Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya

Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya
289.Rasa takut Ana.


Pelan-pelan Ana membuka matanya, semua orang disitu juga saling terdiam, namun tukang bangunan yang menarik lengan tangan Ana berusaha menenangkan Ana.


"Nona...." kata-kata tukang bangunan terpotong, karena Rama menggelengkan kepalanya.


Lalu tukang bangunan tersebut, mengerti dan langsung menganggukan kepalanya.


Rama langsung menghampiri Ana, lalu berbisik ditelinga Ana.


"Sayang, bukalah matamu! Aku baik-baik saja." bisik Rama ditelinga Ana.


Untung saja tadi salah satu tukang bangunan, langsung mendorong Rama, biarpun Rama terpental namun Rama namun tidak apa-apa, hanya saja mungkin punggungnya terluka, karena Rama terpental dengan posisi terlentang dan Niah berada diatas tubuh Rama, Karena Rama terus memeluk Niah dengan kedua tangannya.


Pelan-pelan Ana membuka matanya, lalu Rama langsung memeluknya.


"Aku takut sekali, jika terjadi sesuatu padamu Suamiku, Aku tidak tahu bagaimana cara Aku menjalani hidup ini." batin Ana, yang memang sungguh takut kehilangan Rama.


"Apa ada yang terluka?" tanya Ana dengan begitu khawatir.


"Mungkin hanya bagian punggung saja." jawab Rama sambil tersenyum memeluk Ana.


Ana melepaskan pelukannya dari tubuh Rama, lalu langsung berkata pada Rama.


"Ayo Kita ke mobil, biar Aku obatin lukamu dulu!" kata Ana dengan begitu lembut.


Ana langsung beranjak dari duduknya, lalu Rama mengikutinya, kini Ana dan Rama langsung menuju ke mobil.


Ana menggendong Kevin sedangkan Rama juga tetap menggendong Niah.


"Aturan Kita pakai baby sitter." keluh Rama.


"Sayang, percayalah padaku Aku bisa mengurus kedua Anakku dengan baik." Ana berusaha menyakinkan Rama.


Sesampainya di mobil, mereka langsung masuk ke dalam mobil.


Ana langsung mengambil kotak p3k yang ada di dalam mobil Rama, kini Ana dan Rama duduk di jok belakang, Rama duduk dengan posisi membelakangi Ana, sambil memangku Niah dan Kevin dipangkuannya.


Sedangkan Ana, membantu Rama membuka jas dan kemejanya, melihat tubuh kekar suaminya membuat Ana tersenyum-senyum sendiri.


"Sayang, Aku jadi ingat sama permainanmu diatas ranjang." gumam Ana yang diiringi dengan senyum dalam hatinya.


Setelah membantu Rama membuka baju, lalu Ana langsung membersihkan luka yang ada dipunggung Rama.


Pelan-pelan Ana membersihkan luka Rama lalu Ana langsung mengobatinya.


"Untung Kamu tidak apa-apa, Aku sudah takut sekali tadi." kata Ana sambil mengobati luka Rama.


"Bapak tukang bangunan itu yang menyelamatkanku." sambung Rama.


"Kita harus mengucapkan terimakasih padanya." kata Ana.


"Iya nanti sebelum pulang, Kita ketemu Dia dulu ya." jawab Rama.


Setelah selesai mengobati luka Rama, Rama kembali memakai bajunya, sedangkan Ana langsung memindahkan kedua Anaknya ke pangkuannya.


Setelah selesa memakai baju, Rama langsung kembali mengambil Niah dari pangkuan Ana.


Mereka langsung turun dari mobil, lalu mereka kembali masuk ke dalam bangunan untuk mengucapkan terimakasih pada tukang bangunan yang menolong Rama tadi.


Melihat Bapak-bapak yang menolongnya tadi kira-kira umurnya sekitar 45 tahun, Rama langsung menghampiri Bapak-bapak tersebut.


"Pak..." panggil Rama dengan begitu sopan.


"Ehh iya Tuan Muda." jawab Bapak tersebut dengan perasaan bingung.


"Ada apa Tuan Muda memanggilku." pikir Bapak tersebut.


"Bapak ayo Kita duduk disana!" pinta Rama.


Akhirnya Rama dan Bapak tersebut, duduk di tempat yang biasa digunakan oleh para tukang istrihat.


"Tapi disini kotor Tuan." kata Bapak tersebut.


"Tidak apa-apa Pak, oh iya nama Bapak siapa?" jawab Rama sambil menanyakan nama Bapak tersebut.


"Nama Saya Pak Arifin." jawab Bapak tersebut.


"Pak Arifin, terimakasih sudah menolong Saya ya, jika tidak ada Bapak tadi Saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada Saya." Rama mengucapkan terimakasih pada Pak Arifin.


"Sama-sama Tuan, Saya juga senang bisa menolong Anda." jawab Pak Arifin sambil tersenyum.


Rama mengambil dompetnya dalam sakunya, lalu mengeluarkan beberapa uang dari dalam dompetnya.


"Ana, sini tas Kamu!" pinta Rama.


Ana langsung memberikan tas yang dibawanya pada Rama, lalu Rama mengambil beberapa lembar uang dari tas Ana.


Rama langsung memberikan uang tersebut pada Pak Arifin.


"Pak Arifin, ini anggap saja rejeki Pak Arifin dari Allah." kata Rama sambil memberikan uang yang ada ditangannya pada Pak Arifin.


"Tidak usah Tuan, saya iklhas membantu Tuan." tolak Pak Arifin.


