Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya

Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya
252. Ulang tahun Silvia.


Malam hari kemudian, malam ini Rama dan yang lainnya berkumpul didepan rumah Silvia untuk merayakan kepindahan mereka dirumah barunya. sekaligus untuk merayakan ulang tahun Silvia.


Dirumah baru Silvia dan Rian.


Rian sudah menyiapkan makan malam untuk acara malam ini, Rian memesan semua makanan dari restauran karena biar cepat, Rian juga sudah menyiapkan kue tart untuk kembali memberikan kejutan pada istrinya dihadapan teman-temannya, biar bagaimanapun Rian juga ingin membuat ulang tahun Silvia berkesan.


berbagai cemilan dan minuman juga sudah Rian siapkan, untuk mereka berkumpul malam ini.


Semuanya sudah berkumpul dihalaman depan rumah Silvia.


Bahkan Rian sengaja menyuruh orang suruhannya untuk menghias halaman rumahnya, untuk berkumpul mereka malam ini.



Mereka semua duduk ditempat yang sudah disediakan oleh Rian.


"Enak nih, buat tempat ngengibah" kata Rehan, yang langsung duduk disalah kursi disebelah Ayu duduk.


"Pikiranmu Han, ngengibah mulu udah kaya emak-emak komplek aja" saut Bagas, yang kini duduk sudah merebahkan kepalanya dipangkuan Alena.


Alena mengusap-usap rambut Bagas dengan tangannya.


"Lama-lama bukan kita ya ibu-ibu yang ngengibah, tapi Rehan dan yang lainnya" saut Via, yang sekarang sudah duduk sambil menyandarkan kepalanya di bahu Rian.


"Aku mau duduk di ayunan saja" kata Ana pada Rama.


Rama membantu Ana duduk, setelah Ana duduk Rama duduk dibawah Ana sambil merebahkan kepalanya dipaha Ana.


"Kak Rian, nonton bareng lagi dong mumpung lagi ngumpul" saran Rehan.


"Nonton flim romantis ya." saut Bagas.


"Boleh, Aku sudah punya Istri ini jadi tidak ketar-ketir sendirian kaya waktu itu" kata Rehan, yang mengingat waktu mereka nonton bareng waktu Rehan belum menikah.


Alena hanya menggelengkan kepalanya, biar bagaimanapun Alena sudah paham dengan suaminya.


"Pasti pikiranmu mesum."Celetuk Alena.


"Sedikit sayang." jawab Bagas, sambil mencubit hidung Alena.


"Kalau kalian mau nonton, nonton saja." kata Rian.


"Vi, Aku ke kamar mandi dulu ya." pamit Rian.


Via mengangkat kepalanya dari bahu Rian, lalu Rian beranjak dari tempat duduknya untuk pergi ke kamar mandi.


"Jangan lama-lama." kata Via, yang sudah melihat Suaminya berjalan menuju kamar mandi.


Setelah Rian sampai didalam rumahnya, sebenarnya Rian tidak ke kamar mandi melainkan ke depan rumahnya, untuk menerima pesanan kue tartnya yang baru saja diantar.


"Selamat malam, dengan Pak Rian?" tanya pengantar kue.


"Iya Pak, Saya Rian" jawab Rian.


Tukang kue tersebut memberikan kue tart yang sudah dikemas dengan begitu baik, kepada Rian.


"Ini Pak, kue pesanan Anda."kata pengantar kue.


"Terimakasih Pak." kata Rian, sambil memberikan tips kepada Bapak pengantar kue tersebut.


"Tidak usah Pak" pengantar kue menolak tipsnya.


"Ambil saja Pak, tidak apa-apa." kata Rian.


Akhirnya Bapak pengantar kue menerima tips dari Rian, sedangkan Rian langsung pergi masuk kedalam rumah.


Didalam rumah Rian langsung memasang lilin-lilin kecil diatas kue, lalu langsung membawanya menuju ke Silvia dan teman-temannya berkumpul.


Rian berjalan menuju halaman sambil menanyikan selamat ulang tahun, Rian merongok saku celananya mengecek hadiah untuk Silvia.


"Semuanya sudah siap" gumam Rian.


"Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun Istriku." Rian bernyanyi lalu duduk menunduk dihadapan Silvia.


Silvia langsung tersipu malu, bahkan pipinya sekarang sudah seperti kepiting rebus.


"Via, Kamu ulang tahun?" tanya Alena.


"Kak Rian, kenapa Kamu tidak memberitahukan pada Kita semua?" tanya Ana yang mewakili semuanya.


Via melihat kearah Alena, lalu menganggukan kepalanya.


"Ana, Kenapa Aku mengundang kalian semuanya kesini Aku ingin Silvia merayakan ulangtahunnya bareng kita semua disini" jawab Rian.


"Tapi maaf, Aku tidak memberitahukan kalau Via ulang tahun hari ini" kata Rian, yang merasa bersalah.


