Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya

Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya
312.Rasa kawatir Ana S2.


Dikamar Niah.


Niah membuka album foto yang berisi foto-foto dirinya dengan Riko.


"Maafkan Aku, Mudah-mudahan Kamu secepatnya menemukan pengantiku." Gumam Niah, Yang sudah tidak bisa menahan air matanya.


Niah merebahkan tubuhnya diatas kasur, Sambil memeluk ablum kenangan dengan Riko, Hingga Niah tertidur.


Keesokan harinya, Ana mengetuk pintu kamar Niah karena sudah jam 7 pagi Niah belum bangun.


"Niah tumben sekali jam segini belum bangun, Apa Niah melakukan hal bodoh gara-gara putus dengan kekasihnya." Batin Ana.


"Ma, Mama kenapa?" Tanya Kevin sambil menggoyangkan punggung Ana.


"Mama hanya kepikiran dengan kakakmu, Tumben Kakakmu belum bangun jam segini." Jawab Ana dengan raut wajah yang begitu kawatir.


Rama baru saja keluar dari kamarnya, Lalu Rama menarik kursi meja makan lalu duduk, Melihat Niah tidak ada dimeja makan. Rama langsung bertanya pada Ana.


"Sayang, Mana Niah?" Tanya Rama pada Ana.


"Kevin, Kamu temenin Papa sarapan dulu ya, Mama mau mengecek ke kamar Kakakmu." Pinta Ana pada Kevin, Lalu Ana langsung pergi meninggalkan Kevin dan Rama dimeja Makan.


Kini Kevin dan Rama hanya menikmati sarapan pagi berdua, Sedangkan Ana sedang menuju ke kamar Niah.


"Mudah-mudahan Niah tidak sampai melakukan hal bodoh." Doa Ana dalam hatinya.


"Mama kenapa sih Pa?" Tanya Kevin pada Rama, Dengan tatapan wajah bingung.


"Mamamu sedang menghawatirkan putrinya." Jawab Rama dengan santai.


Rama tahu Niah itu tidak akan berbuat bodoh apalagi sampai bunuh diri atau minum racun gara-gara putus hubungan dengan pacar, Rama paham benar seperti apa putrinya. Namun tidak bagi Ana, Ana selalu berpikir macam-macam dan takut terjadi sesuatu dengan putri kesayangannya.


Ana mengentuk pintu kamar Niah dengan pelan, Namun Niah tidak bangun juga akhirnya Ana memperkeras ketukan pintunya.


"Tok...tok...tok.... Niahhhh." Teriak Ana sambil mengetuk pintu.


Karena Niah merasa terusik, Akhirnya Niah Bangun dari tempat tidurnya untuk membukakan pintu kamarnya.


"Mama berisik sekali sih pagi-pagi." Batin Niah.


Niah berjalan menuju pintu kamarnya, Lalu membukanya.


"Ceklek." Niah membukakan pintu untuk sang Mama.


Melihat sosok Niah masih baik-baik saja, Membuat hati Ana merasa sangat lega sekali.


Ana langsung memeluk Niah, Lalu berkata pada Niah.


"Kamu baik-baik saja kan Nak?" Tanya Ana dengan nada kawatir.


"Mama, Tentu saja Niah baik-baik saja." Jawab Niah, Yang memang dirinya baik-baik saja.


"Mama, Takut sekali Kamu melakukan hal bodoh gara-gara Kamu putus dengan kekasihmu itu." Kata Ana, Yang langsung melepaskan pelukannya dari Niah.


Ana melihat wajah Niah dengan teliti, Sampai Ana melihat mata Niah seperti mata panda.


"Apa Kamu menangis?" Tanya Ana sambil memegang kedua pipi Niah.


Niah menarik nafasnya, Lalu menghembuskannya dengan pelan.


"Mama, Kita duduk dulu." Kata Niah dengan suara pelan.


Ana langsung melepaskan tangannya dari pipi Niah, Lalu Niah kembali menutup pintu kamarnya.


Kini Niah dan Ana sudah sama-sama duduk ditepi ranjang, Niah langsung memeluk tubuh Ana dengan begitu erat.


"Mama, Papa jahat, Papa tega nyuruh Niah ninggalin Riko padahal Niah sayang sekali dengan Riko." Keluh Niah, Dipelukan Ana.


Ana tahu bagaimana perasaan Niah saat ini, Karena dulu Ana juga pernah merasakan hal yang sama, Yaitu disuruh ninggalin seseorang yang Ana sayang dan yang menyuruhnya tidak lain adalah Ibu dari laki-laki itu.


"Niah, Jangan bilang seperti itu! Riko jelas-jelas laki-laki tidak baik, Itulah mengapa Papamu menyuruhmu meninggalkannya." Jawab Ana yang berusaha memberikan pengertian pada Anak perempuannya.


Padahal Rama sudah menunjukkan bukti, Kalau Riko itu laki-laki tidak baik tapi tetap saja Niah itu tidak mau tahu.


"Lalu, Apa laki-laki yang dijodohkan denganku itu laki-laki baik-baik Ma?" Tanya Niah dengan lantang, Sambil melepaskan pelukannya dari tubuh Ana.


"Mama yakin Dia pasti laki-laki baik." Tegas Ana pada Niah.


Niah langsung terdiam, Kini pikirannya kacau, Namun Niah juga tidak bisa menolak keputusan sana Papa, Karena takut Riko kenapa-kenapa..


"Iya terserah Mama dan Papa saja." Jawab Niah dengan begitu pasrah.


Sudahlah mau laki-laki yang dijodohkan dengan dirinya baik atau tidak, Niah hanya bisa pasrah menerimanya dengan lapang dada dan iklhas.


