memejamkan mata menghirup aroma bunga-bunga yang ada di taman itu.


Bersabarlah sebentar lagi. Setelah masalah kita selesai aku akan membawamu ke istana kita. --- batin Didi.


Keduanya tiba dan menjadi pusat perhatian. Pasalnya Didi dan Selin sudah terlambat begitu lama. Gerry hanya menggelengkan kepala melihat rambut Didi yang masih basah.


Didi mengusap tengkuknya tak enak hati. Ia berjalan mendekati Nino yang menggendong putra keduanya.


"Siapa nama jagoan kedua kalian ini?" tanya Didi matanya menatap pergerakan tubuh mungil itu.


"Gino Ataraska Gunawan." Kata Nino. Mengusap pipi kemerahan putra keduanya. Judy masih menatap kesal pada Didi. Namun Zayn bisa mengalihkan perhatian gadis itu. Zafa terlihat sedang menemani Ana memilih beberapa dessert. Perangainya yang begitu lembut membuat siapa pun menyukai Zafa, Dia benar-benar menuruni sifat Dian. Yang sejatinya hanya ibu susunya saja.


⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅


Like nya jangan lupa di tekan. Siang² pada mau ngasih kopi ga sih biar ga ngantuk Othornya.