
Jam menunjukkan pukul 7 malam, Niah hanya diam saja sambil menonton televisi. David yang baru saja keluar dari kamar ia bingung ada apa dengan istrinya?
"Sayang, kok diam saja?" Tanya David, ia duduk disebelah Niah.
"Aku lapar!" Jawab Niah dengan manja.
David ingin sekali tertawa tapi ia menahannya karena takut istrinya ngamuk. Dasar Niah kalau lapar kenapa hanya duduk? Bukannya ke dapur mengambil makanan atau cemilan.
"Aku ambilkan makanan dulu ya!" David beranjak dari tempat duduknya, ia pergi ke dapur untuk mengambilkan makanan untuk istrinya.
David mengambil snack dan roti, ia juga membawa dua botol air mineral untuk Niah.
"Makanlah, aku kupasin ya." David mengupaskan salah satu snack yang ia bawa, lalu memberikan pada sang istri.
Niah menerima snack dari tangan suaminya, lalu ia memakannya dengan lahap. Mungkin karena kandungan Niah sudah mau tujuh bulan jadi Niah mulai sering gampang lapar.
David berpindah tempat duduk, sekerang ia duduk dikarpet dibawa istrinya.
"Kamu, mau apa sayang?" Tanya Niah, yang melihat suaminya sudah duduk dibawanya.
Tiba-tiba David menempelkan telinganya pada perut buncit Niah, membuat Niah merasa kegelian.
"Rambut kamu membuatku geli." Niah tertawa, ia menggoyang-goyangkan perutnya karena merasa geli.
"Sayang, diamlah! Aku mau mendengarkan anak kita sedang apa di dalam perut kamu?" Omel David, ia semakin mendekatkan kepalanya pada perut Niah, dan jari-jarinya mengelus-elus perut Niah.
"Anak papa, kamu sedang apa di dalam sana? Cepatlah keluar! Papa sudah tidak sabar ingin bertemu dengan kalian berdua." Kata David pada kedua anak yang masih ada di dalam perut sang istri.
Niah tersenyum, betapa bahagianya ia ternyata suaminya sama seperti dirinya sudah tidak sabar menanti kelahiran buah hatinya.
"Sabar papa, kita pasti akan bertemu secepatnya!" Jawab Niah, ia mengelus-elus rambut suaminya dengan penuh kasih sayang.
David memejamkan matanya, tanpa terasa ia tertidur diperut buncit istrinya.
"Lihat nak papa kalian, dia malah tidur." Niah tersenyum ia mengelus-elus pipi suaminya dan tangan satunya mengelus-elus perutnya.
David yang niatnya ingin menyapa calon anaknya, tapi ia malah ketiduran diperut istrinya, Niah yang tidak tega membangunkan suaminya akhirnya ia juga ikut memejamkan matanya lalu ia juga tertidur.
Niah terlelap begitu nyeyak di sofa, David juga terlelap diperut Niah sambil merasakan perkembangan anaknya di dalam sana.
.
.
.
Kevin dan Valin.
Kevin dan Valin, mereka baru saja pulang dari mall dengan semangat Valin membuka belanjaannya. ia mengeluarkan satu persatu baju tidur yang tadi dirinya pilih.
"Sayang, ini bagus tidak?" Valin menunjukkan salah satu baju tidur pilihannya yang bermotif boneka beruang dan terlihat begitu lucu.
"Valin, kamu itu sudah menikah. Kenapa kamu masih membeli baju tidur seperti anak kecil seperti itu," Protes Kevin, ia geleng-geleng kepala tidak percaya kalau selera istrinya itu seperti anak berusia belasan tahun.
"Sayang, kalau sudah menikah itu belilah baju tidur yang sexy, agar suamimu juga senang, sabar Kevin istrimu memang lemot tapi yang penting dia bahagia." Kata Kevin dalam hatinya.
"Tapi aku suka ini!" Valin memanyunkan bibirnya, membuat Kevin gemas dibuatnya.
"Baiklah, itu juga bagus dan sangat cocok untuk kamu sayang!" Kata Kevin, ia mengalah agar Valin tidak sampai ngambek padanya.
Valin mengabaikan perkataan suaminya, ia sibuk membuka tas belanjaan suaminya.
"Kira-kira apa yang dia beli?" Tanya Valin dalam hatinya.