"Sudah, Kamu mandilah terus sarapan!" Suruh Ana pada Niah.


Setelah Niah masuk kedalam kamar mandi, Ana langsung keluar dari kamar Niah, Lalu kembali ke meja makan.


"Mana Niah?" Tanya Rama.


"Dia sedang mandi, Kevin sudah sarapan Nak?" Jawab Ana, Sambil bertanya pada Kevin.


"Sudah Ma, Kevin berangkat dulu ya Ma, Pa." Pamit Kevin kepada kedua orangtuanya.


"Iya Kamu hati-hati ya Nak." Jawab Ana, Kevin langsung menyalami tangan kedua orangtuanya secara bergantian.


"Vin, Cepatlah bawa kekasihmu kerumah kenalkan pada Papa dan Mama!!" Pinta Rama, Yang membuat Kevin hanya terkekeh.


Apalagi Kevin yang memang belum punya kekasih, Ntah wanita mana yang mau Dia kenal pada kedua orangtuanya itu membuat Kevin bingung.


"Kak Niah dulu aja Pa! Kevin nanti tunggu Kak Niah nikah dulu." Jawab Kevin sambil melirik Niah, Yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Apa Kamu lihat-lihat." Kesal Niah yang melihat Kevin meliriknya.


"Disuruh nikah itu Kak sama Papa." Ledek Kevin dengan senyum jailnya.


Niah terus menatap Kevin dengan tatapan kesal, Namun Ana dan Rama hanya tersenyum melihat tingkah kedua Anaknya.


"Sudah-sudah, Kevin cepatlah berangkat ke kantor nanti Kamu terlambat dan Niah Kamu cepat sarapan Kamu kan belum makan dari semalam." Kata Ana kepada kedua Anaknya.


Gara-gara putus dengan Riko semalam, Niah sampai tidak makan karena langsung masuk ke dalam kamar.


"Vin, Segeralah cari istri, Kakakmu juga akan segera menikah." Kata Rama pada Kevin, Yang membuat Kevin begitu terkejut.


Kevin hanya diam saja.


"Siapa laki-laki yang akan menikah dengan Kak Niah, Perasaan Kak Niah tidak pernah membawa laki-laki kerumah." Pikir Kevin.


Kevin langsung keluar dari rumah, Lalu langsung menaiki mobilnya menuju ke kantornya.


Ana, Rama dan Niah, Mereka langsung melanjutkan sarapan mereka.


"Niah, Nanti malam kita bertemu dengan keluarga calon suamimu." Kata Rama tiba-tiba, Membuat Niah terdesak.


Ana langsung menyodorkan segelas air putih untuk Niah, Lalu bilang kepada Niah.


"Hati-hati Nak." Kata Ana dengan lembut.


"Papa membuatku kaget Ma." Jawab Niah.


"Istriku, Nanti dandanin Niah secantik mungkin! Kalau perlu panggil perias terbaik kerumah!" Suruh Rama pada Ana.


Ana hanya bisa menghela nafasnya, Mengingat suaminya dulu hanya demi dirinya menjadi cantik harus menghabiskan puluhan juta rupiah.


"Tidak perlu memanggil perias kerumah, Nanti Niah dandan sendiri Pa." Tegas Niah dengan agak kesal.


"Baiklah anak Papa, Dandan yang cantik ya biar calon suamimu senang." Jawab Rama dengan nada meledek, Membuat Niah langsung menatap Papanya dengan tatapan kesal.


Ana hanya tertawa kecil, Melihat suaminya meledek anak perempuannya.


"Niah sebentar lagi Kamu akan menikah dan ikut Suamimu, Pasti nanti Papamu akan merindukan saat-saat kalian berdebat seperti ini." Gumam Ana, Sambil melihat anak dan suaminya saling melempar tatapan kesal.


Setelah selesai sarapan Rama dan Ana pergi ke ruang keluarga, Sedangkan Niah kembali masuk ke dalam kamarnya.


Di dalam kamar Niah hanya mengambil tas saja, Lalu kembali keluar untuk berpamitan dengan Papa dan Mamanya. Namun sebelum sempat berpamitan Rama melarang Niah untuk pergi kemana-mana.


"Niah, Hari ini Kamu tidak boleh pergi kemana-mana, Ayo pergi dengan Papa dan Mama mencari gaun untuk acara pertemuan keluarga nanti malam." Kata Rama dengan nada tegas.


"Pa, Gaun Niah kan masih sangat banyak dilemari jadi tidak usah membeli lagi Pa! Niah mau pergi ngajar juga diperpustakaan." Tolak Niah dengan alasan yang tepat.


Niah sengaja membuat alasan tersebut, Karena sebenarnya Niah malas untuk berdandan cantik dihadapan laki-laki yang akan dijodohkan dengannya.


"Niah, Papa tidak suka menerima penolakan jadi Kamu harus nurut sama Papa." Jawab Rama dengan tegas, Sambil menatap tajam kearah Niah.


Niah mau kembali menjawab, Namun dengan cepat Ana langsung menjawabnya.


"Suamiku sudahlah! Niah menurutlah dengan Papamu!" Tegas Ana pada Niah.


Akhirnya Niah hanya diam lalu menganggukan kepalanya.


"Percuma bicara dengan Papa." Gumam Niah dengan pasrah.


Akhirnya Rama, Ana dan Niah, Langsung menuju ke butik langganannya untuk mencari gaun untuk Niah pakai nanti malam.


Tunggu nanti malam ya, Niah akan secantik apa, Dengan gaun pilihan sang Papa.


Bersambung 🙏


Terimakasih para pembaca setia 😊