Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya

Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya
292.Rehan Suami siaga.


"Dasar Kamu ini." omel Rehan.


"Mirip tetangga, bikinnya saja sama Bapaknya." gumam Ayu.


Malam semakin larut, Ayu dan Rehan langsung tidur karena Ralin juga sudah tidur, Ayu sengaja tidak menaruh Ralin di BOK Bayi karena takut Ralin menangis tidak terdengar.


Sedang enak tidur tiba-tiba Ralin menangis.


"Eaahh..ahh.. eeeahh.. aaa." suara tangisan Ralin.


Ayu terbangun dari tidurku, lalu langsung menyusui Ralin namun Ralin masih tetap menangis.


"Sayang, bangun nanti Aku mengecek pampers Ralin!" pinta Ayu sambil menggoyangkan tubuh Rehan yang sedang tidur.


Rehan bergulat lalu pelan-pelan, membuka matanya.


"Kenapa sih sayang?" tanya Rehan dengan suara masih mengantuk.


"Tolong cek pampres Ralin, Aku mau bangun tapi agak nyeri dibagian Operasi kemarin." Ayu minta tolong pada suaminya karena bekas operasi Caesar kemarin terasa nyeri.


Rehan langsung memasangah wajah Panik, lalu bertanya pada Ayu.


"Apa Aku harus membawamu kerumah sakit sekarang sayang?" tanya Rehan dengan nada panik.


"Tidak usah, Kamu cukup bantu Aku mengurus Ralin untuk sementara ya sampai Aku pulih." Ayu berusaha menyakinkan Rehan.


Rehan langsung bangun dari tidur, lalu mengambil alih Ralin dari tangan Ayu.


"Siap Mama, sini biar Papa yang mengurus Ralin cantik." jawab Rehan dengan penuh semangat.


Rehan langsung membaringkan Ralin diatas tempat tidurnya, lalu Rehan mengecek pampers Ralin dan ternyata baner pampers Ralin sudah sangat basah dipenuhi dengan pipis Ralin, mungkin ini yang membuat Ralin menangis dan tidak nyaman saat tidur.


Akhirnya Rehan segera menganti pampers Ralin, setelah selesai menganti pampers Ralin kini Ralin langsung berhenti menangis.


Rehan langsung memberikan Ralin pada Ayu, lalu Ayu langsung menyusui Ralin agar kembali tertidur.


"Untung punya suami yang bisa diajak kerja sama." rasa syukur dalam hatinya Ayu.


Ralin kembali tertidur, Ayu juga ikut tertidur sedangkan Rehan memperhatikan kedua wanita yang gini menghiasi hidupnya, Rehan tersenyum lalu mengusap rambut Ayu dengan tangannya.


"Terimakasih Istriku, sudah mau melahirkan Anakku." Kata hati Rehan yang penuh rasa syukur.


Pagi hari kemudian, Ana dan Anak-anaknya sudah rapi kini mereka sudah berada diruang tengah, sedangkan Ayu dan Rehan masih kamar karena Rehan juga hari ini izin cutti kerja jadi Rehan masih sibuk dikamar dengan urusannya.


Rama yang baru keluar dari kamar, langsung menyapa Ana yang sedang duduk di sofa ruang tengah.


"Sayang, Aku berangkat kerja dulu ya." pamit Rama sambil mencium kening Ana.


"Kamu tidak sarapan dulu?" tanya Ana dengan nada lembut.


"Nanti saja dikantor, oh iya Mami sama Papi mana?" tanya Rama yang tidak melihat Papi dan Maminya.


"Mereka masih dikamar." jawab Ana.


Rama langsung berlalu pergi meninggalkan Ana untuk berangkat ke kantor, kini Rama berangkat dengan Bagas.


Dirumah Rian dan Via.


Via sedang merawat Anaknya yang sedang sakit, dari semalam badan Vano panas, Via juga sudah mengopresnya, namun panasnya belum turun juga.


Rian terus melihat Istrinya yang terlihat cemas melihat keadaan Vano, Rian langsung mendekati Via, lalu dengan suara lembut Rian bertanya kepada Via.


"Kita bawa Vano, kerumah sakit saja ya sayang!" kata Rian dengan nada lembut.


"Tunggu dulu, kalau sampai nanti panasnya bel juga turun baru dibawa kerumah sakit." jawab Via, dengan penuh harapan panasnya Vano segera turun.


Via terus tidur disamping Vano, bahkan Via belum makan apapun dari semalam karena terus memikirkan Anaknya yang sedang sakit.


Rian pergi keluar untuk membeli sesuatu, setelah beberapa lama akhirnya Rian pulang dengan membawa bubur ayam untuk sarapan dirinya dan Istrinya.


"Sayang, Kamu sarapan dulu!" pinta Rian.


"Aku belum lapar, Aku juga tidak ingin makan melihat Vano sedang sakit." jawab Via.


Namanya seorang Ibu, kalau Anaknya sedang sakit kadang boro-boro mau makan, hati dan pikiran saja kadang tidak tenang.


Akhirnya mau tidak mau Rian bicara dengan suara agak membentak pada Via.


"Makanlah, kalau Kamu tidak mau makan bagaimana bisa Kamu menjaga Anak kita yang sedang sakit." bentak Rian karena memang sedikit kesal dengan Via.


