
********
Ara membuka mata saat cahaya matahari menyilaukan dirinya. Ia tersentak bangun dari tidurnya. Sepertinya dia kesiangan, padahal Ada jadwal bimbingan dari pak Dzaki. Ara mencuci muka dan menggosok gigi. Lalu mandi dan ia mandi dengan cepat kilat. Waktunya tak banyak lagi. Gara-gara ciuman semalam ia tak bisa memejamkan matanya, di tambah laporan yang harus dirinya buat untuk didiskusikan dengan dosennya itu. Ara meraih tas laptop barunya yang Arsen belikan kemarin saat pulang dari kantor. Katanya sebagai penunjang dirinya agar cepat menyelesaikan tugas skripsinya. Ara sama sekali tak menolak karena memang saat-saat ini dirinya memerlukan alat canggih itu.
Setelah memeriksa isi ranselnya. Ara berlari menuruni tangga. Ia melirik kearah meja makan dimana disana ada Arsen yang sedang menikmati secangkir kopi seraya memainkan tablet nya.
"Aa, aku berangkat duluan. Aku udah telat." Ucap Ara seraya melewati Arsen. Namun Arsen buru-buru menahan Ara.
"Aku udah bela-belain nunggu kamu hampir setengah jam, nunggu kamu bangun biar bisa berangkat bareng. Eh malam mau ninggalin aku lagi." Gerutu Arsen memasukkan tablet nya ke dalam tas kerja yang biasa Arsen bawa. Ia meraih jemari Ara dan menggenggamnya erat, membawanya keluar. Pagi yang begitu manis untuk pasangan yang sedang falling in love ini.
Seperti biasa jalanan ibu kota tampak padat. Namun dengan sigap pak Dul bisa mengatasi kendala di perjalanan.
Begitu tiba di depan fakultasnya Ara meraih tangan kanan Arsen dan mencium punggung tangan pria itu dengan takzim.
"Do'ain aku ya Aa, semoga kali ini laporan analisis aku bisa langsung diterima." Ujar Ara, lalu meninggalkan Arsen yang masih terpaku menatap punggung tangannya sendiri."
"Pak Dul lihat ga tadi Ara cium punggung tangan saya?" Tanya Arsen mencoba mengatur detak jantungnya yang semakin menggila.
"Iya bapak lihat mas." Kata pak Dul sambil senyum-senyum. Entah mengapa hanya mendapat perlakuan seperti itu dari Ara membuat hati Arsen begitu senang.
"Ayo jalan pak. Sepertinya hari ini saya ga akan cuci tangan pak biar bekasnya ga hilang." Ujar Arsen. Pak Dul semakin tertawa lebar.
"Mas Arsen nih makin kesini makin ada-ada saja." Celetuk pak Dul. Semua yang supirnya katakan memang ada benarnya. Karena dulu sebelum keadaan keluarga mereka membaik, Arsen adalah pribadi yang dingin dan Arogan. Bukan tanpa sebab semua itu Arsen lakukan. Arsen hanya tidak ingin orang lain masuk ke kehidupannya dan mengasihani dirinya. Atau malah memanfaatkan situasi keluarganya. Tapi semenjak hubungan Arsen dan keluarganya membaik ditambah dengan kehadiran Ara membuat Arsen terlihat seperti manusia pada umumnya.
Sesampainya di kantor Arsen langsung naik masuk ke lift. Dia sepertinya harus memanggil asistennya kembali. Agar memudahkan pekerjaannya disini.
"Selamat pagi pak." Sambut Wanda. Wajah Wanda tak seperti biasa. Lesu dan terlihat tidak sehat.
"Ada apa denganmu?" Tanya Arsen.
"Saya hanya sedikit tidak enak badan pak."
"Jika begitu pulanglah ..! Aku tidak ingin pekerjaanku terhambat hanya karena kamu." Ujar Arsen datar. Wanda hanya menunduk dan mengepalkan tangannya.
"Saya masih bisa mengatasinya pak, terimakasih untuk perhatian anda." Ujar Wanda. Arsen tidak memperdulikan lagi ucapan Wanda dan masuk
.
.
.
Mama Clara sedang berada di butik sahabatnya. Ia sedang melihat beberapa sampel kebaya untuk Ara.