Namun Rama tetap memaksanya, bukan bermaksud sombong Rama hanya ingin memberikan sedikit rejeki pada Pak Arifin yang sudah berbaik hati menolongnya. Apalagi Pak Arifin sudah menolong Rama dari dalam bahaya.


"Terimakasih Tuan." Pak Arifin mengambil uang dari tangan Rama, sambil mengucapkan terimakasih pada Rama.


"Istriku, Anakku, ini adalah rejeki kalian. Allahamdulillah nanti Anakku juga jadi bisa bayar bulanan sekolahan." rasa syukur dalam hatinya Pak Arifin.


"Sama-sama Pak, Saya dan Istri Saya pamit pulang ya Pak." Rama berpamitan pada Arifin untuk segera pulang.


Pak Arifin melihat Ana tersenyum pada Ana.


"Terimakasih Nona." kata Pak Arifin pada Ana.


"Sama-sama Pak, Saya yang seharusnya berterimakasih pada Bapak, karena Bapak sudah menolong Suami Saya." jawab Ana yang diiringi dengan senyum manisnya.


Setelah berpamitan pada Pak Arifin, Rama dan Ana juga berpamitan pada Pak Eko, kini setelah mereka selesai berpamitan, Rama, Ana dan kedua Anaknya langsung meninggalkan lokasi pembangunan.


Sebelum pulang kerumah Rama mengajak Ana untuk makan siang dulu, karena tadi pagi juga belum sarapan.


Rama dan Ana langsung menaiki mobilnya, lalu Rama langsung menyalakan mesin mobilnya.


"Kita makan siang dulu ya!" kata Rama sambil menyetir mobilnya.


"Iya Suamiku, Aku mau makan yang pedas-pedas." jawab Ana sambil melihat kearah Rama.


Niah yang sedang tertidur dijok belakang, Ana menengok kebelakang untuk mengecek Niah yang sedang tidur.


"Anak Mama pulas sekali tidurnya." gumam Ana sambil tersenyum.


"Jangan makan pedas-pedas dulu, kasian Anak-anak kan masih nyusu!" omel Rama, mengingat Anak-anaknya masih menyusu jadi Rama melarang Ana untuk memakan makanan pedas.


"Iya baiklah, Aku tidak akan memakan makanan pedas." jawab Ana.


Rama memberhentikan mobilnya disebuah restauran, lalu Rama memarkirkan mobilnya.


Rama dan Ana keluar dari mobil, Ana mengendong Kevin sedangkan Rama menggendong Niah.


Kini mereka langsung masuk ke dalam restauran, Ana dan Rama langsung memesan makanan, setelah memesan makanan Rama dan Ana menunggu pesanan makanan mereka datang.


"Untung Anak-anak hari ini tidak rewel sama sekali." kata Ana yang penuh syukur.


"Iya, Kamu adalah istri yang hebat, Kamu bisa mengurus Suami dan kedua Anakmu dengan baik." Rama menuji Ana.


Setelah beberapa lama, akhirnya pesanan makanan mereka datang, kini Rama dan Ana langsung menikmati makan siangnya.


Setelah selesai makan siang, Rama dan Ana langsung pulang menuju kerumahnya.


Sesampainya dirumah, Rama dan Ana langsung masuk kedalam rumahnya.


Melihat Ayu dan Mami Diana sedang mengobrol diruang tamu, Rama dan Ana langsung menghampiri mereka.


"Sayang sudah pulang." tanya Mami Diana.


"Sudah Mi." jawab Ana yang langsung duduk disamping Ayu.


"Sini Kak, biar Kevin sama Aku!" pinta Ayu, melihat wajah lelah Ana, Ayu langsung meminta Kevin dari pangkuan Ana.


Ana langsung memberikan Kevin pada Ayu, lalu Rama juga memberikan Niah pada Mami.


"Mi, Aku titip Niah ya! Aku mau mandi dulu." kata Rama sambil menaruh Niah dipangkuan Maminya.


Mami Diana hanya tersenyum, lalu langsung mencium pipi Niah.


"Cucu nenek, pasti Kamu capek ya." kata Mami Diana pada Niah.


Rama dan Ana langsung pergi menuju ke kamarnya, namun sebelum berjalan menuju rumahnya tiba-tiba Ayu perutnya mulas.


"Mi, kok perut Ayu tiba-tiba mulas gini ya?" tanya Ayu sambil mengelus perutnya.


Mengingat lahiran Ayu masih beberapa hari lagi, namun mendengar Ayu merasakan mulas pada perutnya, membuat semuanya khawatir.


"Apa Ayu mau melahirkan?" tanya Rama.


"Kita bawa kerumah sakit saja!" jawab Mami Diana.


Akhirnya Ayu langsung dibawa kerumah sakit oleh Rama, kini Mami Diana dan Ana juga ikut kerumah sakit.


Ditengah jalan Ana langsung menelpon Rehan, untuk segera datang kerumah sakit.


Sesampainya dirumah sakit, Ayu langsung dibawa ke ruang UGD, lalu Mami Diana, Rama dan Ana, menunggunya diruang tunggu.


Niah dan Kevin juga ikut, Karena dirumah juga tidak ada orang jadi mereka terpaksa diajak.


Rehan yang masih dikantor, langsung bergegas untuk segera menuju kerumah sakit.


"Sayang, Aku akan segera datang." gumam Rehan dengan persaan begitu khawatir.


Bersambung 🙏


Terimakasih para pembaca setia 😊


Baca juga Kakak-kakak karya teman Asti.