Via hanya terdiam.


Karena tidak mau sampai berdebat, akhirnya Via menuruti kata suaminya untuk makan, Via langsung memakan bubur ayam yang dibeli oleh Rian, sedangkan Rian bergantian menjaga Vano.


"Maaf ya Nak, Mamamu bandel tidak mau makan jadi Papa bentak." Rian meminta maaf pada Vano.


Selama ini Rian tidak pernah membentak Via, karena Rian adalah tipe laki-laki yang begitu penyayang, namun hari ini pertama kalinya Rian membentak Via, hanya karena Via tidak mau makan, tapi itu semua juga untuk kebaikan Via.


Jam menunjukkan pukul 7 pagi, Rehan sedang menjemur Anaknya dihalaman depan rumahnya sedangkan Ayu masih dikamar karena perutnya masih agak nyeri, jadi Rehan menyuruhnya untuk Istirahat saja agar cepat pulih.


Hari ini Rehan menjemur Baby Ralin ditemenin sama Ana dan Mami Diana, Alena yang sedang duduk dikursi depan rumahnya, akhirnya langsung menghampiri Rehan.


Alena sambil menggendong Kenan, langsung menuju Kerumah Rama, sesampainya di sana Alena langsung meledek Rehan.


"Pak, Istrinya mana?" ledek Alena dengan senyum jailnya.


"Ehh Ibu Alena, istri Saya sedang rebahan Bu dikamar." Rehan juga menjawab dengan ledekan.


Ana yang sedang duduk, langsung ikut menimpali candaan Rehan dan Alena.


"Len, Rehan sedang menjadi Suami siaga." timpal Ana yang diiringi dengan tawa kecilnya.


Alena langsung tertawa, lalu terdiam karena tiba-tiba ingat dulu waktu Bagas juga menjadi Suami siaga.


"Jadi ingat sama Bagas, dulu Dia juga suami siaga banget." gumam Alena.


"Maklum Na, Papa muda." sambung Alena sambil berjalan menuju ke tempat Ana duduk.


Alena yang melihat Mami Diana sedang memangku Kevin, Alena langsung menyapa Mami Diana.


"Tante, apa kabar." sapa Alena sambil menanyakan kabar Mami Diana.


"Iya Sayang, Tante kabarnya baik Nak." jawab Mami Diana yang diiringi senyum.


"Kak Lena, Kak Ana, Kita kan sudah punya Anak semua nih, coba kalau Bapak-bapak yang jagain Anak-anak terus Istri-istrinya pergi belanja ke mall, kalian setuju tidak?" tanya Rehan pada Ana dan Alena.


Alena dan Ana saling melempar senyum penuh kemenangan.


"Re, dengan senang Aku setuju." jawab Alena.


"Aku juga setuju, tapi kalau Anak-anak Kita rewel gimana?" jawab Ana sambil balik bertanya.


"Tenang saja Kak, tidak akan rewel." Rehan berusaha menyakinkan Ana.


Bayangkan saja jika Ke empat Bapak-bapak tampan itu jagain Anak-anak mereka dan Istri-istri mereka pergi berlanja ke mall, pasti akan seru.


Alena senyum-senyum sendiri.


"Aku shopping ngabisin duit, terus Bagas dirumah ngurusin Kenan." gumam Alena sambil membayangkan pasti akan lucu jika ini sampai terjadi.


Ana hanya menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak tahu, bagaimana nanti Rama mengurus kedua Anaknya sedangkan Dia saja pikirannya bikin Anak doang." gumam Ana yang tidak percaya jika suaminya menjaga kedua Anaknya.


Hari mulai siang, akhirnya Rehan dan yang lain langsung masuk ke dalam rumah, Alena juga ikut ke rumah Ana. karena dirumah juga sendirian dan merasa kesepian.


Rehan langsung membawa Ralin ke kamarnya, Mami Diana memberikan Ralin pada Papi Revan yang sedang duduk menonton televisi, sedangkan Mami Diana langsung ikut masuk ke kamar Rehan untuk membantu memandikan Ralin karena Ayu masih belum boleh banyak gerak.


"Cucu Kakek ada tiga, Kamu adalah jagoan Kakek nanti kalau sudah besar jagain Kak Niah dan Adik Ralin ya sayang." kata Papi Revan sambil menciumi pipi Kevin.


Biarpun Kevin bukan cucu kandungnya, namun Papi Revan dan Mami Diana tidak pernah membedakan, kasih sayang yang mereka berikan sama seperti yang diberikan pada Raniah dan Ralinsyah.


Ana dan Alena hanya tersenyum, lalu Alena berkata pada Ana.


"Senang ya Na, punya mertua yang sangat menyayangimu dan Anak-anakmu." Kata Alena sambil melihat kearah Ana.


"Iya Allahamdulillah Len, mungkin ini adalah penganti kedua orangtuaku yang sudah tidak ada." jawab Ana yang diiringi dengan senyum manisnya.


Ana adalah gadis miskin yang sangat beruntung, diterima oleh keluarga kaya raya, disayang sama suami, bahkan kedua mertuanya pun sangat menyayanginya.


Bersambung 🙏


Terimakasih para pembaca setia 😊


Baca juga ya karya-karya teman-teman Author