"Kamu lama ga kelihatan, eh sekarang malah mau mantu lagi. Sejak kapan kamu baikan sama anaknya Sendrina?"
"Sudah hampir dua minggu lebih lah jeng. Makanya saya mau buat penutupan yang mewah dan meriah. Eh kira kira yang ini gimana menurut kamu. Kata mama Clara menunjuk kebaya simpel berwarna biru.
" Yang itu juga bagus." kata Ajeng sahabat mama Clara. Akhirnya mama Clara menjatuhkan pilihannya pada dua kebaya berwarna baby pink dan Blue ocean.
"Aku tunjukin ini sama menantuku dulu. Semoga saja dia suka." Kata mama Clara, Ia membawa sampel gambar kebayanya, lalu berpamitan.
.
.
.
Saat Ara berjalan menuju ke mobil ada seseorang yang memanggilnya.
"Tiara .. " Ara langsung menoleh saat namanya di sebut.
"Eh pak Dzaki .. Ada apa pak?" tanya Ara melihat Dosen muda dan tampan itu.
"Mau pulang?"
"Iya pak .. bapak mau kemana?"
"Mau bareng kamu boleh?" tanya Pak Dzaki menatap teduh kearah Ara.
"Maaf Pak, tapi saya dijemput." Ara menunjuk mobil Expander hitam yang tak jauh dari Ara. Wajah pak Dzaki tampak berfikir. Mahasiswi beasiswa itu dari dulu selalu terlihat naik bus jika tidak berjalan kaki kenapa sekarang bisa naik mobil. Apa jangan-jangan dia?
"Pak Dzaki .. Pak!! bapak ga apa-apa?" Ara membuyarkan lamunan dosennya itu.
"Eh iya ga apa-apa kok Tiara. Itu yang jemput kamu siapa Ra?"
"Mungkin pak Dul atau ehm calon suami saya pak." Ujar Ara seraya tersenyum.
"Calon suami?" beo Pak Dzaki.
"Iya pak .. Saya duluan ya pak." Ara tampak sedikit berlari dan benar saja sesosok pria tinggi dan bermata elang menatap Dzaki dengan tatapan tajam. Ara tersenyum saat pria itu mengusap kepala Ara. Pria itu membuka pintu mobil untuk Ara lalu dia berputar dan masuk ke pintu kemudi lalu meninggalkan pelataran fakultas tempat Ara menimba ilmu.
Di dalam mobil wajah Arsen masih tampak datar.
"Aa kenapa? marah lagi iya?"
"Siapa laki-laki tadi?" tanya Arsen tanpa menanggapi pertanyaan Ara.
"Dosen aku .. " Jawab Ara singkat.
"Kamu deket sama dia?" tanya Arsen lagi.
"Kalau aku deket sama pak Dzaki aku ga akan bakalan mau nikah sama aa." Ujar Ara membuang wajahnya kearah samping. Ia memilih melihat pemandangan di luar jendela.
Arsen mengerem mobilnya mendadak. Beruntung mereka sudah hampir memasuki jalan menuju komplek mansion hingga jalanan lengang.
Arsen menatap tajam ke Ara calon istrinya itu.
"Kamu kalo ngomong bisa ga sih bahasanya yang ga ambigu gitu. Maksud kamu ngomong kaya tadi apa Ra?"
"Aa tu jemput aku kalo cuma buat marah-marah sama aku tadi mending ga usah jemput. Kalau punya masalah di kantor jangan marahnya dibawa ke Ara." Ujar gadis itu. Melepas seatbelt nya dengan kasar dan membuka pintu. Ara melompat turun dan berjalan berlawanan arah.
Arsen memukul stir mobilnya dengan keras. Memang benar kata Ara. Suasana hatinya benar-benar buruk gara-gara masalah kantor. Dan terbawa pulang saat melihat Ara berjalan bersama pria lain.
Arsen melepas seatbelt nya dan menyusul Ara Tapi sayang gadis itu sudah tidak nampak. Arsen menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya kasar.
๐ณ๐ณ๐ณ๐ณ๐ณ๐ณ๐ณ
Maaf ya guys kemarin cm up 2 part othor ketiduran.
Biru kan jempolnya. dan jangan lupa othor nungguin kopi dari kalian.