Ia mengeluarkan belanjaan suaminya lalu ia melihatnya tidak percaya dan langsung tertawa sejadi-jadinya.
"Suamiku, ini apa? Motifnya pisang!" Valin tertawa sambil menunjukkan c*l*na d*l*m bermotif pisang pada suaminya.
"Kenapa, kamu tertawa istriku? Bukankah ini terlihat lucu." Kevin menjulurkan lidahnya, membuat Valin memanyunkan bibirnya Karena kesal.
"Lucu iya lucu, aku saja sampai tertawa." Jawab Valin yang kembali mengeluarkan tawa sejadi-jadinya.
Gara-gara baju tidur dan c*l*na d*l*m yang mereka beli, akhirnya mereka saling berdebat bukannya menikmati alat tempur barunya. Malam ini Valin dan Kevin malah saling kesal-kesalan.
Kenan dan Ralin.
Kenan sedang tiduran diranjang tempat tidurnya, ia sedang menunggu sang istri yang sedang mandi.
"Alin, kamu mau berapa lama lagi? Nanti kamu masuk angin!" Teriak Kenan, karena Valin sudah mandi lebih dari setengah jam tapi belum juga selesai.
"Aku sedang mandi susu, aku juga sedang memakai lulur biar wangi." Sahut Ralin dari dalam kamar mandi.
Kenan mengerti, ia hanya diam karena merasa bosan ia mengambil ponselnya yang ada di atas nakas dekat tempat tidurnya.
"Apakah, wanita semuanya seperti istriku?" Tanya Kenan pada dirinya sendiri.
Ia menggeser-geser layar ponselnya, lalu ia memainkan sebuah games sambil menunggu sang istri, 15 menit telah berlalu tapi ntahlah Ralin masih sibuk dengan urusannya di dalam kamar mandi sana.
Kenan kembali menaruh ponselnya diatas nakas dekat tempat tidurnya, lalu ia berbaring dan memejamkan matanya.
"Lebih baik aku tidur, rasanya sangat mengantuk sekali." Gumam Kenan.
Karena menunggu istrinya yang begitu lama, akhirnya Kenan tertidur begitu pulas sambil memeluk bantal guling.
Setelah urusan di dalam kamar mandi selesei, Ralin keluar dari dalam kamar mandi. Ia sudah membayangkan hal-hal mesum dengan suaminya nanti diatas ranjang tempat tidurnya.
"Sayang, aku sudah luluran aku juga sudah mandi susu, aku siap bertempur malam ini." Kata Ralin panjang lebar, tapi tidak mendapatkan jawaban dari suaminya.
"Kenapa dia tidak menjawab?" Tanya Ralin pada dirinya sendiri, ia melihat suaminya sudah berbaring miring menghadap ke jendela sehingga Ralin tidak tahu suaminya itu sedang tidur atau tidak?
Ralin berjalan mendekat ke tempat tidur, ia mengecek suaminya dan ternyata sudah tertidur begitu pulas.
"Cuma disuruh tunggu sebentar, ini malah ditinggal tidur." Kesal Ralin dalam hatinya.
Akhirnya Ralin langsung pergi berganti pakaian dan setelah selesai, ia langsung membaringkan tubuhnya disamping suaminya. Ia tidur membelakangi suaminya karena merasa kesal.
.
.
.
Vano
Vano masih terjaga, sambil melihat foto dirinya dan Vina.
"Sayang, aku merindukanmu." Vano mencium bingkai foto yang dirinya pegang.
Vina sudah tidak tinggal dirumah Vano, jadi wajar kalau Vano merindukannya. Sekarang Vina menginap di hotel karena jika terus menumpang terus dirumah Vano itu tidak enak jadi Vina putuskan untuk menginap di hotel.
Vina juga takut terjadi sesuatu padanya dan juga Vano. Ya namanya pasangan yang mau menikah takutnya pas rumah sedang sepi sama-sama hilaf.
Malam ini Vano tidur sambil memeluk bingkai foto, yang berisi foto dirinya dan sang kekasih hati.
"Kapan, aku bisa tidur memelukmu Vina?" Tanya Vano pada dirinya sendiri.
Iya pernikahan Vano akan dipercepat, jadi buat Vano dan Vina sabar ya.
BERSAMBUNG 🙏
Terimakasih para pembaca setia 😊