
Sesampainya dirumah.
Ana dan Rama langsung masuk ke dalam rumahnya, Mereka langsung menuju ke kamar Ana dan Rama langsung membaringkan Anak-anaknya diatas tempat tidurnya.
Sedangkan Rama kembali ke mobilnya untuk mengambil belanja yang ma ada di dalam mobilnya.
Setelah mengambil semua belanjaannya, Rama kembali ke kamarnya kini tangan Rama penuh dengan tentengan belanjaan.
Rama menaruh semua belanjaannya dilantai sampai tempat tidurnya, lalu setelah menaruh semua belanjaannya Rama langsung merebahkan tubuhnya disamping Anak-anaknya tidur.
"Aduh sayang, badanku capek sekali." keluh Rama dengan raut wajah yang begitu lelah.
Ana terus menatap wajah Rama yang begitu terlihat kelelahan, lalu Ana membelai pipi Rama dengan tangannya.
"Bagaimana tidak lelah, Kamu belanja dengan begitu antusias." jawab Ana sambil terus membelai pipi Rama dengan tangannya.
"Ntahlah, hari ini Aku begitu kalap, salah istriku tidak pandai menghabiskan uangku jadi Aku yang menghabiskan uangku sendiri." kata Rama sambil mengambil tangan Ana yang ada di pipinya, lalu menciumnya.
Ana hanya tersenyum, Ana sadar biarpun Ana punya suami seperti Rama yang punya uang banyak, harta yang berlimpah, namun tetap saja Ana hanya wanita biasa dan tidak suka menghambur-hamburkan uang suaminya, namun ada kalanya Ana matre sama suaminya sih kalau memang Ana sedang menginginkan suatu yang benar-benar diriya inginkan.
Lagian biarpun Ana tidak pandai menghabiskan uang suaminya, tapi kalau ingat Ana pernah matre sama suaminya dan mintanya tidak tanggung-tanggung, satu set perhiasan yang harganya miliaran.
"Dasar Kamu ini, pergilah mandi! nanti Aku pijitin selesei mandi." cetus Ana, sambil menyuruh suaminya segera mandi.
Mendengar Ana mau memijat dirinya, Rama langsung cepat bangun dari tidurnya lalu menuju ke kamar mandi, sedangkan Ana melihat kearah Anak-anaknya yang sedang tertidur nyenyak.
Ana duduk disofa yang ada dikamarnya, lalu menyalakan televisi, Ana melihat ponselnya lalu membuka galerinya diponselnya.
Ana terus menggeser layar ponselnya dan tidak sengaja melihat foto dirinya bersama kedua sahabatnya yaitu Dimas dan Kevin.
"Vin, Aku merindukanmu, Aku tidak menyangka Kamu akan begitu cepat meninggalkanku." kata Ana yang sudah menetaskan air matanya.
Ana membuka salah satu akun sosial medianya, lalu mengecek kapan terakhir Dimas aktif dan ternyata akun sosial media Dimas sudah tidak aktif begitu lama.
"Dim, sebenarnya Kamu dimana? Kenapa Kamu tidak pernah memberikan kabar padaku?" gumam Ana sambil terus menggeser layar ponselnya.
Iya selama ini Dimas memang tidak ada kabar, bahkan Ana pernah mencoba mengirim pesan tidak pernah ada balasan dari Dimas, ntah bagaimana kabar Dimas, yang jelas Ana tidak pernah tahu, bahkan Dimas juga tidak Tahu tentang meninggalnya Kevin.
Ntah Dimas masih hidup atau tidak hanya Authornya yang tahu.
Setelah beberapa lama di dalam kamar mandi, Akhirnya Rama keluar dengan tubuh yang masih berbalut handuk.
"Sayang, Aku udah selesai." kata Rama.
Namun Ana tetap diam tanpa menjawab perkataan dari Rama, Rama berjalan menuju kearah Ana yang sedang duduk di sofa lalu Rama memegang pundak Ana.
"Sayang." panggil Rama pelan.
Ana langsung menoleh, melihat buliran air mata membasahi Istrinya membuat Rama merasa sangat bingung, karena tadi pas Rama masuk ke dalam kamar mandi Ana masih baik-baik saja.
"Kamu kenapa menangis?" tanya Rama pelan.
"Aku merindukan Kevin dan Dimas." jawab Ana yang akhirnya tangisnya pecah.
Rama langsung duduk disamping Ana, lalu menarik Ana ke dalam pelukannya.
"Kita doakan Kevin bahagia dialam sana ya." suruh Rama sambil mengusap rambut Ana.
"Apa Dimas, masih belum memberikan kabar padamu?" tanya Rama pelan.
Namun Ana tidak menjawabnya, Ana terus menangis karena teringat kedua sahabatnya yang begitu baik pada dirinya.
"Sudah jangan menangis, Kita doakan mudah-mudahan Dimas baik-baik saja diluar negeri sana." pinta Rama sambil terus menenangkan Istrinya.
Rama menghapus air mata Ana, lalu berkata pada Ana.
"Bukankah malam ini Kita mau membagikan barang belanjaan Kita pada Vano, Kenan dan Ralin, sekarang Kamu pergilah mandi biar cantik!" pinta Rama sambil berusaha menghibur Istrinya.
Ana langsung melepaskan dirinya dari pelukan Rama, lalu langsung menuju ke kamar mandi sedangkan Rama langsung pergi berganti pakaian.
Setelah berganti pakaian Rama langsung mengambil ponselnya, lalu langsung mengabari Rian, Bagas dan Rehan agar datang kerumahnya malam ini, tapi sayangnya malam ini Rian tidak bisa datang karena mau mengajak Istri dan Anaknya makan malam sesuai permintaan Via.