"Sudah-sudah tidak apa-apa, bisa kumpul seperti ini saja dan merayakan ulang tahun bersama Kalian semuanya Aku sudah sangat bahagia." kata Silvia, sambil tersenyum bahagia.


"Tiup lilinnya sayang." pinta Rian.


Via berdoa.


"Mudah-mudahan persahabatan ini akan selamanya seperti ini" doa Silvia dalam hati.


Setelah selesai berdoa, Via langsung meniup lilinnya, lalu memotong kuenya Via memberikan suapan pertama pada Suaminya, lalu Via berputar untuk menyuapkan kue ke mulut sahabat-sahabatnya.


Setelah selesai, kini semuanya mengucapakan selamat ulang tahun dan memberikan doa untuk Silvia.


"Vi, selamat ulang tahun, mudah-mudahan Kamu selalu diberikan kebahagiaan didalam hidupmu." ucapan selamat dari Alena, serta doa dari Alena.


"Terimakasih Len." jawab Via, sambil tersenyum.


"Selamat ulang tahun Vi." ucapan dari Rama.


"Hanya itu, Kamu tidak mendoakan untuk kebahagiaanku Ram? sahabat macam apa Kamu ini?" protes Via.


"Doanya dalam hati saja, biar tidak ada yang tau" saut Rama, sambil tertawa.


"Kak Via, Rehan doakan Kak Via dan Kak Rian punya 12 Anak." doa Rehan untuk Via.


Mendengar doa dari Rehan, semuanya tertawa.


"Terimakasih Rehan, biar satu lusin ya. ntar Aku bagi Kamu satu deh." jawab Via, sambil melempar tissu kearah Rehan.


"Bayangin saja Vi, kalau Anak Kamu 12" kata Bagas, yang sudah ntah kemana bayangannya.


"Jangan dibayangkan bodoh, dibikin saja belum." omel Rian, sambil tertawa.


"Ayu, Ana, apa doa kalian untukku?" tanya Via.


"Aku doakan mudah2an keluarga kecil Kamu bahagia selalu Vi." Doa Ana untuk Via.


"Lalu Kamu Yu, jangan bilang doamu sama dengan Suamimu yang gila itu." protes Via.


"Aku doakan, mudah-mudahan Kamu sehat selalu dan Anak yang dikandungmu juga sehat selalu." doa Ayu untuk Via.


"Terimakasih, Ana, Ayu." kata Via, sambil tersenyum bahagia.


Via melirik kearah Bagas.


"Aku doanya sama kaya Rehan saja." kata Bagas.


"Dasar kalian ini." jawab Via, yang langsung melempar tissu kearah Bagas.


Sekarang giliran Rian, yang mengucapkan selamat ulang tahun pada Via.


"Sudah sayang, mereka memang seperti itu." kata Rian.


"Aku punya sesuatu untukmu." kata Rian.


Rian mengerogok saku celananya, lalu mengeluarkan kotak kecil dan membukanya dihadapan Silvia.


"Ini untukmu." kata Rian.


Melihat dikotak itu isinya, anting yang selama ini Via inginkan, Via langsung tersenyum lalu mengambil kedua anting yang ada didalam kotak kecil tersebut.


"Inikan anting yang Aku inginkan," kata Via, sambil terus melihat anting yang begitu berkilau.


Via memberikan anting tersebut pada Rian, lalu Rian menerimanya.


"Pakaikan sayang!" pinta Via.


Rian langsung memakai anting tersebut ditelinga Silvia.


"Cantik.." puji Rian, sambil tersenyum.


"Terimakasih Suamiku, terimakasih semua sahabat-sahabatku. malam ini adalah malam yang bahagia karena setelah kepergian Orangtuaku Aku tidak pernah lagi merayakan ulang tahunku dan malam ini Aku bisa merayakan bareng Suamiku dan semua sahabat-sahabatku, Aku bahagia sekali." kata Silvia, yang sudah meneteskan air mata kebahagiaannya.


Rian langsung menarik Silvia kedalam pelukannya.


"Mulai sekarang, Aku yang akan selalu mengingat hari ulang tahunmu sayang." kata Rian, sambil terus memeluk Via.


Via malam ini hanya bisa menangis bahagia.


"Kita semua juga akan selalu mengingat hari ulang tahunmu Vi, kita ini sahabat jadi akan selalu ada buat Kamu." kata Rama yang mewakili semuanya.


"Benar Vi." kata Alena.


Setelah selesai merayakan ulang tahun Silvia, mereka semua masuk kedalam rumah Silvia untuk makan bersama yang sudah disiapkan oleh Rian.


Malam ini Via bahagia, karena setelah kepergian Orangtuanya Silvia tidak pernah lagi merayakan ulangtahunnya.


Dan malam ini bisa merayakan bareng Suami Dan semua sahabat-sahabatnya.


Bersambung 🙏