Ana baru saja keluar kamar mandi, kini Ana langsung berganti pakaian, setelah selesai ganti pakaian, Ana langsung memandikan Anak-anaknya yang sudah bangun dari tidurnya.
Rama juga ikut membantu Ana, menggantikan pakaian Anaknya.
"Sayang, kita pakaikan baju ini ya pada Niah." kata Rama sambil menunjukkan setelan baju berwarna kuning.
"Iya, pakaikan saja." jawab Ana yang juga sedang memakaikan baju pada Kevin.
Setelah beberapa lama, Akhirnya selesei kini Niah sudah cantik dengan baju bewarna kuning, Kevin juga sudah tampan dengan baju berwarna biru.
Hari sudah malam rembulan juga bersinar terang, kini Rama dan Ana duduk dikursi yang ada di depan rumahnya bersama kedua Anaknya dan suaminya.
"Malam ini begitu terang, rembulannya begitu indah." kata Ana sambil terus menatap indahnya rembulan malam ini.
"Iya rembulannya indah, seperti wajahmu sayang." gombal Rama membuat Ana senyum-senyum.
Bagas,Alena, Rehan dan Ayu. tiba-tiba mereka datang, melihat Ana dan Rama seperti orang sedang pacaran, Rehan langsung menjailnya.
"Rembulan itu cantik seperti wajah Kak Ana." kata Rehan dengan jail.
Rama langsung menoleh kearah suara, lalu langsung berdecak kesal.
"Dasar Kamu ini lalat penganggu!" omel Rama sambil melihat kearah Rehan.
Siapa yang tidak merasa kesal sedang asik main mesra-mesraan, main gombal-gombalan dengan Istri ehh si Rehan menjadi lalat penganggu.
"Sudahlah, lanjutkan nanti saja pacaran Tuan Rama." pinta Bagas sambil menyunggingkan senyum jailnya.
"Kalian datang disaat yang tidak tepat!" cetus Rama yang langsung bangun dari tempat duduknya.
Ana juga ikut bangun dari tempat duduknya, lalu langsung mengajak Rehan, Bagas, Alena dan Ayu masuk ke dalam rumahnya.
Kini mereka semua langsung berjalan menuju ke ruang tengah, lalu semuanya duduk di sofa ruang tengah.
"Kenapa menyuruhku kesini Kak?" tanya Rehan.
"Untuk membagikan ini." jawab Rama sambil melihat paper bag yang ada diatas meja.
"Ini apa Kak?" tanya Rehan sambil melihat paper bag-paper bag yang ada dihadapannya.
"Ini untuk Ralin dan Ini untuk Kenan." kata Rama sambil memberikan paper bag satu pada Bagas dan satu pada Rehan.
Bagas dan Rehan langsung membuka paper bag tersebut, lalu mengeluarkan isinya di paper bag Rehan berisi 3 setel baju, mainan dan 3 pasang sepatu kecil yang begitu lucu, bahkan ada berbagai macam jepitan untuk Ralin. padahal Ralin saja rambutnya belum tumbuh dengan lebat.
"Kak terimakasih ya, ini semuanya lucu-lucu sekali." Ayu mengucapkan terimakasih pada Rama, sambil memegang jepitan hello Kitty yang begitu lucu.
"Pasti akan cantik jika nanti dipakai sama Ralin." pikir Ayu dalam hatinya.
"Sama-sama Adik Iparku." jawab Rama sambil tersenyum.
Bagas membuka paper bag, lalu mengeluarkan isinya ada 3 setel baju, sepatu 3 pasang, bahkan ada main mobil-mobilan padahal Kenan saja belum bisa bermain.
"Terimakasih Tuan Rama." Bagas mengucapkan terimakasih pada Rama.
"Sama-sama Gas." jawab Rama sambil tersenyum.
"Tunggu ini masih ada paper bag satu lagi Kak?" tanya Rehan pada Rama.
"Itu untuk Rian, cuma katanya Dia ada acara makan malam bersama sang Istri." jelas Rama.
Iya Rian dan Via malam ini tidak bisa datang, karena sedang pergi makan bersama.
Setelah selesai membagi barang-barang yang tadi dibelinya, kini mereka asik mengobrol sambil bercanda.
Rian dan Via.
Rian dan Via malam ini sedang makan malam romantis disebuah restauran yang tidak terlalu jauh dari rumahnya.
"Kamu suka dengan tempatnya?" tanya Rian.
"Aku suka, terimakasih suamiku." jawab Via sambil mengucapkan terimakasih pada suaminya.
"Sama-sama Istriku." jawab Rian.
Makan malam, malam ini dibuat seromantis mungkin oleh Rian.
Bahkan meja yang Rian pesan sudah dihiasi lilin-lilin cantik, bahkan Rian juga membawa buket marah merah untuk Via.
"Kamu yang menyiapkan semua ini?" tanya Via sambil melihat apa yang ada dihadapannya.
"Tentu, Aku memesan semua ini khusus untuk Istriku tercinta." jawab Rian yang diiringi dengan senyum bahagianya.
Via hanya tersenyum, Malam ini hatinya begitu bahagia.
Beruntung Via punya suami seperti Rian, perhatian, setia, bahkan apapun yang Via minta selalu dituruti.
Malam ini makan malam Rian dan Via, terasa sangat bahagia apalagi makan malam di malam ini ada Vano yang menambah kebahagiaan keluarga kecil mereka.
Bersambung 🙏
Terimakasih para pembaca setia 😊
Baca juga ya karya teman Asti 😊